suplemenGKI.com

RABU, 1 OKTOBER 2014

30/09/2014

Keluaran 20:4-6

ALLAH YANG CEMBURU

 

Pengantar
Seorang motivator berpendapat demikian, “cemburu itu tanda bahwa cintamu kuat. Tapi, pastikanlah bahwa dia pantas kau cemburui”.  Saya setuju dengan pendapat tersebut, sebab kepantasan menegaskan ada tidaknya hubungan sehingga rasa cemburu itu layak diterima.  Bagaimana dengan relasi Allah-manusia, apakah Allah berhak cemburu?  Dan apakah manusia pantas dicemburui?

Pemahaman
Ayat 4:  Apa yang Allah mau umatNya lakukan?
Ayat 5:  Karakter Allah yang bagaimana yang dinyatakan di ayat ini?
Ayat 6:  Bagaimana respons Allah kepada mereka yang mentaati perintahNya?

Frasa  “pastikanlah bahwa dia pantas kau cemburui” menjadi poin penting dalam memahami makna cemburu, khususnya dalam konteks hubungan Allah dan manusia (Israel).  Bila dilihat dari sisi pelanggaran dan dosa yang dilakukan, jelas Israel tidak layak dicemburui.  Pantasnya dibuang dan dilupakan.  Tetapi bila dilihat dari ada tidaknya relasi, maka sikap Israel layak dicemburui.  Artinya, cemburu itu sah bila dibangun di atas kejelasan hubungan.  Dalam konteks inilah, maka cemburunya Allah bisa diterima.  Cemburunya  Allah bukan buta.  Allah punya alasan mendasar mengapa Ia cemburu, yaitu kepastian relasi atau hubungan antara Allah dan umatNya.  Kepastian hubungan ini berulang kali ditegaskan dalam bacaan, seperti “Akulah TUHAN, Allahmu . . .sebab Aku, TUHAN, Allahmu . . .jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu . . .hari Sabat TUHAN, Allahmu” (ayat 2, 5, 7 dan 10).

Israel dan orang percaya adalah milik Allah, sebab kita adalah umatNya.  Maka Allah berhak cemburu, terutama bila tidak ada keutamaan hati yang mengarah pada Allah.  Yang kedua, Allah cemburu sebab Ia tahu akan menjadi apa kita bila tanpa Dia.  Dengan tegas dikatakan, “jangan ada padamu allah lain . . .jangan membuat bagimu patung . . .jangan sujud”, sebab Allah tahu bahwa semua itu tidak bisa diandalkan manusia.  Mereka hanyalah buatan manusia yang tidak hidup dan tidak mampu menolong manusia.  Beda dengan yang telah dilakukan Allah atas umatNya (ayat 2).  Atas dasar inilah, Allah cemburu supaya manusia sadar kesalahannya dan berbalik kepada Allah.  Sebaliknya, bagi mereka yang  mau “berpegang pada perintah-perintahKu”, Ia “menunjukkan” kasih setiaNya.  Jadi apakah manusia layak dicemburui?  Jawabanya, “iya”!  Kecemburuan Allah menjadi tanda betapa Ia masih mengasihi manusia.  KecemburuanNya  menunjukkan betapa Allah peduli dengan pertumbuhan dan kebaikan manusia.

Refleksi
Allah cemburu karena Ia menginginkan hidupku senantiasa mengarah pada hatiNya.

Tekadku
Aku bertekad menjaga hidupku.

Tindakanku
Aku akan mewujudkan tekadku dengan cara melakukan yang benar sesuai perintahNya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*