suplemenGKI.com

Kamis, 21 Maret 2013

Filipi 2:5-8

Pengantar
Di jaman ini tidak sedikit orang berebut kekuasaan. Banyak orang ingin menaikkan statusnya dari rakyat menjadi pejabat dan pemimpin yang memiliki banyak kuasa. Siapa sih yang tidak ingin naik status? Bukankah membanggakan apabila kita punya status yang dihormati banyak orang? Apakah Saudara ingin naik status atau turun status? Tidak ada yang melarang orang untuk meningkatkan statusnya menjadi terhormat, namun akan menjadi persoalan apabila dalam rangka meningkatkan status kemudian orang saling menjegal. Apakah kehidupan seperti ini ada dalam keluarga atau persekutuan jemaat TUHAN? Mari kita merenungkannya!

Pemahaman
• Ayat 5 : Mengapakah jemaat dinasihati untuk memiliki pikiran dan perasaan seperti KRISTUS?
• Ayat 6-8: Sikap seperti apakah yang sesuai dengan pikiran dan perasaan KRISTUS?

Nasihat dalam bacaan ini ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat Filipi sebab ada potensi konflik dan perpecahan dalam kehidupan jemaat Filipi. Ada dua tokoh penting yang berperan dalam pendirian jemaat Filipi yaitu Euodia dan Sintikhe ( 4:2-3). Bagi Paulus, bila keduanya tidak mau sehati dan sepikir di dalam TUHAN dan tidak mau saling merendahkan diri seperti KRISTUS, maka jemaat bisa terancam perpecahan. Dalam nasihatnya ini Paulus menekankan agar jemaat memiliki pikiran dan perasaan seperti KRISTUS yang menjalani hidup sebagai hamba yang mengosongkan diri.

Dalam nasihatnya ini, Paulus menyebut YESUS dengan gelar KRISTUS atau MESIAS, artinya yang dipilih dan diurapi oleh ALLAH sendiri. YESUS memiliki rupa ALLAH dan setara dengan ALLAH, namun status yang sangat tinggi ini ditinggalkan-Nya. YESUS merendahkan diri, mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia bahkan taat sampai mati di kayu salib. Ini adalah tindakan mengosongkan diri (kenosis) yaitu tindakan perendahan diri yang serendah-rendahnya yang membuat seseorang nyaris menjadi bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa lagi. Dalam sikap ini terpancarkan pikiran dan perasaan KRISTUS; jiwa KRISTUS. Jadi pikiran dan perasaan atau jiwa KRISTUS dipenuhi oleh kerendahan hati.

Sikap KRISTUS ini sangat berbeda dengan apa yang dikejar orang pada umumnya. Pada umumnya orang ingin naik status. Mereka ingin memiliki status terhormat, termulia dan yang paling berkuasa. Namun justru KRISTUS meninggalkan status mulianya, dan memilih turun status.

Apabila dalam hidup persekutuan jemaat TUHAN, orang Kristen mengosongkan diri, tidak berebut untuk mendapatkan status tinggi: terhormat dan termulia melainkan mau mengosongkan diri dengan saling merendah maka kerukunan, persatuan dan damai sejahtera akan dialami. Mengosongkan diri berarti siap turun status; tidak mengejar kekuasaan dan kemuliaan diri sendiri. Sebaliknya apabila setiap orang berebut menaikkan status, berebut kekuasaan dan kemuliaan maka justru akan saling menghancurkan, saling menyingkirkan dan saling menjegal. Tentu ini akan merusak kehidupan persekutuan.

Refleksi
Dalam keheningan, renungkanlah: apakah saya termasuk orang yang cenderung ingin menaikkan status sehingga tak segan menyingkirkan dan melukai orang lain ataukah dengan mudah mengosongkan diri dari kepentingan mencari penghormatan bagi diri sendiri?

Tekadku
TUHAN tolongkah agar aku berani mengosongkan diri; berani “turun status”.

Tindakanku
Mulai hari ini aku akan menunjukkan sikap perendahan diri dalam berpikir, berkata-kata dan bertindak. Aku akan belajar untuk memandang orang lain dengan penuh cinta kasih dan penghargaan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*