suplemenGKI.com

PERNAK PERNIK KELUARGA

Membina Keluarga yang Harmonis

 

Keluarga Bapak Willy Purwosuwito

Keluarga adalah unsur terkecil, sekaligus pilar dari sebuah negara. Tidak berlebihan pula jika keluarga disebut sebagai pilar sebuah gereja. Bagaimana keluarga Kristen dibentuk, dibangun, dan dibina tentu turut memengaruhi pertumbuhan keluarga besar gereja.

“Kalau keluarga-keluarga harmonis, paling tidak komunitas gereja juga harmonis. Keluarga yang harmonis ini akan mengejawantahkan citra harmonis dalam pekerjaan, usaha dan masyarakat. Idealnya akan memberi andil kepada kehidupan berbangsa”. Willy Purwosuwito  memaparkan kepada Majalah Berkat.

 

Kembali pada Masterplan

Bicara tentang keluarga Kristen, tentu tidak bisa sembarangan. Keluarga Kristen bukan dibentuk karena cinta buta atau coba-coba dulu melalui nikah kontrak. Keluarga Kristen dibentuk karena Tuhan memang punya panggilan khusus untuk setiap keluarga. “Keluarga diciptakan oleh Allah dari dua insan yang unik, berbeda kodratnya tetapi dengan suatu tujuan ilahi (Divine purpose) untuk menjadi satu. Kesatuan dalam perbedaan yang saling mengasihi dalam interaksi dan inter-relasinya. Karena itu keduanya tidak pernah berhenti dari proses belajar untuk mengerti pasangannya,” papar Willy.

Selain mengemban tujuan ilahi, manusia juga adalah Imago Dei, dicipta segambar dan serupa dengan Allah. Kalau Allah memiliki sifat ‘kasih setia’, maka kasih setia itu juga harus dipancarkan dalam kehidupan pasangan suami istri (pasutri). Artinya tidak cukup dengan unsur mengasihi, tetapi juga harus setia.

Manusia memang cenderung berubah, dan orang percaya tentu harus berubah menjadi lebih baik. “Dalam konteks keluarga yaitu bertumbuh ke arah yang lebih baik untuk memuliakan Tuhan,” ujar bapak tiga putri ini.  Keduanya harus memiliki komitmen  bersekutu dengan Tuhan untuk meminta pimpinan Tuhan dalam kehidupan keluarga.  Suami-istri harus menjadi teladan keharmonisan bagi anak-anak. Dengan demikian keluarga yang harmonis akan berfungsi sebagai garam dan terang bagi sekitarnya, sekaligus memberkatinya.

 

Tantangan akan selalu ada

Harus diakui, kemajuan teknologi mendorong peningkatan kebutuhan orang. Contohnya handphone, laptop bahkan motor adalah target kebutuhan yang diutamakan.  Situasi zaman postmodern ini memicu orang untuk mengejar materi  yang dikaitkan dengan waktu sehingga motonya “time is money”. Berangkat dari filosofi ini manusia makin materialistis dan individualis. Jadi betul kalau dalam 1 Timotius 6:10a dituliskan:  Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang”. Uangnya sendiri netral, artinya tidak baik dan tidak jahat. Tergantung bagaimana kita menyikapi dan memakainya.

Sekarang ini muncul akronim yang menggambarkan etos kerja yang tidak efektif sebagai P7: Pergi pagi pulang petang, pendapatan pas-pasan. Yang terakhir ini mengenai masalah uang lagi. Akibat situasi semacam ini, tidak ada waktu lagi untuk dialog atau ngobrol antar pasutri, ortu dengan anak-anak. Yang terjadi sekarang hanya obrolan seperlunya, lalu masing-masing masuk ke kamar.  Kondisi ini memicu anggota keluarga makin mementingkan diri sendiri. Padahal anggota keluarga itu unik, tidak ada satupun yang sama. Jadi, mestinya sebuah keakraban dan kebersamaan mutlak diperlukan. Tentu semuanya berdasarkan kesepakatan yang mengalir bukan dirancang secara kaku.

Keharmonisan dimungkinkan kalau keluarga bisa bercanda, berbagi pengalaman keseharian.  Dari situ mereka belajar mendengarkan dan memahami satu dengan yang lain. Ini kunci penyesuaian untuk saling mengerti dan kemudian saling menghargai.

 

Ada kalanya masalah menjadi makin besar

Kalau komunikasi tidak terjalin dengan baik, lalu masing-masing kukuh dengan egonya, bisa-bisa keluarga tidak lagi menjadi sebuah komunitas yang harmonis. Kalau terus dibiarkan, masalah akan melebar dan bertambah besar, krisis ada di depan mata. Anggota keluarga jadi saling menjauhi, tidak lagi berkomunikasi dengan santun dan lembut. Lebih fatal lagi kalau menjauh dari kasih karunia Allah. Dua hal ini memicu timbulnya rasa hampa yang berakhir dengan kepahitan. Akar pahit yang tidak segera ditangani akan menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. (Ibrani 12:15). “Ada baiknya pasutri segera berkonsultasi pada rohaniwan atau konselor, kalau upaya berdua menyelesaikan masalah kurang berhasil. Efek fatal yang ditimbulkan kalau pasutri bertengkar di depan anak-anak. Lebih ekstrem kalau keduanya mengatakan sudah tidak cocok dan lebih baik berpisah. Nah, ini kata-kata tabu yang tidak ada dalam kamus keluarga harmonis,” kata Willy.

 

Way through bukan wayout

Lalu bagaimana supaya masalah tidak melebar, dan bisa diselesaikan? “Kembali pada fokus masalah dan jangan melebar kepada masalah lain. Tidak mengungkit persoalan masa lalu dan tidak menuduh pihak lain. Hindarkan memakai kata “selalu” waktu menyatakan perasaan kepada pihak lain. Jangan biarkan beda pendapat menjadi bahan perdebatan yang berkelanjutan,” kata Willy yang sudah mengarungi bahtera rumah tangga selama 39 tahun ini. Karena itu, menurut Pemimpin Redaksi Majalah Berkat ini, kunci harmonisasi adalah “give and take”, sebagai proses pembelajaran yang tidak pernah selesai. Perselisihan, percekcokan harus segera diakhiri seperti dalam Efesus 4:26a: “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa, janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu  “Nah, ayat ini sekaligus mengingatkan orang yang suka memaki-maki kalau sedang marah. Hati-hati lho. Ini seperti bensin yang siap tersulut dengan api kemarahan. Lebih baik cari air kedamaian supaya segera padam yaitu dengan berdoa, minta Tuhan memberi kemampuan untuk penguasaan diri masing-masing,” ujar Willy mengingatkan.

Keterbukaan juga menjadi langkah penyelesaian masalah. “Kita harus terbuka menyampaikan perasaan. Perasaan itu netral, asal tidak disertai emosi dan tuduhan kepada anggota keluarga. Fokuskan pada masalahnya, bukan pada orangnya. Pahami perasaan pihak lain, temukan solusi yang berimbang (win win solution). Katakanlah maaf bila ada kekeliruan. Lalu nyatakan bahwa masalah sudah selesai di situ disertai salah satu bahasa badan (body language) yang bermacam-macam sebagai tanda kasih. Mungkin dengan kata verbal jauh lebih baik,” papar Willy.

Selain langkah-langkah tadi, tentu Firman Tuhan adalah dasar utama dalam sebuah keluarga. “Kembali ke Firman Tuhan, bukan kembali ke laptop, he he he. . . Laptop boleh-boleh saja, asal yang dibuka ya Firman Tuhan tentang konseling, rubrik rumah tangga Kristen,” kata Willy. Kebiasaan kembali pada Firman Tuhan ini, menurut Willy akan menciptakan keseimbangan yang dinamis antara keluarga, pekerjaan dan pelayanan. ”Jangan menjadikan fokus pelayanan sebagai satu-satunya panggilan. Membina keluarga itu panggilan dari sononya, artinya apa makna pernikahan Kristen menurut Firman Tuhan. Itu prioritas utama. Sungguh ironis jika pelayanan di gereja hebat, tapi keluarga rapuh. Atau pekerjaannya sukses, tapi keluarga berantakan. Karena itu harus ada keseimbangan yang dinamis”.  (desy yoanita)


Tips menjaga hubungan pasutri dan keluarga:  1.	Mencari hobi yang sama seperti menanam bunga dan tanaman  2.	Menikmati musik oldiest th 60-an bersama  3.	Menikmati makanan yang sama-sama disukai  4.	Menikmati liburan di pelbagai tempat wisata yang romantis dan berkesan   5.	Merayakan HUT tiap anggota keluarga   6.	Meningkatkan wawasan dengan mengikuti seminar pasutri

Sumber : Majalah Berkat Tahun XXI Edisi No. 83, hlm 12-13
Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Next Post
»