suplemenGKI.com

PERJAMUAN KUDUS

04/02/2008

Perjamuan Kudus - GKI Residen Sudirman

Di bulan Juli ini kita merayakan perjamuan kudus. Apakah Saudara punya pertanyaan-pertanyaan seputar perjamuan kudus? Dalam tulisan ini disajikan dialog sekitar misteri perjamuan kudus. Ambil dan bacalah!

Apakah makna perjamuan kudus? Mengapa kita merayakannya?

Perjamuan kudus merupakan salah satu bentuk sakramen yang kita rayakan.

Ini berarti perjamuan kudus berbicara tentang misteri keselamatan. Dengan kata lain, perjamuan kudus adalah tanda dan meterai keselamatan yang mempersatukan orang percaya dengan tubuh dan darah KRISTUS. Ketika kita mengambil bagian dalam perjamuan kudus, Roh Kudus menolong kita sehingga dipersatukan dalam Kristus menjadi satu tubuh dan satu roh, dan menjadi persembahan yang hidup bagi Allah. Kita merayakan perjamuan kudus sebab Tuhan Yesus Kristus sendirilah yang menetapkannya dan mengundang kita untuk melakukannya. Sesuai dengan Lukas 22:14-20 dan I Korintus 11-23-26, saat merayakan perjamuan kudus berarti kita:

· Memperingati, dan memberitakan kematian KRISTUS; mensyukuri karya keselamatan Kristus melalui pengorbanan tubuh dan darah-Nya juga merayakan kebangkitan-Nya.

· Menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali. Kita berpengharapan

pada perjamuan kawin Anak Domba, saat kita duduk makan dan minum

bersama Kristus di hari akhir kelak.

Jika begitu penting arti perjamuan kudus, saya ingin setiap saat melakukan perjamuan kudus. Bolehkah saya melakukannya sendiri di rumah?

Dalam sejarahnya, perjamuan kudus mula-mula dipimpin oleh mereka yang diakui sebagai pemimpin yaitu rasul-rasul, bapa-bapa gereja/uskup-uskup dan selanjutnya diwariskan kepada pemimpin-pemimpin yang diurapi/ditahbiskan sampai sekarang. Jadi ketentuan yang berlaku sekarang adalah bahwa perjamuan kudus diselenggarakan di bawah tanggungjawab majelis jemaat. Gerejalah yang bertanggungjawab untuk menyelenggarakan perjamuan kudus. Dengan demikian sekalipun anggota jemaat bisa membeli roti dan anggur sendiri namun tidak boleh mengadakan perjamuan kudus sendiri. Pelayanan perjamuan kudus harus dilakukan di tengah dan di dalam kebaktian jemaat. Tidak ada alasan untuk menyelenggarakannya di luar kebaktian jemaat kecuali bagi mereka yang tidak mungkin mengikutinya karena alasan-alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Sekalipun dalam kondisi khusus penyelenggaraan perjamuan kudus bisa dilakukan di tempat-tempat lain (misalnya di penjara, rumah sakit, persidangan gerejawi, dan sebagainya) penyelenggaranya tetap majelis jemaat yang ditunjuk untuk itu. Dengan demikian, perjamuan kudus yang diselenggarakan bukan oleh majelis jemaat, meskipun dilayani oleh seorang yang menamakan diri pendeta, tidak dapat dibenarkan.

Apakah kehadiran Kristus dalam perjamuan kudus lebih dari hari-hari biasa?

Mengenai kehadiran Kristus dalam perjamuan kudus, ada beberapa pandangan , yaitu:

· Transubstansiasi

Menurut pandangan ini, roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Karena itu Kristus dianggap benar-benar hadir secara nyata sehingga kehadiran Kristus dalam perjamuan kudus melebihi kehadiran-Nya dalam hidup sehari-hari. Pandangan ini dianut gereja Roma Katolik

· Consubstansiasi

Menurut pandangan ini, roti dan anggur tidak berubah menjadi tubuh dan darah Kristus, tetapi YESUS hadir di dalam dan bersama-sama roti dan anggur tersebut. Jadi dapat dikatakan YESUS menumpangi roti dan anggur dan berada bersama-sama. Ajaran ini dianut oleh gereja Lutheran. Dengan demikian prinsip ajaran ini sama dengan Roma Katolik yaitu kehadiran YESUS dalam perjamuan kudus melebihi kehadiranNya dalam hidup sehari-hari.

· Pandangan Zwingli

Menurut Zwingli, dalam perjamuan kudus, YESUS hadir secara rohani sehingga pada prinsipnya sama dengan di atas, yaitu kehadiran YESUS dalam perjamuan kudus melebihi kehadiran-Nya dalam hidup sehari-hari.

GKI menganut pandangan yang mana?

Kita memahami bahwa kehadiran YESUS dalam perjamuan kudus sama dengan kehadiran-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Lihatlah Matious 28:20 : YESUS senantiasa hadir. Roma 8:35: kita tak dapat dipisahkan dari YESUS oleh siapa pun; Efesus 3:17: YESUS hadir dalam hati kita.

Roti dan anggur adalah alat keselamatan bukan penyebab persekutuan. Hanya kehadiran YESUS-lah yang menyebabkan adanya persekutuan sehingga kehadiran YESUS tidak pernah membeda-bedakan entah itu perjamuan kudus ataukah kehidupan sehari-hari.

Jika demikian, bagaimanakah kita memandang roti dan anggur perjamuan kudus? Apakah roti dan anggur merupakan benda sakral yang membawa khasiat menyembuhkan penyakit? Jika memang iya, bolehkan saya membawa roti dan anggur pulang ke rumah untuk menyembuhkan anggota keluarga saya yang sedang sakit?

Roti dan anggur perjamuan kudus adalah tanda dan meterai dari tubuh dan darah Kristus yang dikurbankan di kayu salib untuk pengampunan dosa. Roti dan anggur itu selama dan sesudah perjamuan tetap adalah makanan biasa dan tidak pernah menjadi benda-benda yang mengandung kuasa/khasiat. Dengan perjamuan kudus, jemaat diajak untuk menerima kenyataan bahwa Kristus mau berdiam di dalam dan menjadi bagian dari kehidupan kita, bukan berdiam dalam roti dan anggur itu. Jadi membawa roti dan anggur perjamuan ke rumah dengan anggapan bahwa benda-benda itu mempunyai khasiat untuk menyembuhkan penyakit dan sebagainya, tidak dapat dibenarkan, karena berdasarkan pengertian yang salah tentang arti dan maksud perjamuan kudus.

Apakah itu berarti perjamuan kudus harus diterima dengan pemahaman iman yang benar? Bagaimanakah dengan anak-anak atau orang yang sedang dalam kondisi tidak sadarkan diri, bolehkah mereka mengambil bagian dalam perjamuan kudus?

Ya, benar, perjamuan kudus harus dirayakan dengan penuh syukur dalam pemahaman iman yang benar. Dengan demikian anak-anak yang tentunya belum mampu mengerti makna perjamuan kudus tidak diperkenankan ikut perjamuan, demikian pula orang yang dalam kondisi tidak sadarkan diri. Mereka tidak memahami atau tidak menyadari apa yang sedang mereka lakukan, jadi tidak diperkenankan mengikuti perjamuan kudus. Harus diingat, bahwa sebelum mengikuti perjamuan kudus, kita perlu melakukan pemeriksaan diri (sensura morum), menyiapkan hati , pikiran dan hidup kita.

Bagaimana kalau orang tua membawa anaknya mengikuti perjamuan kudus, lalu si anak minta roti dan anggur perjamuan?

Tentu jikalau si orang tua tersebut memahami makna perjamuan kduus dengan benar, dia akan mengambil sikap yang bijak untuk tidak menuruti keinginan anaknya.

Tentang persiapan diri sebelum perjamuan kudus (sensura morum), pentingkah itu?

Lihatlah I Kor 11:27,29. Rasul Paulus sangat menekankan pentingnya mempersiapkan diri sebelum mengikuti perjamuan kudus, agar kita dapat dengan penuh iman menghayati kembali makna perjamuan kudus dan tidak melakukan perjamuan dengan motivasi dan cara yang salah.

Apa saja yang kita lakukan dalam persiapan perjamuan kudus?

· Merenungkan dosa

Artinya kita memeriksa diri, apakah ada dosa-dosa yang kita simpan di dalam diri? Jika kita masih menyimpan dosa maka kita tidak layak mengikuti perjamuan. Karena itu dosa perlu disadari dan diakui. Pemeriksaan diri harus bertolak dari rasa tidak layak. Setelah kita mengaku dosa, kita mohon pengampunan dari TUHAN dan percaya bahwa TUHAN mengampuni.

· Kesungguhan ingin hidup baru

Untuk menunjukkan bahwa kita bertobat, maka harus benar-benar ada kesungguhan hati untuk memasuki hidup baru yang memuliakan TUHAN; membereskan hubungan dengan TUHAN dan dengan orang-orang di sekitar kita. Itulah yang kita lakukan dalam persiapan memasuki perjamuan kudus.

Sambutlah setiap undangan perjamuan kudus dengan penuh iman dan syukur.

Sumber : Ambil dan Bacalah edisi ke-4 Juli 2007, Departemen Pengajaran.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

13 Comments for this entry

  • Christ says:

    Mengapa dalam perjamuan kudus, harus roti yang duluan di makan kemudian baru anggur, kenapa tidak sebaliknya. Apakah hal ini ada maknanya atau tidak ?

    JBU

  • Lukas says:

    Christ, dalam Perjamuan Terakhir yang dari sana sakramen ini diadopsi berdasarkan perintah Tuhan Yesus sendiri, Tuhan Yesus memang mengambil dan memecah-mecahkan roti terlebih dahulu.

    Demikian pemahaman saya tentang hal ini. Tentang makna atau sesuatu yang sifatnya lebih mendalam, saya kurang tahu…
    Semoga dapat membantu. Tuhan memberkati…

  • Amrozi says:

    Sudah 4 tahun lebih saya tidak pergi ke Gereja. why ? Gara-gara di Gereja saya ada perjamuan Kudus Anak.
    Menurut pandangan saya pribadi, sangat aneh anak-anak boleh ikut Perjamuan Kudus.
    Kalau anak-anak boleh ikut Perjamuan Kudus. Lalu apakah anak-anak ini mengerti arti dari Perjamuan Kudus ?
    Saya sangat-sangat setuju dengan perkataan anda yang ini :
    Ya, benar, perjamuan kudus harus dirayakan dengan penuh syukur dalam pemahaman iman yang benar. Dengan demikian anak-anak yang tentunya belum mampu mengerti makna perjamuan kudus tidak diperkenankan ikut perjamuan, demikian pula orang yang dalam kondisi tidak sadarkan diri. Mereka tidak memahami atau tidak menyadari apa yang sedang mereka lakukan, jadi tidak diperkenankan mengikuti perjamuan kudus. Harus diingat, bahwa sebelum mengikuti perjamuan kudus, kita perlu melakukan pemeriksaan diri (sensura morum), menyiapkan hati , pikiran dan hidup kita.
    Tuhan Memberkati. Terima Kasih.

  • arie says:

    hsalo0m.. > ad kah ayat ttg, boleh/tdk nya anak kecil menerima(makan&minum roti/anggur)?? bkn kah penekanan Yesus ttg Perjamuan Kudus untuk smua kita manusia,yg prcaya tntunya

    thks bfore,JB us

  • arie says:

    sedangkan Tuhan yesus berkata dalam 1 korintus 11:29-30 Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal.

  • Maryo says:

    Bagi saya. Perjamuan kudus merupakan sebuah sakramen. pengadopsian oleh gereja di Indonesia dan Juga Barat. Pada Konteks Yesus Makan dan Minum memang dengan orang Besar yakni para murid. Dengan demikian sehingga gereja memahami semua ini untuk orang dewasa.Soal benar atau salah saya tidak bisa mengatakan dengan pasti. Jawaban benar atau salah pada konsep ini sangat subjektif sebab kita memiliki budaya dan konteks yang berbeda dalam memahami.segala sesuatu ada waktunya, anak kecil bukan tidak boleh makan dan minum tetapi pemaknaan di balik ini apakah anak kecil paham ? kalau hannya anak kecil sekedar datang makan dan minum setelah itu selesai kan juga hambar. Terimakasih

  • kaleb says:

    Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kataNya: “Inilah tubuhKu yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” >Luk.22:19.

    naaah jika anak2 ikut perjamuan kudus dan diperintah sprti itu, maka blm tentu dia mengerti, menghayati, dan melakukan dlm hidupnya.
    itu pemahamannya….jd bkn tdk boleh.

  • kaleb says:

    …….jd bknnya anak2 tdk boleh, tp anak2 blm bs menghayati arti Perjamuan Kudus sehingga blm diperbolehkan
    mengikuti Perjamuan Kudus

  • antonius says:

    bagaimana kalo ada 1 agama yng menggampangkan segala sesuatu.
    1.syarat dapat ikut perjamuan kudus itu dibaptis (benar atau salah)?

    jadi saya mau tanya bagaimana menyikapi bila ada 1 agama kristen tidak begitu teliti dalam melakukan suatu perjamuan kudus.maksudnya mereka tidak memperhatikan mana umatnya yang dapat menerima roti dan anggur yang mereka tau roti n anggur dibagikan dan acara dijalankan.

  • JOHAN says:

    SYALOM. Mohon pendapatnya jika seseorang yang sakit parah(sekarat…..keadaannya mnrt dokter kecil kemungkinan untuk bertahan hidup lebih lama lagi) tapi dalam keadaan sadar, lalu pihak keluarga meminta diadakan perjamuan kudus untuk yang sakit. Apakah perlu atau layak diadakan perjamuan kudus yang diadakan tersebut?

  • Dina says:

    numpang kasi pendapat ah..saya anggota jemaat GKP dan karenanya merasa seasas dengan GKI. Yang perlu dipertanyakan, perjamuan kudusnya untuk apa? Jika itu adalah untuk memberi penguatan iman pada dirinya dan keluarga, maka itu bisa dilakukan. Tentu saja tidak dadakan karena PK adalah sakramen dan mesti dirayakan dalam persekutuan sebagai TUbuh Kristus. Maka, hanya bisa dilakukan sebagai kelanjutan perayaan kebangkitan dalam kebaktian minggu di gereja. Maka, PK di rumah-rumah atau di rumah-rumah sakit, jika di GKP dilakukan sebagai kelanjutan PK yang sudah dilakukan di gereja. Tapi, ini lain halnya dengan alasan bahwa ingin ada PK untuk “menyelamatkan” orang itu. Keselamatan menurut GKP tidak lahir dari roti dan anggur melainkan dari iman yang ada di dalam hati. Maka, jika si sakit punya iman yang besar dan bertumbuh, tidak ada keraguan sedikitpun bahwa dia sudah selamat dan berjalan dalam proses keselamatan itu sendiri. Terimakasih

  • benny says:

    arie 26/04/2011 :
    Shalom, adakah ayat ttg boleh/tdk nya anak kecil menerima (makan &minum roti/anggur )?…………dst.

    Tidak ada 1 ayatpun yg mengatakan hal tersebut, bahkan menurut saya ini “salah satu” ajaran dari Calvin yang salah.
    Doktrin Calvin ini sebenarnya kontra terhadap doktrin Anabaptis yang melarang/tidak mengakui “Baptisan Anak”.
    Jadi kalau alasan bahwa anak anak belum mengerti arti Perjamuan Kudus, itu adalah hal yang konyol.

  • PapaHame says:

    ikut urun rembug ya…
    ^_^

    bukankah baptisan itu menandakan bahwa orang (anak) yg dibaptis sudah menjadi anggota Kerajaan Allah?? Jika demikian…maka mengapa anak-anak (yg sudah dibaptis) tidak boleh ikut dalam Perjamuan?? Bukankah “pelarangan” tsb sama saja mengartikan bahwa hak anak-anak – yg sudah dibaptis – untuk menikmati anugerah keselamatan dibatasi?? Padahal, Perjamuan Kudus adalah undangan Tuhan untuk semua umatNya (para anggota Kerajaan Allah)… Siapakah manusia sehingga berwenang membatasi undangan Tuhan?? Masih ingatkah kita dengan kisah Tuhan Yesus yang justru membuka tangan dan menyambut anak-anak kecil yg datang kepadaNya, sementara para murid hendak mengusir anak-anak kecil tsb?? Bahkan, Tuhan Yesuspun berkenan mengendong anak-anak tsb dipangkuanNya…
    Masalah “belum bisa mengerti”…bukankah hal itu bisa dijelaskan dg bahasa yg mudah dipahami oleh anak2?? Jika si anak belum bisa mengerti..bukankah si anak – selama belum mengaku percaya secara mandiri/sidhi – masih berada dalam tanggung jawab orang tua?? dg kata lain, orang tua juga turut bertanggung jawab atas pemeliharaan keselamatan anak2nya…
    Adakah Gereja yang melaksanakan perjamuan kudus di mana anak-anak boleh ikut?? Ada…silahkan lihat di GKJ Dagen Palur, Karanganyar, Surakarta.
    Terima Kasih…

    {ngeyel/diskusi boleh tapi pake dasar teologis ya…jangan asal.. ^_^}

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Next Post
»