suplemenGKI.com

“Ambil dan Bacalah” Edisi ke-13 Bln April Tahun 2008
G K I R e s i d e n S u d i r m a n S u r a b a y a

wanita indonesia - gki ressud “Ibu kita Kartini pendekar bangsa, pendekar kaumnya untuk merdeka”. Sepenggal lirik lagu tersebut mengingatkan kita akan Ibu Kartini yang telah memperjuangkan kemerdekaan kaum perempuan Indonesia. Benarkah saat ini perempuan Indonesia telah merdeka? Adakah hubungan gereja dengan perjuangan kemerdekaan kaum perempuan? Simaklah dialog seorang remaja, sebut saja namanya Putri, dengan seorang pendeta berikut ini.

Ambil dan Bacalah!

Putri : “Bu Pendeta, kenapa Ibu Kartini memperjuangkan kemerdekaan kaum perempuan. Sebenarnya, siapakah yang menjajah perempuan ?”

Pendeta: “Di jaman itu, kaum perempuan tidak bebas bergerak, mereka tidak sekolah, hanya di rumah saja dan hidupnya tergantung pada lelaki. Perempuan diposisikan sebagai makhluk inferior yang perannya terbatas pada sektor domestik (rumah tangga), seperti digambarkan dalam ungkapan Jawa bahwa istri adalah ”kanca wingking” (teman di belakang), sedangkan laki-laki diposisikan sebagai makhluk superior yang berperan dalam sektor publik (masyarakat). Kegiatan istri adalah di belakang, di seputar dapur (memasak), sumur (mencuci) dan kasur (melayani kebutuhan biologis suami). Wilayah kerja ini kemudian dirangkai dengan tugas perempuan yaitu macak , (berdandan untuk menyenangkan suami), manak (melahirkan) dan masak (menyiapkan makanan bagi keluarga). Hal ini mengakibatkan sempitnya ruang gerak dan pemikiran perempuan sehingga perempuan tidak memiliki wawasan di luar tugas-tugas domestiknya. Akibatnya laki-laki dapat menguasai dan mengendalikan perempuan sesuai dengan kehendaknya. Semua kehendak suami harus dilaksanakan. Istri harus mau menerima apa pun perlakuan suaminya. Misalnya istri tidak layak menghalang-halangi kehendak suami, termasuk keinginan suami untuk menikah lagi. Istri harus rela dimadu. Perempuan tidak punya hak untuk mengambil keputusan termasuk yang menyangkut dirinya sendiri. Ini jelas sebuah penindasan laki-laki terhadap perempuan. Tidak mengherankan kalau kemudian berkembang ungkapan “swarga nunut neraka katut” (artinya masuk sorga atau neraka tergantung suaminya). Dari sini kita melihat laki-laki ditempatkan lebih tinggi dari perempuan. Penempatan perempuan di wilayah domestik membawa kesan bahwa pekerjaan di wilayah domestik lebih rendah daripada pekerjaan di wilayah publik karena tidak menghasilkan keuntungan materi. Sedangkan laki-laki mampu menghasilkan materi karena bekerja di wilayah publik. Akibatnya laki-laki “lebih berharga” dibandingkan perempuan dan karenanya ia menjadi penentu atau pengambil keputusan. Sementara itu perempuan tidak memiliki hak dalam pengambilan keputusan. Bahkan perempuan tidak punya hak untuk menentukan kebahagiaan dirinya sendiri. “

Putri : “Wah, kalau begitu saya bersyukur karena di jaman ini perempuan telah merdeka. “

Pendeta : “Ya, memang di jaman ini kondisi perempuan Indonesia jauh lebih baik daripada waktu itu. Itu berkat perjuangan Ibu Kartini. Waktu terus berjalan, jaman terus berkembang. Dalam perkembangan ini terjadilah perubahan sosial. Perubahan sosial yang meluas mempengaruhi interaksi keluarga dan relasi gender. Sedikit demi sedikit para perempuan mengetahui hak-haknya, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat, sebagaimana kaum lelaki.”

Putri : “Apakah pada jaman dulu perempuan tidak mengerti hak-haknya?

Pendeta :Ya, ketidakmengertian perempuan akan hak-haknya disebabkan oleh tidak adanya kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Hal ini mengakibatkan penindasan terhadap perempuan terus berlangsung sebab perempuan sendiri tidak sadar kalau dirinya sendiri ditindas dan punya hak untuk membebaskan diri dari penindasan itu. Kini semakin banyak perempuan yang mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan. Ini berarti semakin tinggi pula kesadaran perempuan akan hak-haknya. Perempuan tidak lagi terkungkung di dalam rumah, tapi mulai boleh ke luar rumah untuk belajar dan bekerja. Pada saat yang sama perempuan memperoleh kesempatan pendidikan formal yang lebih tinggi. Bahkan banyak perempuan sukses di bidang ilmu pengetahuan, bisnis, politik, dll. Orang bilang di jaman ini telah terwujud kemitraan laki-laki dan perempuan.”

Putri : “Sekarang ini, apakah memang sudah tidak ada lagi perempuan yang dijajah laki-laki dan apakah semua perempuan terjamin kesejahteraannya?”

Pendeta : “ Memang laki-laki dan perempuan hidup bersama sebagai mitra yang sejajar. Namun tak bisa dipungkiri juga masih ada kondisi yang menempatkan perempuan di bawah laki-laki. Misalnya ribuan perempuan Indonesia bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga (buruh migran). Para perempuan buruh migran ini sangat rentan terhadap gaji di bawah standard normal, kemungkinan dipecat sewaktu-waktu oleh majikan, mengalami tindak kekerasan dan kemungkinan buruk lainnya. Bahkan sampai dengan sekarang masih ada perempuan yang diperjualbelikan. Di pihak lain, dalam rumah, ada juga perempuan yang menjadi korban kekuasaan laki-laki, mengalami kekerasan dari suami dan kehilangan hak-haknya sebagai manusia yang sederajat dengan laki-laki. Jadi perubahan dan kemajuan status memang telah dialami oleh perempuan Indonesia namun itu tidak otomatis berarti kesejahteraan perempuan terjamin. Ternyata memang persoalan perempuan tidak selesai dengan adanya kesempatan untuk merambah sektor publik. Banyak perempuan berperan dalam masyarakat dalam karier hebat, namun tidak berarti perempuan telah berhasil lepas dari hegemoni (kekuasaan) laki-laki.”

Putri : “Mengapa di jaman modern masih ada perlakuan yang merendahkan perempuan?”

Pendeta : “Budaya patriarkhi dan struktur paternalistik yang telah mengakar dalam masyarakat menghasilkan kekuasaan besar yang merugikan perempuan. Masyarakat seringkali memandang perempuan bukan sebagai “subyek” tapi “obyek” yang bisa dipakai bahkan diperdagangkan oleh laki-laki yang berkuasa. Misalnya keterlibatan perempuan di sektor publik bisa dimanfaatkan oleh laki-laki dan oleh berbagai kepentingan lain seperti negara dan kapitalisme. Perempuan menjadi korban dari struktur ekonomi yang semakin kompetitif, karena upah rendah yang diberikan kepada perempuan telah memungkinkan perusahaan bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Putri : “Jadi sebenarnya di jaman ini peran perempuan semakin berkembang namun tetap saja ada yang masih tertindas. Bagaimanakan iman Kristen atau pun gereja menjawab persoalan ini? “

Pendeta: “Sesungguhnya ketika TUHAN menciptakan manusia, maka diciptakanNya manusia laki-laki dan perempuan untuk menjadi penolong yang sepadan. Bacalah Kejadian 1:27; 2:18. Jadi perempuan juga ciptaan TUHAN sama seperti laki-laki. Perempuan diciptakan sebagai pribadi yang sepadan (sederajad ) dengan laki-laki. Karena itu perempuan dan laki-laki di dunia ini mestinya hidup bersama sebagai mitra yang sejajar ( bukan saling menguasai ). Perempuan dan laki-laki punya hak dan tanggung jawab yang sama untuk membangun dunia ini.

Dalam Alkitab kita juga mengenal bahwa Allah berpihak kepada orang-orang yang terbuang dan tertindas. Allah datang sebagai Pembebas. Orang yang tertindas dan terbuang berharga di mata Allah dan menjadi bagian dalam perencanaan Allah. Alkitab juga menyatakan kepedulian dan keberpihakan Allah pada perempuan yang tertindas. Lihatlah misalnya Allah datang sebagai Pembebas bagi Hagar dalam penderitaanya. Ini memberikan inspirasi bagi gereja untuk menjadi ‘pembebas’ bagi kaum perempuan yang mengalami penindasan. Karya pembebasan perempuan juga nyata dalam Perjanjian Baru melalui karya YESUS sebagai pribadi yang peduli dan berpihak pada mereka yang tertindas. YESUS mendobrak budaya patriarkhi yang menindas “perempuan”. Dalam Yohanes 8:2-11 misalnya, YESUS tidak mau menghakimi perempuan berzinah yang sedang dihakimi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kaum agamawan (laki-laki). Perempuan itu dalam kondisi lemah, tidak berdaya di bawah tekanan kekuasaan kaum agamawan. Dia mengalami penderitaan, dipermalukan dan dipersalahkan demi kepentingan politis ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang ingin menjebak YESUS. Perempuan itu dijadikan “alat atau obyek” politis untuk menjatuhkan YESUS. YESUS tidak menghukum perempuan itu tetapi membebaskannya. YESUS menghargai perempuan itu. Ini bukan berarti YESUS mendukung perzinahannya tetapi justru mengantar perempuan itu untuk menyadari siapa dirinya sehingga tidak berbuat dosa lagi. YESUS juga menyadarkan kaum agamawan untuk menyadari siapa dirinya; agar tidak mudah memainkan kekuasaan dan memperalat perempuan untuk kepentingan politis. Ini adalah sikap yang penting untuk kita perhatikan. Mestinya gereja juga mampu bersikap peduli dengan nasib para perempuan yang tertindas oleh kekuasaan dan membantu para perempuan untuk menyadari siapa dirinya sehingga tidak mudah dilecehkan, diperalat atau pun ditindas oleh orang lain. Keberanian untuk menyadarkan “pihak-pihak yang berkuasa” agar menghargai perempuan dan tidak memperalat orang semaunya, sangat penting untuk diperjuangkan. “

Putri : “Lalu, bagaimana caranya untuk memperjuangkan nasib para perempuan yang tertindas?”

Pendeta: “Pertama, penting untuk memperjuangkan kesempatan bagi para perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang memadai. Aspek pendidikan sangat penting bagi penyadaran akan hak-hak perempuan dan penyebarluasan peran-peran perempuan di masyarakat. Kedua, memasukkan perspektif dan analisis gender dalam program pembinaan anggota jemaat. Perspektif dan analisis gender akan menjadi kategori yang memposisikan perempuan sebagai subyek aktif, bersama laki-laki, dalam posisi setara, mengelola dan menciptakan proses-proses dalam kehidupan.
Ketiga, gereja bersama agama-agama di Indonesia mestinya juga bisa bekerjasama membangun komitmen dan kekuatan bersama untuk melakukan “pembebasan” perempuan dari ketidakadilan sosial.”

Putri : “Sungguh saya bersyukur kalau selama ini di rumah dan di gereja saya tidak mengalami penindasan. Ayah dan ibu saya memberikan teladan sebagai pasangan yang saling menghargai, kami anak-anak laki-laki dan perempuan juga mendapatkan pendidikan yang sama. Bahkan gereja kita memberikan kesempatan yang luas bagi para perempuan untuk bermitra dengan laki-laki dalam karya pelayanan gereja. Tapi saya kira tidak cukup gereja hanya bersikap pasif, penting untuk memikirkan bagaimana agar gereja kita memiliki program-program konkret yang merupakan upaya memperjuangkan nasib para perempuan yang tertindas.”

Pendeta : “Benar! Tentu itu menjadi tanggungjawab untuk kita pikirkan bersama. Oke, Selamat hari Kartini!”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

1 Comment for this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*