suplemenGKI.com

Sabtu, 12 Maret

Matius 4:1-11

Allah yang kita imani bukanlah Allah yang nun jauh di sana serta tidak mengerti tentang pergumulan kita, umat manusia. Sebaliknya, Dia adalah Allah yang senantiasa dekat dengan kita, bahkan memahami seluruh pergumulan kita. sebab Dia sendiri pernah turut merasakan bagaimana dicobai oleh Iblis. Hari ini kita bersama-sama akan merenungkan bagian ini.

- Pernahkah Saudara dicobai? Bagaimana sikap Saudara dalam menghadapi pencobaan yang ada?

- Menurut Saudara, setiap kali melontarkan pencobaan, mengapa Iblis selalu menggunakan ungkapan “Jikalau Engkau Anak Allah”?

- Kristus selalu menjawab setiap cobaan dengan format “Ada tertulis…”. Apakah artinya itu bagi kehidupan Saudara secara pribadi?

Renungan:

Dalam kisah pencobaan Tuhan Iblis selalu memakai ungkapan “Jika Engkau Anak Allah”. Mengapa demikian? Bukankah sebelumnya, ketika Tuhan Yesus dibaptis, ada proklamasi dari Allah Bapa “”Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat. 3:17). Tidakkah Iblis menyadari hal ini? Menurut hemat saya Iblis mengetahui hal ini secara pasti. Buktinya seringkali roh-roh jahat yang terkait dengan pelayanan Tuhan Yesus memekikkan seruan, “Mau apakah hai Engkau, Yesus Anak Allah yang Maha tinggi”? (Mat. 8:29; Mar. 3:11; Luk. 4:41, dsb). Jadi, sebenarnya melalui kalimat ini, Iblis ingin mengajak Kristus untuk meragukan kebenaran pernyataan Bapa sorgawi. Cara yang sama sebenarnya juga digunakan Iblis ketika ia mencobai Adam dan Hawa, di mana melalui si ular itu Iblis berkata, “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kej. 3:4). Langkah pertama Iblis dalam menerapkan cobaan ini masih tetap terjadi hingga saat ini. Seringkali Iblis menggoda umat manusia untuk melakukan mosi tidak percaya kepada kebenaran firman Tuhan, meragukan apa yang dikatakan Allah. Yang menjadi mangsa empuk adalah mereka yang tidak memahami firman Tuhan. Sebab mereka yang paham firman Tuhan saja masih bisa dikibuli sama Iblis, bagaimana lagi dengan “nasib” mereka yang tidak memahami firman Tuhan. Apakah selama ini kita termasuk orang yang mudah jatuh ke dalam dosa? Apabila jawabnya adalah ya, salah satu yang harus kita periksa adalah sejauh mana pemahaman kita tentang kebenaran firman Tuhan.

Betapa pentingnya untuk memahami firman Tuhan juga Nampak dalam kelicikan Iblis tatkala melontarkan pencobaan berikutnya. “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” (ay. 6). Iblis mencoba menyalahgunakan firman Tuhan, dengan cara asal, mengutip tanpa mau memperhatikan pemahaman yang sebenarnya. Pada dasarnya ayat yang dikutip Iblis adalah ayat yang berbicara tentang pemeliharaan Allah, bukan mencobai Tuhan Allah. Pemeliharaan Allah berarti bagaimana Allah menjaga kehidupan kita menurut kehendak dan rencana-Nya. Sedangkan mencobai Tuhan berarti menuntut Tuhan untuk menjaga kehidupan kita menurut kehendak dan rencana kita sendiri. Sangat tipis perbedaannya, bahkan kadang kita tidak menyadarinya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya untuk benar-benar memahami firman Tuhan

Hal lain yang menunjukkan pentingnya firman Tuhan dalam kehidupan orang percaya tentu saja Nampak dari cara Tuhan Yesus menangkal semua godaan yang ada. Dia selalu kembali kepada firman Tuhan. “Ada tertulis…” demikian format jawaban Kristus. Lalu, bagaimana dengan kita? sejauh mana kita sudah memahami firman Tuhan

Untuk menangkal godaan dan pencobaan, kita perlu penguasaan akan firman Tuhan

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«