suplemenGKI.com

Sabtu, 27 Oktober 2012

Markus 10:46-48

Seorang bayi menangis karena haus. Tangisan adalah bahasa bayi untuk menyampaikan keinginannya. Si kakak mencoba menenangkan si bayi, tapi upayanya tidak berhasil sebab si adik bayi semakin keras menangis. Bayi itu terus menjerit dalam tangis sebab ia yakin ibunya pasti akan menanggapinya dan memberinya minum. Tekadnya telah bulat: terus menjerit menyampaikan pengharapan sampai ibu datang memberinya minum.

Bacaan hari ini juga mengisahkan seorang yang memiliki tekad bulat untuk memohon belas kasihan YESUS

Pendalaman Teks Alkitab


• Ayat 46-47 : Apakah yang membuat Bartimeus berseru-seru minta belas kasihan YESUS?
• Ayat 48 : Mengapakah Bartimeus tidak berhenti berseru-seru kepada YESUS
walaupun orang banyak memintanya diam?
• Pernahkah Saudara merasa lelah berseru kepada TUHAN?
• Adakah hambatan dari sekitar yang membuat Saudara berhenti berseru kepada TUHAN?

Renungan

Dalam perjalanan menuju Yerusalem, YESUS dikelilingi oleh para murid dan orang-orang banyak. Ia mengajar sambil berjalan. Ini adalah cara mengajar yang paling umum pada waktu itu. Pada waktu itu pinggir jalan kota Yerikho dipenuhi orang. Mereka ingin memandang wajah YESUS. Di pintu gerbang bagian utara duduklah seorang pengemis yang bernama Bartimeus. Ketika ia tahu bahwa yang lewat adalah YESUS, ia segera melakukan sesuatu untuk menarik perhatian YESUS. Ia berteriak keras. Bagi orang-orang yang sedang mendengarkan pengajaran YESUS, tentunya teriakan itu mengganggu. Oleh karena itu mereka meminta Bartimeus diam. Namun tak seorang pun yang mampu membuat Bartimeus diam. Ia bahkan berteriak makin keras sehingga barisan rombongan itu berhenti. Bartimeus sungguh bertekad bulat dan penuh ketekunan berharap belas kasihan YESUS.

Manakala suara-suara atau hal-hal di sekitar berupaya menghentikan pengharapan saudara pada TUHAN, apakah yang Saudara lakukan? Apakah Saudara masih bertekad bulat untuk bertekun dalam pengharapan?
Ada seorang petani tua yang selama bertahun-tahun membajak mengelilingi sebuah batu besar di ladangnya. Batu besar itu telah merusakkan satu mesin penyiang dan dua mata bajak saat ia tak sengaja menyenggol batu itu. Setiap kali ia melihat penghalang itu, ia menggerutu mengenai banyaknya kesulitan yang ditimbulkan batu besar itu. Suatu hari ia memutuskan untuk menggali dan membuangnya. Setelah menempatkan sebuah linggis yang besar di bawah batu itu, ia terkejut ketika mendapati bahwa dalamnya hanya sekitar 30 cm. Dengan segera ia dapat mengungkit batu itu dan mengangkutnya dengan gerobak. Ia tersenyum ketika mengingat betapa batu “besar” itu telah begitu sering menimbulkan frustasi yang tidak perlu.

Adakah “batu besar” yang mengganjal pengharapan Saudara? Tenanglah! Jangan kalut oleh hambatan. Jadikanlah hambatan justru untuk semakin kuat berharap dalam iman yang teguh. Ingatlah Mazmur 27:14 yang mengatakan: “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!”

Dalam pengharapan Saudara, nyanyikanlah KJ 445:1

”Harap akan TUHAN, hai jiwaku! Dia perlindungan dalam susahmu. Jangan resah, tabah berserah. Kar’na habis malam, pagi merekah. Dalam derita dan kemelut, TUHAN yang setia, Penolongmu!”

Milikilah pengharapan yang kuat dan tak mudah goyah,
seperti jangkar yang ditancapkan pada apa yang tak terlihat.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*