suplemenGKI.com

PENGAKUAN IMAN (2)

22/01/2011

“Ambil dan Bacalah” Edisi ke-39  Juni  Tahun 2010

G K I R e s i d e n S u d i r m a n S u r a b a y a

Dalam edisi yang lalu kita telah membahas  bahwa GKI mengakui  3 rumusan pengakuan iman yaitu Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel dan Pengakuan Iman Athanasius. Pengakuan Iman Rasuli  telah kita bahas dan kini kita akan membahas Pengakuan Iman Nicea-Kontantinopel & Pengakuan Iman Athanasius. Anda tertarik untuk memahaminya? Ambil dan Bacalah!

Bagaimanakah rumusan Pengakuan Iman Nicea Konstantinopel?

“Kami percaya kepada satu ALLAH,

BAPA yang Mahakuasa,

Pencipta langit dan bumi,

segala  yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.

Kami percaya kepada satu TUHAN, yaitu YESUS KRISTUS,

Anak ALLAH yang tunggal,

Yang lahir dari Sang BAPA sebelum ada segala zaman,

ALLAH dari allah, Terang dan terang,

ALLAH yang sejati dari allah yang sejati,

Diperanakkan,  bukan dibuat,

Sehakikat dengan Sang BAPA,

Yang dengan perantaraan-Nya  segala sesuatu dibuat,

yang untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita

telah turun dari surga,

menjadi daging oleh ROH KUDUS dan anak dara Maria

dan menjadi manusia,

yang disalibkan bagi kita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus,

menderita dan dikuburkan,

yang bangkit pada hari ketiga, sesuai dengan isi kitab-kitab

dan naik ke surga,

dan duduk di sebelah kanan Sang BAPA,

dan akan datang kembali dengan kemuliaan,

untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati,

yang kerajaan-Nya tidak akan berakhir.

Kami percaya kepada ROH KUDUS, yang menjadi TUHAN yang menghidupkan,

Yang keluar dari Sang BAPA dan Sang ANAK,

Yang bersama-sama dengan Sang BAPA dan Sang ANAK disembah dan dimuliakan

Yang telah berfirman dengan perantaraan para nabi.

Kami percaya adanya satu gereja yang kudus, yang am dan rasuli,

Kami mengakui satu baptisan untuk pengampunan dosa.

Kami menantikan kebangkitan orang mati,

Dan kehidupan di zaman yang akan datang. Amin.”

Bagaimanakah sejarah munculnya  rumusan Pengakuan Iman Nicea?

Pengakuan Iman Nicea merupakan hasil dari dua konsili ekumenis  yang diadakan di Nicea pada tahun 325 dan Constantinopel pada tahun 381. Rumusan pengakuan iman ini muncul untuk menanggapi  ajaran  Arius, seorang pemimpin gereja dari  Alexandria. Ia mengajarkan bahwa YESUS bukanlah ALLAH, melainkan termasuk dalam bilangan ciptaan ALLAH, meskipun sebagai ciptaan yang utama dan pertama. YESUS hanyalah mirip atau menyerupai ALLAH, namun bukan ALLAH. Arius memakai sebuah istilah teologis yang menjelaskan ajarannya yaitu “homoios” yang artinya: esensi ilahi yang mirip atau serupa.  Homoios menyatakan bahwa ALLAH BAPA, ANAK dan ROH KUDUS tidaklah setara dan sama. ALLAH BAPA, ANAK dan ROH KUDUS memiliki wujud dan kedudukan yang tidak serupa.

Konsili  di Nicea menolak ajaran Arius itu dengan merumuskan ajaran trinitas dalam istilah “homoousios” ( bhs Yunani) yang artinya satu zat atau satu hakikat.  ALLAH dan YESUS adalah satu homoousios, sehingga keilahian Anak identik dan sehakikat dengan keilahian ALLAH. Ini berarti  ALLAH BAPA, ANAK dan ROH KUDUS memiliki esensi Ilahi yang sama. Para pimpinan gereja yang hadir dalam konsili tersebut menegaskan bahwa YESUS KRISTUS adalah ALLAH, sehakekat dengan ALLAH BAPA.   Munculnya ajaran ini lebih dipengaruhi oleh  ajaran Athanasius.

Siapakah Athanasius dan apa yang diajarkannyua?

Athanasius  adalah Bishop di Alexandria, yang sangat menekankan pada Ketritunggalan Allah dan Keilahian Yesus Kristus.  Hampir seluruh hidup  Athanasius diabdikan untuk melawan Arianisme (ajaran Arius ).  Ia melihat ke-ALLAH-an YESUS KRISTUS sebagai dasar seluruh iman Kristen.  Athanasius berjuang begitu keras untuk membawa orang sampai pada pengakuan ke-ALLAH-an YESUS KRISTUS karena ia melihat bahwa keselamatan kita bergantung pada-Nya. Hanya YESUS KRISTUS yang ilahi, yang dapat menyelamatkan kita.

Apakah hubungan Athanasius dengan Pengakuan Iman Athanasius?

Pengakuan Iman Athanasius diperkirakan ditulis pada akhir abad ke lima atau permulaan abad ke enam. Tidak diketahui dengan pasti siapa penulis pengakuan iman ini. Diberi nama Athanasius sangat mungkin karena isi pengakuan iman ini mencerminkan ajaran Athanasius. Dalam konsili di Nicea (325), Athanasius merupakan lawan yang mematahkan argumentasi Arius.  Itulah sebabnya jikalau kita amati isi pengakuan iman Athanasius, secara garis besar terbagi ke dalam dua garis besar, yaitu bagian pertama yang merupakan kesimpulan mendasar tentang doktrin Tritunggal, dan bagian kedua tentang dua sifat Yesus Kristus.

Bagaimanakah rumusan Pengakuan Iman Athanasius?

“Barangsiapa ingin diselamatkan haruslah  (ia) berpegang pada (asas) kpercayaan gereja yang am. Barangsiapa  tidak memelihara (asas) kepercayaan  itu secara murni (maka ia) sesungguhnya akan binasa. Dan inilah (asas) kepercayaan kita itu:

Kita menyembah ALLAH Yang Maha Esa (itu) dalam ketritunggalan-Nya, dengan tidak mencampurbaurkan kepribadian-kepribadian-Nya dan tidak memisah-misahkan hakikat-Nya; sebab ada satu kepribadian yang adalah BAPA, satu kepribadian yang adalah ANAK, dan satu kepribadiaan yang adalah ROH KUDUS, namun ke ALLAH-an terdiri dari Sang BAPA, sang ANAK dan Sang ROH KUDUS – yang adalah esa- dengan kemuliaan yang sama dan berkerajaan yang sama kekalnya. Seperti Sang BAPA ada, demikian pula  Sang ANAK ada dan Sang ROH KUDUS  ada;  sang BAPA tidak diciptakan, Sang ANAK tidak diciptakan, dan Sang ROH KUDUS tidak diciptakan. Sang BAPA melebihi segala akal manusia, Sang ANAK melebihi  segala akal manusia, dan sang ROH KUDUS melebihi segala akal manusia. Sang BAPA adakah kekal, Sang ANAK adalah kekal dan sang ROH KUDUS adalah kekal; namun tidak ada  tiga ALLAH yang kekal, melainkan  (hanya ada) satu ALLAH yang kekal. Demikian pula tidak ada tiga ALLAH yang melebihi segala akal manusia, atau tiga ALLAH yang diciptakan, melainkan (hanya ada) satu ALLAH yang  tidak diciptakan, yaitu satu ALLAH yang melebihi segala akal manusia. Dan demikianlah (juga) ada  BAPA yang maha kuasa, ANAK yang mahakuasa dan ROH KUDUS yang maha kuasa. Namun tidak ada tiga yang Mahakuasa; melainkan (hanya ada) satu yang Mahakuasa. Sang BAPA adalah ALLAH, Sang ANAK adalah ALLAH dan ROH KUDUS adalah ALLAH, namun tidak ada tiga ALLAH melainkan (hanya ada) ALLAH. Demikian (pula ) Sang  BAPA adalah TUHAN, Sang ANAK adalah TUHAN, dan Sang ROH KUDUS adalah TUHAN, namun tidak ada tiga TUHAN, melainkan (hanya ada) satu TUHAN.

Maka menurut kebenaran ( asa) gereja yang am, kita harus mengakui ( bahwa) setiap kepribadian masing-masing adalah ALLAH dan TUHAN, dan kita dilarang untuk menyatakan bahwa ada tiga ALLAH dan tiga TUHAN.

BAPA tidak ( berasal) dari siapapun, tidak diciptakan, dan tidak diperanakkan. ANAK berasal dari BAPA saja, tidak dijadikan atau tidak diciptakan, melainkan diperanakkan; ROH KUDUS berasal dari  BAPA dan dari ANAK, tidak dijadikan atau diciptakan, melainkan dipancarkan. Maka (karena itu) ada satu BAPA , bukan tiga BAPA; satu ANAK bukan tiga ANAK; satu ROH KUDUS bukan tiga ROH KUDUS.

Dalam ketritunggalan ini tidak ada yang lebih dahulu, atau yang lebih kemudian; tidak ada yang lebih tinggi, atau yang lebih rendah; sebab ketiga kepribadian ini adalah esa dalam kekekalan-Nya dan sama dalam kedudukan-Nya. Maka ( karena itu) kita-sesuai dengan hal-hal tersebut di atas-menyembah keesaan-Nya dalam ketritunggalan-Nya dan ketritunggalan-nya dalam keesaaan-Nya. Maka (oleh sebab itu) barangsiapa ingin diselamatkan (ia) haruslah menerima pengakuan mengenai ALLAH Tritunggal ini. Dan (ia) haruslah pula percaya akan kedatangan  TUHAN kita YESUS KRISTUS sebagai manusia ke dalam dunia ini, sesuai dengan ajaran yang benar.  Menurut kepercayaan yang benar – yang kita akui dan miliki- kita percaya dan mengaku bahwa TUHAN kita YESUS KRISTUS, ANAK ALLAH, adalah ALLAH dan manusia; sebagai ALLAH hakikatnya  sama dengan ALLAH BAPA, DIA diperanakkan sebelum dunia dijadikan; sebagai manusia hakikatnya sama dengan ibu-Nya ( yaitu Maria), DIA dilahirkan di dalam dunia; IA adalah ALLAH yang sempurna dan manusia yang sempurna dengan akal budi  dan tubuh manusia dalam satu kepribadian. IA sama  derajat dengan ALLAH BAPA di dalam ke-ALLAH-anNya, tetapi lebih rendah dari BAPA-Nya. Walaupun IA adalah ALLAH dan manusia, (tetapi) ia bukan dua kepribadian, melainkan satu KRISTUS. IA adalah satu ( bukan dengan perubahan ke-ALLAH-anNya menjadi manusia tetapi dengan  perubahan kemanusiaan-nya ( dipersatukan) dengan ke-ALLAHan-Nya). IA adalah esa bukan dengan mencampur-baurkan hakikat-hakikat-Nya, tetapi satu dalam kesatuan di dalam  satu kepribadian. Sebagai seseorang berakal budi dan bertubuh yang merupakan satu kesatuan demikian pula KRISTUS yang satu ( itu); adalah ALLAH dan Manusia. KRISTUS menderita demi keselamatan kita; Ia turun ke neraka lalu pada hari yang kertiga bangkita dari anatara orang mati, naik ke Sorga dan duduk  di sebelah kanan  BAPA ALLAH Yang Maha Kuasa, dan dari sana Ia akan datang ( kembali) untukk menghakimi orang  hidup dan yang mati. IA akan datang kembali dan pada waktu itu umat manusia akan bangkit dalam tubuhnya  masing-masing untuk memberikan pertanggungjawaban atas perbuatannya. Barang siapa berbuat baik (ia) akan masuk hidup yang kekal; ( dan)  barangsiapa berbuat jahat, (ia) akan masuk api yang kekal.

Inilah ( asas) kepercayaan gereja yang am itu, yang harus diterima dan diakui dengan sungguh-sungguh oleh anak-anak manusia yang ingin diselamatkan.

Kemuliaan bagi BAPA, ANAK, ROH KUDUS, seperti pada permulaan, sekarang ini dan selama-lamanya. Amin.”

Ketiga rumusan pengakuan iman yaitu Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel dan Pengakuan Iman Athanasius memuat konsep dasar iman Kristen yaitu percaya kepada ALLAH Tritunggal.  Oleh karena itulah GKI menerima ketiganya.  Dalam kebaktian Minggu, yang lebih sering kita ucapkan adalah Pengakuan Iman Rasuli sebab rumusannya paling singkat sehingga mudah dihafal.  Mari terus belajar  memahami  isi pengakuaan iman agar ditengah rupa-rupa angin pengajaran, kita tetap setia dan terus berani mempersaksikan iman kita.

Sumber:

1.      Tata Gereja GKI  2009

2.      Sarapan Pagi Biblika

3.       Lane, Tony,  Runtut Pijar – sejarah Pemikiran Kristiani, Jakarta, BPK Gunnung Mulia, 1996.

4.      Wellem, F.D,  Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh Dalam Sejarah Gereja, Jakarta, BPK  Gunung Mulia, 1998.

5.      www.yohanesbm.com, Pengantar Ajaran  tentang Trinitas.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«