suplemenGKI.com

Kamis, 28 April

1 Petrus 1:1-9

Apakah yang menjadi topik dalam percakapan dua orang yang baru saling kenal? Tentu saja nama dan alamat secara umum, seperti dari kota mana, rumahnya dekat apa, dsb. Melalui setiap percakapan semacam itu, kita dapat melihat betapa pentingnya sebuah identitas. Hari ini kita akan merenungkan hal itu.

-          Pernahkah Saudara menjadi seorang pendatang di suatu tempat? Bagaimana perasaan Saudara? Apakah status sebagai pendatang itu mempengaruhi perilaku Saudara?

-          Menurut Saudara, siapakah yang dimaksud dengan “orang-orang pendatang” di sini? Mengapa rasul Petrus menyebut mereka pendatang?

-          Identitas rohani apakah yang dimiliki oleh para pendatang tersebut? Apakah tujuan rasul Petrus menyebutkan identitas itu?

Renungan:

Rasul Petrus mengalamatkan suratnya ini kepada orang-orang pendatang. Kata Yunani yang dipakai untuk pendatang di sini selalu merujuk pada orang yang menjadi penduduk sementara di suatu tempat yang asing. Dalam pengertian inilah Abraham menyebut dirinya di hadapan bani Het, ketika ia berkata, “Aku ini orang asing dan pendatang di antara kamu” (Kej. 23:4). Dalam pengertian ini pulalah para saksi iman disebut ketika Penulis surat Ibrani berkata, “Dalam iman mereka semua ini telah mati …… mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini” (Ibr.  11:13). Nampaknya rasul Petrus memakai istilah pendatang karena mereka memang menjadi pendatang di empat propinsi Romawi yang di sebelah selatan laut hitam, yaitu di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia (bnd. Pengertian yang dipakai oleh Abraham). Tapi lebih dari itu, Petrus juga menyebut mereka sebagai orang-orang pendatang karena secara rohani mereka memang adalah pendatang (bnd. Pengertian yang dipakai dalam surat Ibrani). Dari sini kita dapat melihat bahwa Petrus sejak awal suratnya sudah mengingatkan identitas diri para pembaca suratnya.

Sekalipun memakai pengertian orang-orang asing secara lahiriah, nampaknya yang menjadi penekanan Petrus adalah pengertian yang rohaniah. Sebab dalam ayat-ayat berikutnya Petrus berbicara tentang identitas diri orang-orang pendatang itu secara rohani. Mereka adalah orang-orang yang dipilih Allah, sesuai dengan rencana Allah. Dalam terjemahan lain (AV, NKJV), kata rencana ini mengacu pada pra pengetahuan Allah. Dengan demikian Petrus mengingatkan para pembaca suratnya bahwa keadaan mereka sekarang ini bukanlah tidak diketahui Allah. Bahkan jauh sebelum mereka ada, Allah sudah mengetahui. Hal ini seharusnya membuat mereka menyadari bahwa tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Segala sesuatunya tetap berada di bawah kendali Allah, karena Allah mengetahui segala sesuatu  yang terjadi.

Demikian pula dengan kita, orang yang percaya kepada Kristus. Kita semua adalah penduduk sementara di dunia ini. Cepat atau lambat kita akan meninggalkan dunia ini. Namun sebelum hal itu terjadi, biarlah kita ingat bahwa Allah mengetahui segala yang terjadi dalam hidup kita, dan DIA peduli. Kita tidak perlu kuatir ataupun takut dalam menjalani hidup ini.

Identitas rohani kita di dunia adalah: Pendatang, bukan pengungsi

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*