suplemenGKI.com

Pdt. B.A. Abednego

30/09/2010

BENNY BANDEL, BUKAN BASA BASI


Pdt. BA Abednego - GKI Residen Sudirman

Meski usianya akan menginjak 70 tahun, Pdt. Em. Benyamin Agustinus Abednego, DPS; terlihat masih sehat dan bugar. Langkah pria yang akrab disapa Benny atau Abed ini masih tegak dan mantap. Wajah yang tergolong serius ini kadang terkesan sombong bagi mereka yang baru berkenalan. Di lingkup sinode GKI Jatim atau GKI Sinode Am dikenal sebagai tukang ngomong, bicaranya to the point ketimbang basa basi. Jadi sebut saja B5, akronim: Benny bandel bukan basa basi; untuk memahami kisahnya. Benny lahir 2 Nopember 1934 sebagai anak kelima dari pasangan pasutri Gouw Gwan Yang (Caleb Abednego) dengan Jo Hong Nio. Mereka kira Benny anak bungsu, karena itu diberi nama Benyamin Gouw Kim Hok tapi temyata adiknya masih bertambah sepuluh. Jadi Pdt. Gouw Gwan Yang betul-betul menerapkan KB (Keluarga Besar), bukan Keluarga Berencana. Bisa dibayangkan ada 14 saudara Benny, sehingga anak boksu Gouw berjumlah 15 orang.

Ditempa Ortu

Ben juga pernah dipanggil “Kukuk” ketika usia 7 tahun. Ceritanya begini, dia sering menirukan bunyi jam dinding berhiaskan burung hantu (kukuk) milik kakeknya. Zaman itu keadaan darurat perang, jadi kakeknya selalu mengajak seluruh keluarga masuk lubang perlindungan di saat ada sirene sebagai tanda bahaya. Dalam keadaan panik seperti itu sang kakek mencari-cari jam dindingnya dan berteriak: “Di mana kukuk?” Entah mengapa spontan pamannya malah menunjuk diri Ben. Nah sejak itu Ben sering dipanggil “Kukuk” di lingkungan keluarganya.

Pdt. BA Abednego - GKI Residen Sudirman

Di antara kelimabelas anak boksu Gouw Gwan Yang, Benny inilah yang pegang rekor nakalnya ketika menginjak masa remaja.  Tidak heran kalau ortunya merasa mbohwat (dialek Cina yang artinya kewalahan) dan mereka pal­ing hanya bisa berdoa menyerahkan kepada Tuhan. Ketika Ben sekolah di SD kelas I, gurunya adalah Meneer Oey Eng Hoat, yang adalah sahabat ayahnya. Ben pernah dihukum karena sering masuk keluar kelas dengan melompat melalui jendela. Hukumannya unik, Ben disuruh duduk di jendela menghadap ke luar sambil memegang batu tulis dan menjadi tontonan murid lainnya yang menyorakinya. Malukah Ben? la tenang-tenang saja malah merasa bangga. Bisakah hukuman itu mengubah kenakalan Ben seketika? “Yah, itulah hukuman yang mendidik”, aku Ben sambil mendesah mengenang masa kecilnya. Kini di masa emiritat ia sedang menyiapkan sebuah buku autobiografinya berjudul “Trims Ya Yesus, untuk sesama Ben”

Ditempa Tuhan

Bukan basa basi kalau panjang lebar Ben bercerita tentang masa kecilnya, ternyata Tuhan membentuk dia secara ajaib sampai dia dipersiapkan menjadi hamba Tuhan. Bagaimana dari anak bandel harus menangis sesenggukan ketika bertemu dengan Juru Selamatnya. Padahal itu hanya melalui sebuah traktat berjudul  “Eternity”. Dia masih samar-samar mengingat isinya. Pikirnya apakah ia kelak masuk surga atau neraka dalam kekekalan (eternity), semua itu ditentukan oleh sikap semasa hidup di dunia ini. Yesus adalah jalan keselamatan menuju surga kelak. Ketika membaca sekitar tiga perempat traktat itu di ruang makan, ada sesuatu yang bergolak dalam dada Ben. Ia tak habis mengerti mengapa begitu, serasa ingin menangis rasanya, namun ia masih menahan malu kalau dilihat orang lain. Cepat-cepat ia lari masuk ke kamar, mengunci pintunya dan melanjutkan membaca sampai tuntas. Tak terasa berderailah air matanya. Aneh, ada kekuatan yang mendorong Ben spontan mengakui segala dosa dan kenakalannya di masa lalu kepada Tuhan. Tak ragu Ben menyambut uluran kasih Tuhan yang memberi kelepasan dari belenggu dosa dan memberi keselamatan yang abadi. Sesuatu yang dialami hanyalah perasaan lega, bebas dari hukuman, tenteram dan sejahtera yang sulit digambarkan. Siapa yang membuat seseorang bisa berubah 180 derajat kalau bukan karya Roh Kudus?

Siapa pula yang tidak merasa terharu dan bersyukur kepada Tuhan selain kedua ortunya yang telah tekun mendoakan Ben dengan ketulusan selama bertahun-tahun? Merekapun tak habis mengerti bahwa jalan Tuhan bukan jalan manusia, ternyata sarana yang dipakai Tuhan Cuma selembar traktat berjudul “Eternity“.  Tidak salah kalau Ben juga ingin menyampaikan terima kasih kepada penyusun traktat yang tidak diketahui sumbernya. Bagaimanapun juga Roh Kudus telah berkarya kepada seorang yang dipakai untuk menulis sebuah traktat penginjilan. Puji Tuhan.

Memenuhi Panggilan Tuhan

Bagaimana Ben terpanggil menjadi hamba Tuhan? Sebetulnya sudah banyak KKR yang diikuti Ben, betapa tidak? Ayahnya seorang pendeta THKTKH yang pendidikan dasarnya di sebuah sekolah Methodis. Methodisme dikenal antaranya karena sering mengadakan KKR yang bercirikan Revivalisme. Banyak revivalis terkenal diundang oleh jemaat THKTKH Bandung untuk acara KKR. Di antara KKR yang serng diadakan di gedung gereja rasanya tidak mengusik hati Ben. Namun peristiwa KKR tahun 1953 yang diadakan di gedung Merdeka, Jl. Asia Afrika Bandung adalah awal panggilan Ben. KKR dipimpin oleh DR. Dzao Zse Kuang dari Tiongkok dan seperti biasa setelah kotbah diadakan altar call. Ben yang duduk di bangku belakang secara spontan terdorong maju ke depan podium. Di situlah dia berlutut sambil menangis sejadi-jadinya. Ia tidak malu harus mengalami fenomena itu di depan orang banyak. Ia sadar bahwa itulah panggilan untuk menjadi hamba-Nya. Memang Benny bandel bukan basa basi.

Anak yang dulu bandel bukan saja telah diahirkan kembali tetapi juga menyerahkan seluruh hidupnya untuk melayani Tuhan. Sampai tahun 2004 Ben telah melayani selama 45 tahun sebagai hamba Tuhan. Tidak ada gurat-gurat penyesalan di wajahnya, selain sinar kasih yang memancar dari lubuk hati terdalam. Seolah terngiang sebuah lagu rohani yang refrainya berbunyi: “Siapakah aku ini Tuhan, jadi biji mata-Mu. Dengan apakah kubalas Tuhan, selain puji dan sembah Kau . . .”

Ditempa melalui pendidikan

Like father like son kata pepatah Inggris. Ben tergolong kutu bukumewarisi hobi ayahnya, seabrek bukumenghiasi ruang kerjanya. Hobi membaca ini ternyata membuahkan hasil sebagai pemikir dan sekaligus sebagai penulis. Tetapi semua itu juga ditempa melalui  lembaga pendidikan teologia di Bale Wiyata Malang. Atas usaha Pdt. Tan Houw Siang, Ben didaftarkan ke sekolah ini tahun 1954 dan tamat tahun 1958. Sekolah Bale Wiyata yang bercorak ekumenis inilah yang ikut menanamkan jiwa ekumenis pada Ben. Tahun 1965 sampai 1966 Ben mengikuti studi di Union Theological College, Manila, Pilipina. la mendalami khusus bidang kepemudaan dan berhasil menyandang gelar B.Th. (Bachelor of Theology). Ben memang senang belajar, maka cuti panjang kedua selama satu semester (1971­-1972) dimanfaatkan untuk studi di Ecumenical Institute, Bossey, Genewa, Swiss. Tahun itu dia makin berbobot baik dalam ilmu dan fisiknya juga berbobot sekitar 85 kg, berbeda ketika masuk sekolah Balewiyata perawakannya masih ramping. Melalui Pdt. Mardjosir inilah Ben ditempa menekuni bidang Hukum Gereja yang diajarkannya. Tidak heran bila buahnya di abdikan selama dia melayani Sinode GKI Jatim dan Sinode Am dalam wujud keikut sertaan menyusun Tata Gereja. Atas desakan DR. Judo Widagdo mantan Rektor STT Duta Wacana, Ben dianjurkan melanjutkan pendidikan S-3 di South East Asia Graduate School of Theology tahun 1982. Gelar D.P.S (Doctor of Pastoral Studies) diraihnya tahun 1986.

Memahami Orang Yang Berbeda

Ben kalau berkotbah pakai gaya yang khas,  yaitu tidak menggurui jemaat. Mungkin bagi anggota jemaat yang baru mengenalnya akan bingung karena kotbah tanpa kesimpulan akhir. Kesimpulannya justru berpulang kembali kepada audience, apa yang harus diputuskan sendiri oleh jemaat. Kalau istilah memasak, Ben cuma memasak 3/4 jadi, selebihnya jemaatlah yang mengambil kesimpulan. Ben hanya memberi arahan bagaimana jemaat menggumuli suatu persoalan hidup, karena menurut dia manusia itu memiliki banyak latar belakang dan pemikiran. Lebih baik jemaat menjadi dewasa menghadapi sesuatu dengan memutuskan sendiri bersama dengan Tuhan. Bagi sebagian orang nampaknya cara ini membingungkan dan terkadang kontroversial, namun sebagian merasa bahwa mereka ditantang untuk bergumul sendiri.

Berdebat dan adu argumentasi dalam rapat adalah lumrah bagi Benny. Misalnya rapat Majelis Pleno Kecil GKI Jatim Surabaya yang sering disertai debat “panas” sampai larut pagi. Di situ Ben dijuluki tukang ngomong karena memang pantas, bukan asal ngomong tanpa bobot. Walau awalnya sulit diterima, akhirnya bisa juga diterima orang yang berseberangan pendapat dengan dia. Prinsipnya lebih baik omong di depan dari pada omong dibelakang. Lebih baik terbuka dalam rapat daripada tersembunyi dengan gosip di luar. Orang yang disegani di forum itu adalah alm. Eddy Nafarin (Liem Siauw Giap) yang sering meng-konter pendapat Benny. Bukan sekali tetapi berkali-kali. Tapi usai debat, lazim sekali jika kemudian Ben diundang ke rumah Eddy Nafarin untuk ngobrol sambil menikmati camilan. “Ya, disitulah seninya kita beradu argumentasi tanpa harus saling melukai perasaan. Hati itu rasanya plong, bebas dari ganjelan kalau kita bisa berbicara dari hati ke hati dalam suasana santai “, demikian penuturan Benny kepada Willy Purwosuwito Redaktur majalah Berkat.

Ben adalah orang yang bisa menghargai perbedaan pendapat dengan orang yang tidak sependapat dengannya. Dengan kata lain, “Ini aku dan itu kamu, tetapi mari kita tetap satu dalam pelayanan”, imbuhnya. Sikap dan integritas diri yang kuat ini membuat Ben tetap disegani baik orang yang setuju maupun yang tidak setuju dengan pendapatnya. Sikap keterbukaan tanpa basa basi, kadang bisa membuat orang tersinggung. Tapi Ben dengan hati lapang tak segan minta maaf, sekalipun itu terhadap orang yang lebih muda maupun di forum sebuah rapat. “Fair dan tuntas-tas, tidak ada ganjelan lagi dalam hati. Enak kan?, tandasnya lagi.

Peran Keluarga

Di balik semua keberhasilannya menyelesaikan pelayanan, ada pendamping setia yang telah disuntingnya sejak 25 Juli 1959. Pernikahannya dengan Olga Han Tjiak Hway diteguhkan oleh Ds. Hwan Ting Kiong di GKI Tumapel, Malang. Langsung setelah itu kota Indramayu ibarat “kebun anggur Tuhan” yang digarapnya dari tahun 1959-1964. Di kota ini pula lahirlah anak pertama Joyce (putri) dan kedua Wesley (putra). Semasa pelayanan tahun 1964-1974 di Surabaya, Tuhan mengaruniakan lagi putri dan putra yaitu Magdalena dan Zwinglie. Baik istri maupun anak cukup memahami kalau Ben harus banyak bergaul dengan buku, belum lagi rapat, pelayanan mimbar dan ceramah yang selalu terjadual ketat. Tetapi semua dapat diatur dengan penuh pengertian.

Pdt. BA Abednego - GKI Residen Sudirman

Terkesan Ben adalah orang yang mau mengejar prestasi, itu dibenarkannya. Paling tidak itu diwarnai oleh etos kerja sang kakek yang kemudian diteladani oleh Bs. Gouw sang ayah; karena prestasi itu maka prestisenya juga nyata sebagai Ketua Sinode GKI Jawa Barat. Bukankah begitu Ben mengarungi prestasinya dan mengukir prestise dalam lembaran sejarah GKI?. Sebagai Ketua Sinode GKI Jatim, Ketua Sinode Am GKI dan itu juga yang memberi kepuasan sangat tinggi ketika bisa membidani penyatuan GKI tahun 1988 pada persidangan Sinode Am GKI di Wisma Kinasih. Bagaimanapun juga, bukan prestise itu yang dia kejar, tetapi sekali lagi demi kerja keras dia bisa menggapai prestasi yang baik dengan cara alamiah.

Pendeta yang pernah menjadi direktur PPAG (Pusat Pembinaan Anggota Gereja) tahun 1974-1979 di JI. Supriadi 18, Malang, menjelaskan prinsip pembinaan sbb: “Menaruh percaya kepada pekerjaan Roh Kudus yang memberi potensi kepada setiap orang. Proses pelaksanaannya ialah berjalan bersama, saling membina, semua pihak adalah serempak guru dan murid, yang terjalin dalam belajar mengajar. Targetnya agar semua pihak dapat mengembangkan potensi karunia Tuhan semaksimalnya. Pemimpin harus peka untuk tidak selalu menggurui, melainkan bersedia belajar dari sesama. Menjadi pemimpin yang otoriter, kalaupun secara lahiriah nampaknya mantap, tegas dan berwibawa, pada hakikatnya malah menutup gejolak batin yang kurang percaya diri”

Tahun 1982-1986 Ben menjabat Ketua Komisi Pendidikan CCA (Christian Conference of Asia). Sekitar 30 kali Ben harus mondar-mandir ke luar negeri untuk pelayanan gerejani antara lain: W.C.C. (World Council of Churches)  tahun 1961 di New Delhi, APCE (Asia Pasific Conggres of Evangelism) tahun 1970 di Singapore, CCA di Bangalore tahun 1982. Tahun 1982-1986 Ben terpilih sebagai Ketua Komisi Pendidikan CCA (Christian Conference of Asia).

Kumpulan tulisan ceramahnya didokumentasikan dengan rapi. Dari situlah inspirasi menulis buku terpacu. Sudah tujuh buku ditulisnya antara lain berjudul: “Liku-liku Kepemimpinan Kristen” Buku ini pantas dibaca oleh penatua gereja sebagai pemimpin gereja. Selain peran Tuhan, keluarga adalah basis utama di mana seorang pemimpin memperhambakan dirinya. Dia adalah orang yang berjiwa ekumenis dengan karya model Calvinis. Tentu banyak rekan berharap di masa emiritatnya ia bisa menggoreskan pena paripurna, mengukir sejarah panjang seorang yang “kurang” di mata orang menjadi “lebih” karena Tuhan. Siapa mengira ­Benny bandel bisa mengikuti jejak sang ayah menjadi pemimpin yang melayani dan pelayan yang memimpin?. (willy ps)

(Sumber: Majalah Berkat Tahun XVI Edisi No. 64, Juli 2004)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*