suplemenGKI.com

Sabtu, 2 Oktober 2010
NYALA IMAN DALAM KESAKSIAN
II Timotius 1:6-14

Pernahkah Saudara merasakan kehidupan beriman mulai statis? Apakah yang perlu kita lakukan agar kita tetap memiliki gairah iman yang terus menyala?
Ayat 6: Apakah arti “mengobarkan karunia ALLAH” ? Mengapa Timotius diminta untuk
mengobarkan karunia ALLAH?
Ayat 7: Apakah saat itu Timotius sedang berada dalam ketakutan? Mengapa?
Ayat 8-12: Apakah yang menjadi dasar kekuatan seseorang untuk tidak malu bersaksi?
Ayat 13- 14: Teladan apakah yang diberikan Paulus kepada Timotius?

Renungan:

Timotius dipanggil untuk terus mengobarkan kasih karunia yang telah dianugerahkan ALLAH pada saat dia diteguhkan dengan penumpangan tangan. Tampaknya dengan penumpangan tangan tersebut, Timotius diteguhkan oleh rasul Paulus sebagai seorang penatua jemaat. Dengan demikian karunia-karunia ( charisma ) ALLAH tidak bekerja di ruang yang kosong atau lahan hati yang tanpa iman, sebaliknya karunia-karunia ALLAH senantiasa bekerja di ruang hati yang dilandasi oleh iman. Sebab pada sisi yang lain iman sebenarnya juga merupakan hasil dari kasih karunia ALLAH.

Iman dan karunia-karunia ALLAH merupakan dua aspek anugerah kasih ALLAH yang perlu direspon dengan kesediaan untuk mendisiplinkan diri agar terus bertumbuh dengan baik. Itu sebabnya makna “mengobarkan” merupakan suatu bentuk tanggungjawab dari iman agar karunia-karunia ( charisma) yang telah dianugerahkan ALLAH dapat tetap berfungsi sebagimana seharusnya. Karenanya ketika api iman mulai sedikit meredup, kita perlu segera menyalakan kembali api iman tersebut. Api iman yang mulai meredup segera berubah menjadi suatu obor iman yang menyala-nyala dengan terang. Pola iman yang demikianlah yang dikehendaki ALLAH. Fungsi dari iman dan karunia Allah yang terus bertumbuh adalah agar hidup kita makin efektif dalam kekuatan Allah, kasih dan ketertiban (II Tim. 1:7), sehingga kita tidak malu bersaksi tentang Kristus dan karyaNya, serta kerelaan/ketulusan untuk menderita demi Injil Kristus (II Tim. 1:8).

Dalam konteks dan situasi Timotius tindakan mengobarkan karunia Allah membutuhkan perjuangan tersendiri. Sebab proses iman Timotius dibentuk melalui iman neneknya bernama Lois dan ibunya bernama Eunike. Iman Timotius dibentuk dan dibangun oleh kondisi tradisi keluarga. Kita tahu, seperti kebanyakan umat Kristen yang imannya lahir dari tradisi keluarga akan cenderung tidak akan terdorong untuk mengobarkan karunia Allah. Mereka beriman kepada Kristus, karena orang-tua atau keluarga beriman. Jenis iman yang tradisional umumnya tidak terlalu kokoh. Mereka mudah diombang-ambingkan oleh lingkungan sekitar, sehingga dalam situasi tertentu mereka mudah menyimpang dan jatuh dalam kesesatan. Namun apabila iman yang tradisional tersebut didasari oleh sikap rohani yang terus-menerus mengobarkan karunia Allah, maka kita dimampukan untuk memperoleh kekayaan iman yang lebih utuh dan mantap.

Marilah kita membangun iman keluarga dengan terus mengobarkan kasih karunia ALLAH agar iman kita terus menyala dan dapat hidup menjadi saksi KRISTUS.

Jangan hanya puas dengan sekedar mendapatkan warisan iman Kristen, tapi hidupi dan terus nyalakan iman itu dalam gairah menjadi murid KRISTUS yang siap bersaksi.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*