Sumber : Ambil & Bacalah Edisi 9, Bulan Desember 2007
Departemen Pengajaran, GKI Residen Sudirman – Surabaya

Nasib : Bisakah berubah ?

Tahukah Anda apa yang akan terjadi esok? Bagaimanakah nasib Anda di masa depan? Bisakah nasib berubah? Percakapan di bawah ini memandu

perenungan kita akan hal itu. Ambil dan Bacalah!

Tanya: Di tahun baru, biasanya orang berbicara tentang ramalan-ramalan nasib atau hokie atau keberuntungan. Bolehkah orang Kristen bertanya tentang nasib?

Jawab: Mengapa Anda ingin tahu tentang nasib?

Tanya: Saya akan merasa lebih nyaman jika tahu apa yang akan saya alami. Saya ingin tahu apakah di tahun baru usaha saya sukses ataukah tidak? Bukankah itu manusiawi?

Jawab: Memang manusia memiliki kecenderungan ingin tahu segala hal, hanya masalahnya tidak semua hal bisa kita ketahui termasuk masa depan kita. Yang terjadi dalam hidup ini tidak sepenuhnya ada di tangan kita. Yakobus 4:13-14 berkata: “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ‘hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung,’ sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Manusia hanya bisa merencanakan, tapi TUHAN yang menentukan.

Tanya: Apakah itu berarti masing-masing orang telah ditentukan nasibnya sejak semula? Samakah itu dengan suratan tangan? Banyak orang percaya akan suratan tangan. Telapak tangan diperiksa, ada garis usia, ada garis nasib. Masing-masing orang memiliki garis yang berbeda. Kata orang, suratan tangan tidak mungkin diubah. Benarkah?

Jawab: Jika nasib diartikan sebagai kekuatan yang membuat hidup manusia itu hanya seperti sabut kelapa di gelombang samudera, dipontang-pantingkan ke sana kemari, dihanyutkan tanpa daya entah ke mana; atau bahwa hidup kita ini bagaikan wayang di tangan ki dalang: tidak bisa memilih dan tidak boleh menentukan apa-apa; maka jawabannya adalah TIDAK. Sejak awal TUHAN menciptakan manusia dengan kebebasan untuk memilih, kebebasan untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Kejadian 2:16,17 berkata: “…..semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kalimat “sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”, apa artinya? Artinya manusia diberi kemungkinan, diberi kebebasan ALLAH untuk memilih, untuk mengambil keputusan; mau taat atau tidak taat. Bebas! Tentu saja dengan segala resikonya! Tapi jangan salahkan ALLAH, kalau kita celaka oleh karena keputusan kita sendiri. Bukan ALLAH yang menentukan manusia makan buah terlarang itu. Hawa, atas pertimbangan-pertimbangannya sendiri, mengambil keputusan untuk itu. ALLAH juga tidak menentukan dari sononya bahwa Yudas akan mengkhianati YESUS. Yudas sendiri yang mengambil keputusan itu. Karena itu sekali lagi, janganlah kita mempersalahkan ALLAH!

Beberapa ayat Alkitab memang memberi kesan bahwa TUHAN sudah menentukan segala sesuatu sebelumnya. Misalnya Amsal 22:2 berkata: “ orang kaya dan orang miskin bertemu: yang membuat mereka semua ialah TUHAN.” Yeremia 1:5: “Sebelum AKU membentuk engkau dalam rahim ibumu, AKU telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, AKU telah menguduskan engkau, AKU telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa ALLAH yang menentukan segala sesuatu, ALLAH yang telah menggariskan jalan hidup atau nasib seseorang sampai kepada hal-hal yang sekecil-kecilnya. Tapi hati-hati, jangan hanya bergantung kepada ayat-ayat tertentu yang kita pilih karena kebetulan cocok dengan pendapat kita. Baca dan tangkap berita Alkitab secara keseluruhan. Kalau itu yang kita lakukan, maka kita akan membaca jauh lebih banyak ayat-ayat yang mengatakan bahwa manusia punya kebebasan penuh untuk mengambil keputusan, bahwa oleh karena itu TUHAN meminta pertangggungjawaban sepenuhnya pula dari manusia. ( Misalnya: Ibrani 4:13, I Petrus 4:5 ).

Tanya: Jadi apakah itu berarti dalam Alkitab ada pandangan yang bertentangan tentang nasib? Manakah yang benar?

Jawab: Jika kita percaya Alkitab adalah Firman TUHAN, maka jangan tanya ayat mana yang benar sebab sudah pasti semuanya benar. Jadi jangan dipilih mana yang paling cocok dengan hati dan pendapat kita, lalu kita sebut ayat itu yang paling benar. Jangan lakukan itu! Sebab yang benar itu kadang-kadang justru tidak cocok di hati dan pikiran kita. Ambil kedua-duanya. Ayat-ayat yang paradoksal dan kontradiktif kita persatukan.

Tanya: Jadi bagaimana pandangan tentang nasib dan kehendak bebas manusia dapat dijelaskan?

Jawab: Persoalan ini secara sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut:

Jikalau hidup manusia dapat diibaratkan sebagai kertas, maka pada waktu kita lahir, kertas seperti apa yang kita peroleh? Apakah kertas yang putih, polos, kosong, tidak ada coretan apa pun? Artinya kita mempunyai kebebasan yang sepenuh-penuhnya untuk menulis dan menggambar apa saja di atas kertas itu sesuai dengan kehendak kita? Ataukah kertas yang kita peroleh itu adalah kertas yang sudah penuh, tidak bisa kita tulisi apa-apa lagi, isinya cuma perintah yang sudah tidak bisa dibantah: petunjuk jalan yang harus kita lalui. Kita harus melaksanakan apa yang diperintahkan, tidak bisa mengubah perintah itu sendiri?

Sesungguhnya, yang tepat adalah saat manusia lahir, dia bukan seperti kertas kosong atau kertas yang sudah penuh petunjuk dan perintah. Kertas yang dimaksud adalah semacam kertas ujian. Kertas itu tidak kosong sepenuhnya tapi memuat pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab. Dan manusia menulis sendiri di atas kertas itu apa jawabannya atas pertanyaan-pertanyaan yang ada. Bebas! Anda boleh menulis apa saja di atas kertas itu, tapi Anda akan dinilai lulus atau tidak lulus berdasarkan jawaban yang Anda tulis. Kalau Anda mau lulus, maka apa yang Anda tulis mestinya mengikuti arah yang sudah ditentukan. Arah itu bukan Anda yang menentukan tapi TUHAN. Jawaban Anda sudah ditentukan dan dibatasi oleh pertanyaan yang ada. Kalau soalnya matematika, Anda tak boleh menjawab dengan membuat puisi. Kalaupun Anda menjawab matematika, matematika itu sudah ada rumusnya, rumus itu bukan Anda yang menentukan. Misalnya kalau 2+2 = 4, maka Anda tidak punya kebebasan utnuk mengatakan 2+2 = 5. Atau boleh saja Anda jawab 5 tapi pasti akan dicoret, Anda tidak akan lulus. Guru akan menentukan Anda lulus atau tidak lulus, tapi guru akan menilai berdasarkan apa yang Anda tulis. Kalau Anda ingin memperoleh nilai baik maka harus bekerja keras, mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Jadi hidup kita tidak hanya tergantung nasib sehingga Anda hanya berdiam diri saja. Sekali lagi perlu ditekankan: jangan menggantungkan diri pada nasib, tetapi bekerja keraslah, berusaha sebaik-baiknya, merencanakan segala sesuatu secermat-cermatnya.

Tanya: Tapi bukankah beriman berarti berserah kepada TUHAN?

Jawab: Ya. Kita harus berserah kepada TUHAN. Tetapi berserah itu artinya apa? Berserah kepada TUHAN artinya kita betul-betul menyerahkan diri dan menerima dengan ikhlas apa yang ditetapkan oleh TUHAN di dalam wewenang-Nya, kedaulatan-Nya, kebebasan-Nya. Hormati apa yang menjadi hak atau bagian TUHAN! Tetapi kita harus mengerjakan apa yang menjadi bagian kita, porsi kita, kewajiban kita. Itu artinya berserah; kita mengerjakan bagian kita dan mempersilakan TUHAN mengerjakan apa yang menjadi bagian TUHAN. Apa bagian kita? Berusaha sebaik-baiknya, bekerja sekeras-kerasnya. Dan apa yang menjadi bagian TUHAN? Menilai, mengambil keputusan mengenai apa yang kita kerjakan itu.

Tanya: Tapi bukankah TUHAN juga sudah menentukan porsi kemampuan masing-masing orang?

Jawab: Ya benar, ada orang yang diberi 5 talenta, 4 talenta, 2 talenta bahkan ada yang diberi 1 talenta. Tapi yang penting, berapa pun talenta yang TUHAN berikan kepada kita, kembangkan itu semaksimal-maksimalnya. Jangan diam saja, jangan tidak melakukan usaha apa-apa. Yang penting bukan berapa talenta yang menjadi porsi kita tapi usahakan yang terbaik. Jika Anda ingin sukses, berjuanglah dengan sungguh-sungguh. Orang-orang yang sungguh-sungguh sukses adalah orang-orang yang mau berusaha dengan merayap dari bawah. Orang-orang yang membuktikan diri bisa dipercaya mengelola hal-hal kecil, TUHAN akan memberikan kepadanya tanggungjawab yang lebih besar.

Tanya: Apakah itu berarti nasib bisa berubah?

Jawab: Ya, nasib bisa berubah. Mungkin manusia sendiri tidak mempunyai kuasa atau kemampuan untuk mengubahnya, tapi kita tidak dikuasai oleh nasib. Orang Kristen tidak boleh menjadi orang yang fatalis: menyerah pada nasib, seolah-olah nasib itu tidak bisa berubah dan tidak bisa diubah dan oleh karena itu tidak berbuat apa-apa untuk mengubah nasib. Nasib bisa berubah. Orang yang percaya pada TUHAN adalah orang yang selalu berpengharapan. Artinya keadaan apa pun yang tampaknya sudah tidak bisa diubah sama sekali, tetap percaya bahwa TUHAN bisa mengubahnya.

Tanya: Tapi kalau yang dimaksud nasib itu adalah apa yang ditentukan oleh TUHAN, apa itu juga bisa berubah dan diubah?

Jawab: Bisa! Sekali lagi bisa! Manusia atau kuasa apa pun di langit atau di bumi memang tak bisa mengubah keputusan TUHAN. Dan oleh karena itu juga tidak ada satu kuasa pun yang dapat menggagalkan apa yang sudah menjadi rencana dan kehendak ALLAH. Akan tetapi berulang kali Alkitab menceritakan betapa ALLAH mengubah keputusan-Nya. Misalnya, dalam 40 hari Niniwe akan dibongkar balik, tetapi kemudian TUHAN meninjau keputusan-Nya. Hizkia sudah diputuskan mati, ternyata kemudian masih diberikan perpanjangan hidup 15 tahun lagi.

Tanya: Jika demikian, apakah ALLAH itu plin-plan?

Jawab: O, jangan begitu menyimpulkannya. Kita malah harus bersyukur memiliki ALLAH yang seperti itu. Mengapa? Karena dua sebab. Yang pertama, hal itu menunjukkan betapa ALLAH kita sungguh-sungguh adalah ALLAH yang Mahakuasa. Artinya terhadap keputusan-Nya sendiri pun Ia tidak terikat, IA berkuasa untuk mengubah-Nya. Dan kedua, kita bersyukur karena itu menunjukkan bahwa ALLAH kita itu bukan ALLAH yang tidak punya perasaan. Ternyata hati ALLAH bisa bergetar oleh pertobatan manusia, oleh tangisan manusia, oleh ratapan manusia. Doa-doa kita tidak bisa memaksa ALLAH untuk mengubah keputusan-Nya, tetapi doa-doa kita bisa menggetarkan hati-Nya. Dan bila ALLAH menghendaki, IA bisa mengubah apa yang sebelumnya telah IA putuskan. Artinya, pertobatan kita mempunyai arti! Doa-doa kita mempunyai arti!

Jadi sebenarnya ketika melangkahkan kaki memasuki tahun baru, yang penting bukan mencari tahu bagaimana nasibku ditahun baru tapi bagaimana aku menjalani hidup di tahun baru? Ayunkan langkah memasuki tahun baru dengan hidup bertanggungjawab di hadapan TUHAN dan sesama. Hiduplah bersama TUHAN! Meskipun kita tak tahu apa yang akan terjadi esok, tapi bersama TUHAN kita siap berjuang dalam hidup ini. Selamat Tahun Baru! Selamat berjuang di tahun 2008!

TUHAN menyertai kita semua!

Tulisan ini disadur dari kumpulan kotbah: Spiritualitas Siap Juang,

karya Pdt Eka Darmaputera”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*