suplemenGKI.com

Minggu, 9 Juni 2019

08/06/2019

Mazmur 104:24-35

MELIHAT KEMULIAAN ALLAH MELALUI CIPTAAN-NYA

PENGANTAR
Kita tidak mampu melihat dan mengenal Allah jika Ia tidak mewahyukan (atau, menyingkapkan) diri-Nya kepada kita. Dan, salah satu cara yang cukup lazim dipakai Allah untuk menyatakan diri-Nya adalah alam semesta. Dengan melihat dan merenungkan keagungan alam ciptaan-Nya, kita dapat melihat kuasa-Nya yang kreatif, hikmat-Nya, kemurahan-Nya, dan kemuliaan-Nya.

PEMAHAMAN

  • Ay. 24-26. Hal apa sajakah yang diungkapkan mengenai Tuhan di bagian ini? (Perhatikan kata “ciptaan-Mu” di ayat 24a).
  • Ay. 27-30. Apa peran Tuhan bagi kelangsungan hidup ciptaan-Nya? Apa yang dapat kita pelajari mengenai hal ini?
  • Ay. 31-35. Melihat kemuliaan Tuhan di dalam ciptaan-Nya, apa yang harus kita lakukan? Sebutkan minimal dua hal.

Di bagian ini pemazmur mengajak kita melihat bagaimana Allah menciptakan alam semesta dengan kreatif dan bijaksana (ay. 24). Selain kreatifitas dan kebijaksanaan Allah, pemazmur juga mengungkapkan posisi Allah sebagai pemilik seluruh ciptaan (ay. 24c, “… bumi penuh dengan ciptaan-Mu”). Pemazmur menggambarkan laut yang luas dengan berbagai binatang yang tidak terhitung banyaknya. Atau, melampaui kemampuan kita untuk menghitungnya.   Pemazmur juga menyebut Lewiatan. Lewiatan adalah binatang laut yang besar yang ditakuti oleh orang-orang Kanaan. Namun di tangan Tuhan, Lewiatan itu menjadi binatang jinak yang mengikuti kapal yang sedang berlayar. Semua makhluk ciptaan-Nya adalah milik-Nya dan sepenuhnya berada dalam kendali kuasa-Nya.

Di ayat 27-30, pemazmur mengungkapkan bahwa kelangsungan hidup seluruh alam ciptaan-Nya bergantung mutlak kepada-Nya. Dalam hal makanan (ay. 27-28), bahkan dalam hal mati dan hidup (ay. 29-30), mereka ditopang sepenuhnya oleh Tuhan. Berbagai tindakan Allah disebutkan di ayat 28-30, “Engkau memberikannya”;  “Engkau membuka tangan-Mu”; “Engkau menyembunyikan wajah-Mu”; “Engkau mengambil roh mereka”; “Engkau mengirim roh-Mu”; dan, “Engkau membaharui muka bumi.” Kata-kata tersebut menegaskan sebuah kebenaran rohani yang penting: Tuhan masih terus berkarya di tengah alam semesta ciptaan-Nya.

Pemazmur menutup mazmurnya dengan ajakan untuk memuliakan Tuhan. Pertama-tama, pemazmur menggambarkan kemuliaan Tuhan yang dahsyat, yang membuat bumi gentar dan gunung-gunung berasap (ay. 31-32). Selanjutnya, pemazmur mengajak kita merespons kemuliaan Tuhan itu dengan puji-pujian yang dilakukan dengan penuh pengabdian (ay. 33, “… selama aku hidup”, “selagi aku ada”).  Pemazmur menutup mazmurnya dengan mengungkapkan kerinduannya agar bumi ciptaan-Nya, yang kaya akan anugerah-Nya ini, terbebas dari orang-orang jahat (ay. 35).

REFLEKSI
Allah tidak pernah berhenti berkarya di alam semesta dan di dalam kehidupan kita. Sudahkah Anda memuliakan Dia?

TEKADKU
Tuhan, mampukanlah aku melihat kemuliaan-Mu di dalam setiap ciptaan-Mu, khususnya dalam ciptaan-Mu yang kecil dan sederhana.

TINDAKANKU
Dalam seminggu ini, setiap hari, aku akan berupaya melihat kemuliaan Tuhan di dalam ciptaan-Nya, dan bersyukur memuji nama-Nya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«