suplemenGKI.com

Minggu, 9 Juni 2013

08/06/2013

Lukas 7:11-17

Sentuhan Kasih yang Membangkitkan

 

Pengantar
Kematian hampir selalu menggoreskan duka. Entah itu matinya orang yang kita kasihi, maupun matinya harapan yang kita nantikan jadi kenyataan, keduanya akan menorehkan luka. Namun hari ini kita akan merenungkan bersama bagaimana keadaan yang menyedihkan seperti itu tidak seharusnya menyeret kita ke dalam pusara derita.
Pemahaman

-          Menurut Saudara, dalam skala angka 1 (terendah) – 10 (tertinggi), pada
            angka berapa tingkat duka wanita yang kehilangan anaknya ini? Faktor
            apa saja yang mendukung pendapat Saudara tersebut?

-          Apa saja dampak yang timbul dari tindakan Yesus membangkitkan anak
           muda Nain ini? Dan apa pula dampaknya bagi kehidupan Saudara?

Kematian di Nain ini adalah kematian yang menggoreskan duka memilukan. Karena yang meninggal ini adalah anak laki-laki seorang janda. Dalam Alkitab, seorang janda biasanya menggambarkan sosok yang tidak punya sandaran hidup selain Tuhan sendiri. Karena itu keberadaan seorang anak pastilah sangat berarti bagi si janda. Apalagi dia anak laki-laki. Tentu tidaklah berlebihan bila ia menjadi harapan ibunya yang sudah janda itu. Satu hal lagi yang menegaskan duka tersebut, yaitu bahwa yang meninggal adalah anak tunggal. Wanita itu tidak memiliki anak lagi. Simpati warga kota yang begitu besar, sehingga banyak yang menyertai pemakaman tersebut, nampaknya turut serta menggarisbawahi kepiluan nestapa si janda.

Melihat kepedihan hati yang memilukan itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan. Maka Yesuspun bertindak. Iapun menghampiri usungan itu dan membangkitkan si anak muda tersebut. Dampak dari tindakan Tuhan Yesus ini sungguh luar biasa. Anak tunggal si janda itupun bangkit. Hal ini berarti bangkit pula harapan pada diri si janda. Harapan yang semula pudar oleh kematian itupun memancar kembali melalui sentuhan kasih Kristus yang membangkitkan. Bukan hanya itu, semua warga kota yang turut serta dalam iring-iringan pemakaman itu pun serasa mengalami kebangkitan juga. Semula mereka berjalan berarakan dalam suasana duka. Tapi kini mereka turut merasakan suasana suka. Mereka turut bersuka karena menyadari bahwa “Allah telah melawat umat-Nya” (ay. 16). Allah yang melawat ini adalah Allah yang penuh kasih, dan dengan kasih-Nya itu IA peduli terhadap derai air mata umat-Nya. Bukan itu saja, Allah yang penuh kasih itu ternyata juga Allah yang penuh kuasa. Sedemikian besar kuasa-Nya, hingga sanggup menaklukkan maut yang tak dapat ditaklukkan oleh siapapun. Hanya dengan sentuhan kasih-Nya, dan dengan suara-Nya yang penuh otoritas, maut telah dipaksa untuk melepaskan anak muda Nain dari cengkeramannya. Sukacita yang besar ini kemudian tersebar di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya (ay. 17).

Refleksi
Kadang kita mengalami keadaan yang memilukan, di mana harapan menjadi pudar. Hidup kita menjadi goyah karena apa yang kita andalkan tidak dapat lagi menjadi tumpuan hidup. Kita seakan berjalan untuk memakamkan asa, rencana dan juga impian. Tapi, sama seperti Yesus berada di jalan menuju pekuburan di kota Nain, DIA juga berada di jalan keputusasaan kita. Dia sedang mengulurkan tangan untuk menyetop prosesi kematian, guna membangkitkan harapan yang telah tiada itu.

Tekad
Doa: Tuhan Yesus, tolong celikkan mataku, agar dapat melihat-Mu yang sedang mengulurkan tangan untuk menghentikan usungan kematian harapan hidupku. Amin.

Tindakan
Mari kita membuat daftar hal-hal yang menghantar kita ke kuburan keputusasaan, serta menyerahkan semuanya kepada Kristus dalam doa kita.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«