suplemenGKI.com

Minggu, 9 Februari 2020.

Matius 5:17-20.

 

“Prasangka Buruk Penghambat Anugerah Kasih Allah”

Pengantar:
Berprasangka adalah berpendapat atau beranggapan yang kurang baik terhadap sesuatu sebelum mengetahui, menyelidiki dan menyaksikannya sendiri. Konon ada cerita tentang pertengkaran hebat antara dua orang ibu muda. Masalahnya adalah seorang ibu melihat temannya memakai cincin berlian. Entah apa yang merasuki pikirannya sehingga berprasangka yang kurang baik terhadap temannya yang memakai cincin berlian itu. Ia pun mulai menggosip ke teman-teman lainnya. Dalam waktu singkat bermunculanlah prasangka-prasangka yang lebih seru lagi. Salah satunya adalah muncul prasangka mungkin cincin berlian yang dipakai oleh temannya itu adalah dibeli dengan uang hasil korupsi. Jelas saja ibu tersebut tidak bisa menerima berbagai prasangka buruk tentang dirinya, sehingga terjadilah pertengkaran hebat yang berujung pada pihak berwajib. Matius 5:17-20, berbicara tentang prasangka para ahli taurat terhadap Yesus. Bagaimana Yesus menyikapi prasangka para ahli taurat dan farisi itu?

Pemahaman teks:

  1. Apa yang melatar-belakangi sehingga Yesus berkata seperti di ayat 17-18?
  2. Apakah maksud pernyataan Yesus pada ayat 19-20?

Kita tahu bahwa kehadiran Yesus dengan segala pengajaran-Nya memang sejak awal tidak dikehendaki atau tidak disukai oleh kelompok yang bisa disebut ahli taurat dan orang farisi. Mengapa, karena di satu sisi mereka adalah merasa berada pada pihak yang sangat sempurna di dalam mengamalkan dan melakukan hukum taurat, sedangkan di sisi lain Yesus dianggap sebagai pihak yang meniadakan hukum taurat, hanya karena Yesus sering menyembuhkan orang sakit pada hari sabat. Bagi orang farisi hari sabat adalah mutlak tidak boleh melakukan apa saja sekalipun menolong orang sakit. Dari sanalah prasangka buruk terhadap Yesus muncul. Pernyataan Yesus pada ayat 17 adalah sebuah koreksi terhadap kesalahpahaman tentang sabat. Letak kesalahpahaman itu adalah pada perbedaan penghayatan penghormatan hari sabat. Para farisi, ahli taurat dan orang Yahudi pada umumnya menghormati hari sabat dengan cara tidak melakukan pekerjaan walau sekecil apapun termasuk menolong orang sakit. Hal itu terjadi karena mereka hanya menitik beratkan pada aturan kaku, dan jika mereka melakukannya dengan sempurna maka mereka merasa itulah yang membawa kelepasan dan keselamatan bagi mereka. Padahal keselamatan sesungguhnya hanya karena anugerah Allah. Dan Yesus melihat sabat adalah sarana kegenapan anugerah Allah untuk menyelamatkan manusia, sehingga hari sabat tidak perlu menjadi penghalang untuk menyembuhkan dan menolong orang yang membutuhkan kelepasan dan keselamatan. Pernyataan Yesus di ayat 19 sebetulnya tertuju kepada para ahli taurat dan orang farisi yang justru menjadikan hari sabat sebagai penghalang kasih Allah dinyatakan kepada manusia yang membutuhkan.

Refleksi:
Mari kita merenung sejenak. Apa sajakah yang sering menghalangi saudara untuk menyatakan kasih Allah kepada sesama? Mungkin itu adalah prinsip hidup saudara, atau cara pandang saudara? Atau prasangka saudara terhadap sesuatu? Mari menjadikan anugerah Allah lebih tinggi dari prinsip, cara pandang, prasangka kita, agar kasih Allah tidak terhalang untuk hidup kita maupun hidup sesama kita.

Tekadku:
Tuhan, saya merindukan pertolongan-Mu agar saya mampu mengedepankan anugerah-Mu demi mewujudkan kasih-Mu dalam hidup pribadi saya maupun dalam karya saya bagi sesama.

Tindakkanku:
Saya mau menjauhi setiap bentuk prasangka buruk dari hidup saya, agar saya dapat menjadi saluran anugerah kasih Allah kepada sesama yang membutuhkannya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«