suplemenGKI.com

Seruan Bertobat

Lukas 3:1-6

 

Pengantar
                Terkadang rutinitas membuat kita sulit melakukan introspeksi diri, sehingga kita sangat mudah sekali menganggap apa yang kita kerjakan dan lakukan itu selalu baik dan benar. Bahkan sebagian besar orang, tidak mau atau tidak bersedia melakukan introspeksi diri, karena dianggap buang-buang waktu. Apa yang Yohanes pembaptis lakukan pada jamannya? 

Pemahaman
Ay 1-2, Apa yang Lukas gambarkan tentang keadaan bangsa Israel?
Ay 3, Apa yang Yohanes serukan kepada bangsa Israel?
Ay 4, Untuk apa Yohanes menyerukan suaranya?
Ay 5-6, Apa yang akan terjadi dengan “suara di padang gurun” tersebut?

Lukas memberikan gambaran adanya orang-orang yang terkenal pada waktu Yohanes mendapat panggilan Tuhan. Bahkan ada 2 imam besar Hanas dan Kayafas di bangsa Israel pada waktu itu. Namun firman Allah tidak datang kepada 2 imam besar tersebut namun firman Allah datang kepada Yohanes Pembaptis di padang gurun

Dengan penuh keyakinan akan adanya berita Tuhan yang mesti disampaikan, maka Yohanes Pembaptis dengan lantang menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu”. Yohanes pembaptis menyampaikan berita pertobatan ini kepada semua orang di Israel, baik kepada rakyat biasa maupun kepada seluruh kaum rohaniwan juga bangsawan.

Yohanes menyerukan untuk bertobat dan mempersiapkan jalan buat kedatangan Tuhan.

Yohanes ingin semua orang di Israel dapat melihat dan mempercayai keselamatan datangnya dari Tuhan. Maka Yohanes tak henti-hentinya menyerukan pertobatan bagi setiap orang di Israel.

Tentu kehadiran Yohanes Pembaptis ditanggapi dengan berbagai macam reaksi. Bagi mereka yang merindukan suara nabi hal ini sangat dinanti-nantikan dan mereka menyambut kedatangan Yohanes dengan antusias. Namun bagi kaum rohaniwan hal ini bisa dianggap sebagai sebuah ancaman baru yang datang kepadanya. Bagi kaum rohaniwan, mereka sudah bertahun-tahun merasakan kenyamanan yang ada di Israel, kehadiran Yohanes dengan suaranya yang lantang tentu membuat mereka menjadi resah dan tidak nyaman lagi. Ternyata “suara di padang gurun” itu mampu menggoncangkan kemapanan tiap orang di Israel juga kita yang di sini.

Sejauh mana kita berani mengintrospeksi diri sendiri dan berani mengubah yang salah? Bagaimana sikap kita melihat orang lain yang “mengoreksi” hidup kita?

Refleksi
Ambil beberapa menit untuk merenungkan: Berapa sering saya melakukan introspeksi diri sendiri? Bagaimana perasaan saya, ketika ada orang lain yang mengingatkan kesalahan yang sudah saya perbuat?

Tekadku
Ya Tuhan, berikan kerendahan hati untuk dapat menerima kritikan atau masukan yang membangun diri saya.

Tindakanku
Hari ini saya akan melakukan introspeksi diri, dan menuliskan hasilnya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«