suplemenGKI.com

Siap Sedia Dan Berjaga-Jagalah Maka Kamu Akan Bahagia

(Lukas 12:35-40)

Segala sesuatu baru akan menjadi baik dan berhasil jika dipersiapkan dengan baik. Waktu saya memimpin retreat salah satu komisi dari sebuah gereja, yang diadakan di luar kota. Di sana mereka menyewa sebuah rumah makan yang kebetulan menyediakan juga sebuah aula dengan ukuran cukup untuk menampung sekitar 120 peserta. Ketika saya dan rombongan tiba di lokasi tersebut, betapa kagetnya kami bahwa ternyata ruangan dan peralatan sama sekali belum dipersiapkan. Semua masih berantakan dan tidak tertata. Sementara rombongan yang datang secara bersamaan, sudah langsung ingin duduk dan mengikuti acara. Tetapi karena semua belum siap maka mereka akhirnya berkeliaran dan masing-masing dengan acaranya sendiri-sendiri. Suasana seperti itu ternyata sangat berdampak pada seluruh rangkaian kegiatan retreat tersebut. Kesimpulannya semua jadi berjalan dengan tidak manis dan tidak menyenangkan. Bagi saya hal itu sangat disayangkan, karena peserta retreat sudah pasti menyiapkan diri dari rumah dengan segala kemampuannya, tetapi disambut dengan ketidaksiapan dari pihak pengelola rumah makan, sehingga sangat mengurangi sukacita dan antusias peserta. Dengan demikian setiap acara dan firman Tuhan yang disampaikan pun diserap dengan tidak maksimal. Betapa fatalnya dampak akibat ketidaksiapan.

  • Menurut saudara, ungkapan “Berjaga-jagalah dan Siap sedialah” Apa yang hendak ditekankan terkait dengan kehidupan kita sebagai orang percaya?
  • Apa pula yang dimaksud dengan ketidaktentuan waktu kedatangan tuan (tengah malam, dini hari) bahkan sampai digambarkan seperti pencuri datang tidak pernah pada waktu yang dikonfirmasi terlebih dahulu, apa kaitannya dengan tugas seorang hamba?

Renungan:

Bacaan Luk 12:35-40, tidak terlepas dengan konteks pada ayat-ayat sebelumnya, yaitu masih berbicara tentang sikap orang-orang beriman yang mengarahkan tujuan hidup mereka kepada Allah. Orang-orang beriman tersebut mengarahkan tujuan hidup mereka kepada kerajaan Allah adalah dalam wujud sedang menanti-nantikan kedatangan Anak Manusia.

Yesus memberikan suatu perumpaman untuk menggambarkan masa penantian itu dan bagaimana sikap yang baik dalam masa penantian tersebut. Secara jelas setiap pendengar-Nya dikaitkan dengan hamba-hamba yang diberi kepercayaan untuk menjaga rumah tuanya yang sedang bepergian. Dan hamba-hamba itu tidak mengetahui kapan tuannya akan datang. Kedatangan tuannya bisa terjadi kapan saja pada waktu yang tidak bisa diprediksi. Untuk mengantisipasi keadaan tersebut maka tidak ada cara lain bagi para hamba, kecuali harus berjaga-jaga dan siap sedia setiap saat. Tentu yang Yesus maksudkan bukan tentang waktu secara hurufiah (berjaga 24 jam sehari berjaga-jaga) tetapi yang hendak ditekankan dalam perumpamaan itu adalah hamba-hamba itu harus mempunyai sikap yang aktif dan serius serta tidak memandang remeh tugas dan tanggungjawabnya sebagai penjaga rumah tuannya. Termasuk siap sedia di dalam menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi. Barangkali akan terjadi kemungkinan yang baik atau ada kemungkinan akan terjadi hal yang tidak baik. Dalam keadaan apapun juga hamba-hamba tetap siap sedia.

Ayat. 35-40 sepertinya berbicara tentang sesuatu yang bersifat eskatologis (Tentang kedatangan Tuhan Yesus yang ke dua kali kelak) tetapi arah pembicaraan Yesus sebetulnya lebih kepada bagaimana sikap dan kehidupan orang-orang yang beriman dalam kehidupannya sehari-hari saat sekarang ini.

Kehidupan sehari-hari ini memang banyak tantangan dan kesulitan bahkan tantangan itu bukan saja menyangkut hal-hal lahiriah tetapi juga menyentuh juga hal-hal rohaniah. Ketika kita menyikapi tantangan itu tidak dengan berjaga-jaga dan siap sedia, maka kita akan mudah terbawa arus gelombang kehidupan yang tidak menentu, bahkan salah-salah kita bisa tersesat dan binasa. Hal semacam itu tentu bukan kebahagiaan yang dialami tetapi dukacita. Untuk itu marilah kita terus berjaga-jaga dan siap sedia dengan berpegang teguh pada Yesus dan setia kepada-Nya dalam relasi kita kepada-Nya maupun pelayanan kita. maka kita akan bahagia.

“Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, karena berbahagialah mereka

yang memelihara jalan-jalanku”

(Amsal 8:32)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*