suplemenGKI.com

Markus 10:13-16

 

Antara yang Datang dan si Penghalang

 

Anak adalah anugerah. Sayangnya, kadang kita tidak memperlakukan mereka sebagai berkah. Tanpa disadari, mungkin, kita banyak menjarah hak-hak mereka. Perenungan kita hari ini berbicara tentang bagaimana seharusnya kita memperlakukan anak-anak.

-  Mengapa para orangtua dalam perikop kita hari ini membawa anak-anak mereka kepada Kristus?

- Mengapa para murid Kristus menghalang-halangi upaya para orang tua itu?

- Dengan cara apa Saudara membawa atau tidak membawa anak-anak Saudara kepada Kristus?

 

Renungan

Latar belakang orang yang dibawa atau datang kepada Kristus biasanya adalah karena sakit. Misalnya saja ketika orang banyak melihat Kristus sedang menyusur pantai danau Galilea, mereka berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus (Mat. 15:29-30). Demikian pula ketika Kristus berada di Genesaret, begitu orang Genesaret mengenali Kristus, maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya (Mat. 14:35). Hal yang sama juga terjadi pada waktu Kristus sedang di Kapernaum. Di tengah-tengah kerumuan orang banyak yang memadati rumah tempat Kristus berkhotbah, datanglah empat orang yang membawa temannya kepada Kristus dengan cara menjebol atap rumah tersebut (Mar. 2:1).

Berbeda dengan semua catatan di atas, kali ini orang membawa anak-anak kecil kepada Kristus. Tidak ada indikasi sama sekali bahwa anak-anak kecil ini sakit. Kerinduan para orang tua itu hanyalah agar Kristus menjamah anak-anak tersebut. Sebagaiman tangan Kristus yang penuh kuasa itu menjamah orang sakit dan menyalurkan kesembuhan, demikianlah mereka berharap agar tangan yang sama itu juga menjamah anak-anak dan mengalirkan berkat-Nya atas kehidupan anak-anak tersebut.

Namun para murid menjadi marah. Perlu diingat bahwa pada saat itu Kristus baru saja mengajarkan tentang perceraian yang berbeda dengan konsep pada umumnya waktu itu. hal ini membingungkan para murid. Bahkan dalam Injil Matius dicatat bahwa para murid itu berkata kepada-Nya: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.” (Mat. 19:10), sebuah komentar yang menandakan ketidaksiapan mereka menerima pengajaran Kristus. Di tengah-tengah kebingungan itu tiba-tiba situasi menjadi ribut karena kehadiran anak-anak. Kebanyakan kita membutuhkan ketenangan saat menghadapi ketegangan. “Harap tenang, ada ujian” demikian biasanya tulisan yang kita baca.Karena berfokus pada kehendak diri, para murid gagal untuk mengenali kehendak Allah. Alih-alih menolak anak-anak kecil itu, Kristus malah menyambut mereka, memeluk mereka, dan memberkati mereka.

Apa yang sudah kita lakukan terhadap anak-anak yang telah Tuhan percayakan kepada kita? Sudahkah kita membawa mereka datang kepada Kristus, ataukah kita malah menjadi penghalang? Apakah yang telah kita lakukan untuk membuat mereka semakin mengenal Kristus?

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«