suplemenGKI.com

Minggu, 7 Juni 2020

06/06/2020

AJARLAH MELAKUKAN

Matius 28:16-20

 

PENGANTAR
Apa yang kita sampaikan kepada seorang sahabat yang akan pergi selamanya?  Siapapun akan memilih tidak menceritakan kisah sedih masa lalu, tetapi akan menggunakan kesempatan untuk berterimakasih kepadanya. Pilihan yang wajar mengingat waktu yang dimiliki tidak banyak.  Tapi bagaimana bila yang terjadi sebaliknya? Alih-alih menggembirakan tapi justru yang terjadi mengecewakan, seperti pengalaman beberapa murid yang ragu-ragu ketika bertemu dengan Yesus menjelang kenaikan-Nya.  Tidakkah hal itu mengecewakan?  Namun mengapa hal itu terjadi?  Lalu, bagaimana Yesus menanggapinya?  Mari kita baca dan renungkan! 

PEMAHAMAN

  • Bagaimana respons para murid ketika berjumpa dengan Yesus terakhir kalinya? (ayat 17)
  • Apa yang dilakukan dan dipesankan Yesus dalam situasi seperti itu? (ayat 18-20)
  • Bagaimana respons kita terhadap sikap dan pesan Yesus bagi kehidupan masa kini?

Tampaknya bagi beberapa murid, misi Yesus belum juga mampu dipahami secara tepat.  Bahkan mungkin mereka juga masih bingung mengenai siapa Yesus sesungguhnya (ayat 16), pasca kebangkitan-Nya. Padahal selama ini mereka termasuk dekat dan berpelayanan bersama Yesus.  Tidak tertutup kemungkinan mereka yang ragu masih mempunyai pengharapan mesianik yang berbeda dengan tujuan kedatangan Yesus.  Mereka mengharapkan karya Yesus bagi kehidupan sosial politik (Bdk Kis 1:6).  Namun apapun yang menjadi alasan keraguan, Yesus tetap “mendekati mereka” dan menegaskan apa yang menjadi benang merah karya pelayanan-Nya, yaitu “jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (ayat 19).  Tapi bukankah inti perintah semacam itu juga pernah disampaikan Yesus ketika mengutus para murid (Mat. 10:5-15; Luk. 10:1-12). Lalu apa masalahnya? Apa yang menyebabkan mereka ragu?

Kata “melakukan” (ayat 20) secara harfiah berarti “mengamati”.  Bukan sekadar “melihat” tapi “memperhatikan detail”.  Kata ini memberi tekanan pada pentingnya memperhatikan sebagai dasar untuk melakukan kebenaran.  Dengan kata lain, orang yang tidak melakukan berarti sejak awal tidak paham atau kurang memperhatikan pengajaran yang disampaikan.  Itu sebabnya, setelah  perintah: “pergilah, jadikanlah, dan baptislah” (ayat 19), Yesus meminta para Murid untuk melakukan perintah tersebut sebagai wujud bahwa mereka mengerti, taat dan bersedia melakukannya. Termasuk mereka harus sepakat dan menerima apa yang menjadi tujuan utama pelayanan Yesus di dunia. Tanpa kesediaan “melakukan”, kebenaran yang diterima seolah tidak berarti. Kebenaran inilah menjadi jawaban mengapa masih ada beberapa murid yang ragu-ragu.  Alasannya jelas, mereka belum sepenuhnya menerima pengajaran Yesus.  Wajar bila melakukannya pun dalam keraguan.

Bagaimana dengan kita, masih adakah keraguan melakukan perintah Yesus?  Bukankah mendengar untuk dilakukan, bukan untuk dilupakan? Marilah fokus pada perintah Agung Tuhan Yesus dengan cara melakukannya dalam keseharian hidup kita melalui kata, sikap dan tindakan di manapun kita berada.

REFLEKSI
Mari merenungkan: Kebenaran tanpa dilakukan apa gunanya, sebaliknya melakukan tanpa didasari kebenaran hanya akan menghasilkan kesesatan.  Jadi, mari terus belajar kebenaran-Nya dan mewujudkan dalam tindakan atau melakukannya dalam keseharian hidup.

TEKADKU
Terimakasih ya Tuhan, Engkau sudah mengingatkanku melalui kebenaran firman-Mu.  Aku bertekad untuk sungguh-sungguh belajar perintah-Mu dengan tekun.  Aku bertekad mewujudkan perintah-Mu melalui perilakuku. 

TINDAKANKU
Aku mau belajar menyampaikan kabar baik, kebenaran-Nya kepada sesamaku.  Aku mau menceritakan siapa Yesus kepada orang terdekatku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»