suplemenGKI.com

Markus 7:31-37

BERBELA RASA

 

PENGANTAR
Ketika diperhadapkan pada situasi seperti dalam bacaan, mana yang biasa kita pikirkan pertama kali: memastikan siapa orang tersebut sehingga pertolongan yang kita berikan bisa tepat sasaran?  Atau  mencari kemungkinan tindakan tepat apa yang bisa dilakukan? 

PEMAHAMAN

  • Ayat 32: Ceritakan keadaan seseorang yang dibawa kepada Yesus? Apa yang diminta?
  • Ayat 33-35: Apa yang terjadi pada orang tersebut setelah Yesus berdoa?
  • Apa yang bisa saudara lakukan bila menghadapi situasi yang sama?

Alkitab tidak menceritakan berapa lama seorang yang diceritakan dalam perikop ini mengalami sakit tuli dan gagap?  Yang menarik adalah kata, “orang” yang dalam versi lain memakai “they” untuk menunjukkan bahwa lebih dari satu orang yang berusaha membawa si sakit datang dan memohon kesembuhan kepada Yesus.   Mungkin yang dimaksud adalah keluarganya, bukan orang lain.  Alasannya, pada masa itu umumnya mereka yang sakit sejak lahir atau tidak sembuh dari sakitnya, dipahami sebagai bentuk hukuman dewa, sehingga harus dijauhkan dari masyarakat.  Meskipun masyarakat seolah punya lebih dari satu alasan untuk melihat keadaan seseorang sebagai syarat penerimaan, tapi Yesus justru mempraktikkan kehidupan yang sebaliknya.  Yesus menerima siapapun dan apapun keadaannya saat datang kepada-Nya. Tidak ada alasan bagi Yesus untuk menolaknya.

 

Kata kuncinya ada pada kalimat, “Yesus memisahkan diri dari orang banyak”.  Dalam konteks ini Yesus sengaja menjauh dari popularitas publik.  Bagi Yesus, yang terpenting adalah memberikan pertolongan sesuai dengan yang dibutuhkan.  Bukan popularitas diri.  Yang terpenting adalah bela rasa yang terbukti, bukan pujian diri. Yesus berbela rasa dengan cara memberikan pengalaman kesembuhan dari Allah.  Yesus membagikan keteladanan hidup dengan cara menolong mereka yang membutuhkan.  Alhasil, “seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik” (ay.35).

Tidak jarang keadaan ‘khusus’ seseorang seolah menjadi kendala buat kita, bukan hanya untuk dekat dan menjamah tapi juga untuk menolong.  Memastikan siapa orang tersebut pada akhirnya menjadi alasan bagi kita untuk menunda apa yang seharusnya kita lakukan, yaitu menolong.  Perikop ini mengajarkan kepada kita untuk memiliki kepekaan dan keinginan berbela rasa melalui tindakan menolong orang lain bebas dari keterbatasan dirinya.  Mungkin yang kita lakukan tidak selalu berdampak pada hal-hal fisik.  Tidak menjadi persoalan, sebab kita juga bisa memberikan semangat dan dorongan melalui bela rasa yang kita nyatakan kepada mereka yang membutuhkan.  Kiranya teladan Yesus mendorong kita untuk terus berbela rasa dan melakukan hal yang maksimal untuk menolong siapapun sesama kita.

REFLEKSI                                                                          
Tuhan Yesus memberikan teladan bahwa setiap tindakan yang Dia lakukan bagi manusia, dibangun atas dorongan untuk berbela rasa bagi siapapun.

TEKADKU
Tuhan tolong aku untuk memiliki hati yang berbela rasa, sebab hati seperti itu menjadi pintu gerbang bagiku untuk menolong orang lain.

TINDAKANKU
Hari ini aku mau memelihara hati yang berbela rasa dengan cara mewujudkannya melalui tindakan yang menolong orang lain dalam keadaannya di …… (keluarga, tetangga, tempat kerja, dll)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«