suplemenGKI.com

ALLAH YANG HIDUP

Lukas 20: 27-38

 

Pengantar

Tidak dapat dipungkiri, rasa ingin tahu manusia mengenai misteri alam semesta, manusia, Allah, dan kehidupan setelah kematian sangatlah besar. Dengan keyakinan terhadap akal budi, ada manusia yang kemudian percaya bahwa dirinya mampu mengungkapkan misteri itu dan menjadi tidak percaya terhadap kehidupan setelah kematian. Alhasil, yang dilakukan adalah secara tidak  bertanggung jawab menjalani kehidupan demi kesenangan semata tanpa memikirkan apapun. Ada pula yang menjadi terlalu fokus kepada  kehidupan setelah kematian sehingga kurang memperhatikan kehidupan nyata di dunia. Lantas bagaimana orang beriman seharusnya menanggapi hal tersebut?

 

Pemahaman

 

  • Ayat 27-33    : Mengapa orang Saduki mempertanyakan perihal hukum perkawinan levirat (saudara laki-laki suami menggantikan kedudukan suami yang meninggal jika tidak memiliki anak) dan kebangkitan kepada Yesus?
  • Ayat 34-36    : Bagaimana Yesus menanggapi pertanyaan orang Saduki tersebut?
  • Ayat 37-38    : Bagaimana kita memaknai kebangkitan di dalam iman Kristen?

 

Orang Saduki adalah kelompok yang memegang teguh ajaran 5 kitab Musa saja. Hal tersebut membuat agama mereka hampa dan formal. Mereka percaya pada kitab Musa, tetapi cara tafsir mereka bersifat rasionil, sistematis dan spekulatif. Mereka percaya bahwa akal budi memiliki sifat Ilahi. Sebab itu, bagi mereka akal budi memiliki kemampuan tanpa batas untuk menyingkapkan misteri hidup, termasuk rencana-rencana Allah. Dengan demikian, orang Saduki tidak percaya akan kebangkitan dan dunia adikodrati (kejadian yang tidak dapat dijelaskan dengan hukum alam/berada di luar alam).

Orang Saduki memilih tema konkret mengenai hukum Levirat sebab hukum itu dikenal baik oleh masyarakat pada saat itu. Namun maksud mereka justru melampaui perkawinan. Sebab sesungguhnya mereka mempertanyakan ‘bagaimana’ hidup di akhirat. Orang saduki terjebak pada pertanyaan ‘bagaimana’ kehidupan sesudah kematian itu atau membayangkan eksistensi di surga berdasarkan kehidupan di bumi, tanpa sebuah penghayatan iman. Hal ini membuat orang Saduki memandang hidup di bumi sama modelnya dengan hidup di akhirat. Sementara itu, Yesus tidak terjebak dalam sebuah kasus konkret buatan orang Saduki tersebut. Yesus tidak berbicara tentang ‘bagaimana’, namun Ia dengan jelas menegaskan bahwa hidup itu adalah baru, tidak terbayangkan dan berlangsung dalam kehadiran Allah. Dengan demikian sebagai orang Kristen, hal penting yang harus diketahui adalah kita harus mau melewati hidup bersama Yesus lewat kematian untuk sampai kepada hidup kebangkitan. Oleh karena itu, terlepas dari kebangkitan dan kehidupan setelah kematian, orang beriman sejati adalah yang tetap menjalani hidup bersama Yesus.

Iman akan kebangkitan adalah keyakinan. Allah yang hidup tidak pernah berhenti memberi hidup, sehingga Abraham maupun para bapa bangsa lain tetap menikmati hidup sejati. Hal inipun tetap berlaku bagi setiap orang yang beriman kepada Allah.

 

Refleksi

Ambillah waktu hening sejenak dan pejamkan mata! Sudahkah selama ini Anda memaknai kebangkitan sebagai peristiwa iman yang dianugerahkan Tuhan? Apakah Anda telah menghidupi iman akan kebangkitan dengan setia hidup beriman kepada Kristus?

 

Tekadku

Tuhan, mampukan aku menggunakan hari demi hari untuk hidup di dalam Yesus sehingga imanku kepada-Mu  semakin bertumbuh.

 

Tindakanku

Mulai saat ini, setiap malam aku akan bersaat teduh dan bertanya kepada diri sendiri “apa sajakah   kegiatan yang telah ku lakukan hari ini untuk mewujudnyatakan imanku kepada Tuhan Yesus Kristus?

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«