suplemenGKI.com

Minggu, 6 Maret 2016

05/03/2016

YANG MENINGGALKAN, YANG DIKASIHI

Lukas 15:11-33

 

Pengantar
Bagaimana perasaan Saudara jika kekasih melawan Saudara, bahkan pergi meninggalkan Saudara begitu saja padahal Saudara telah memberikan segalanya yang terbaik demi dia? Saudara pasti merasa sedih dan berangsur-angsur kesedihan itu berubah menjadi kekecewaan yang berpuncak pada kemarahan yang besar. Bagaimana tidak? Saudara telah memberikan yang terbaik semaksimal mungkin, namun dibalas dengan tindakan yang amat buruk. Keadaan ini pasti  amat menyesakkan!

Pemahaman

  • Ayat 11-33: Bagaimana kasih dan pengampunan bapa yang begitu besar itu terwujud secara nyata dalam relasinya dengan anak bungsu yang telah bertahun-tahun meninggalkannya? Tidak ada dendam, tidak ada kemarahan, yang ada hanya perasaan sukacita dan penerimaan secara utuh ketika anak itu kembali pulang!

Sikap yang ditunjukkan figur bapa dalam kisah perumpamaan anak yang hilang itu di luar dugaan pikiran manusia. Allah yang difigurkan dengan sosok bapa melakukan apa yang tidak selazimnya dilakukan dunia; Allah melakukan jauh melebihi dari apa yang diduga manusia. Ketika anak bungsu yang durhaka itu pulang, bapa justru berlari (=gairah meluap-luap; luapan senang luar biasa) memeluk anak bungsu itu. Bahkan, bapa meminta para pegawainya untuk membuatkan pesta kepulangan si anak itu.

Berbeda dengan apa yang ditunjukkan oleh sikap si anak sulung. Si sulung melihat bahwa tindakan Sang bapa adalah lebay, dan tidak semestinya sang Bapa berbuat baik seperti itu. Si sulung menuntut ganjaran yang setimpal diberikan kepada si bungsu atas sikapnya yang durhaka kepada sang bapa. Di lain pihak, si bungsu justru tidak mengharapkan sesuatu yang lebih besar selain daripada pengampunan sang bapa. Si bungsu sadar bahwa sikapnya amat sangat telah menyakiti orang tuanya.

Bukankah seringkali kita juga berada di posisi sebagai anak sulung yang selalu meminta ganjaran setimpal bagi orang-orang berdosa? Seringkali kita merasa bahwa anak bungsu itu seharusnya dihukum sebab perbuatannya sangat menyakiti bapa. Tapi, pernahkah kita memiliki hati dan pikiran seperti bapa yang selalu merentangkan tangan-Nya bahkan selalu berlari-lari dalam kegirangan dalam menyambut orang berdosa?

Refleksi
Ambillah waktu hening, dengan posisi duduk senyaman mungkin. Bayangkanlah bahwa Saudara adalah anak bungsu itu, yang dalam kesedihan mengharapkan belas kasih dan cinta Allah Bapa. Akhiri keheningan imajinatif ini dalam sebuah kalimat komitmen mengenai tekad apa yang akan Saudara lakukan ketika berrelasi dengan orang berdosa yang Saudara temui.

Tekadku
Aku mau belajar bersikap seperti Sang Bapa yang selalu membuka tangan-Nya pada semua orang tanpa terkecuali. Aku mau belajar mengasihi tanpa pandang bulu. Amin.

Tindakanku
Aku belajar mengasihi dan menerima orang-orang yang membenci dan menyakiti hatiku. Aku akan menyambut dengan sukacita setiap orang yang pernah menyakitiku. Aku mau bersikap sebagaimana bapa bersikap terhadap si bungsu.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«