suplemenGKI.com

Memancarkan Terang dengan Hidup Benar

Matius 5:17-20

Pengantar

Perikop bacaan kita hari ini bersinggungan dengan kaum Farisi. Karena itu, sebelum kita merenungkan teks Kitab Suci kita hari ini, mari kita “berkenalan” sekilas dengan orang Farisi.

Golongan Farisi adalah orang-orang yang bertugas untuk menegakkan pelaksanaan syariat hukum Taurat.  Mereka bertugas sebagai pengamat dan penegak hukum Taurat dalam kehidupan masyarakat.  Mereka suka memperhatikan hal-hal yang sangat kecil, sehingga kesalahan sekecil apapun harus dihukum sesuai hukum Taurat sebab mereka yakin bahwa Allah mencintai orang yang taat kepada hukum Taurat dan menghukum orang yang tidak taat.

Pemahaman

Ayat 17-18: Mengapa Kristus berkata bahwa Ia tidak datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi? Adakah pihak-pihak tertentu yang menuduhnya demikian? Kalau ya, mengapa mereka melakukannya?

Ayat 19-20: Apakah yang ingin diluruskan Kristus? Mengapa demikian?

Nampaknya kemunculan Kristus tidak terlepas dari pengawasan orang Farisi. Hal ini tidaklah mengherankan apalagi mengingat tugas orang Farisi seperti yang sudah dijelaskan di pengantar perenungan hari ini. Selain itu kita juga harus mengingat bahwa sekitar enam bulan sebelumnya, ada kemunculan Yohanes Pembaptis yang juga menarik perhatian orang Farisi sebagai pengamat dan penegak hukum Taurat dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan pengamatan orang Farisi terhadap gerak gerik Kristus tentunya lebih cermat lagi. Mereka mengamat-amati apakah perilaku maupun pengajaran Kristus ada yang bertentangan dengan Taurat atau tidak. Dengan latar belakang yang demikian, Kristus menyatakan dengan tegas bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Istilah Yunani yang diterjemahkan “meniadakan” di sini memang dapat berarti merusak, membongkar, meruntuhkan, merombak, bahkan melenyapkan. Kristus sama sekali tidak bermaksud untuk meniadakan Taurat, tetapi justru untuk menggenapinya.

Meskipun demikian, Kristus melihat adanya kesalahan dalam pemahaman dan penerapan hukum Taurat tersebut. Hal inilah yang kemudian dikritisi untuk diluruskan oleh Kristus. Celakanya, nampaknya kekeliruan tersebut sudah berurat akar serta membudaya dalam kehidupan orang Israel pada waktu itu, bahkan seakan sudah menjadi bagian dari identitas diri mereka. Akibatnya, ketika Kristus mengkritisinya, seakan Kristus sedang menentang jati diri mereka. Hal ini membuat mereka tidak senang serta memusuhi Kristus.

Refleksi

Dibutuhkan kerendahan hati yang sangat besar untuk mau menerima koreksi atas apa yang sudah mendarah daging dalam kehidupan seseorang. Apabila kita kehilangan hati yang mau belajar dan diajar, maka semakin sulit bagi kita untuk berubah.

Tekad

Doa: Ya Tuhan, berikanlah kerendahan hati kepada saya agar memiliki hati yang mau belajar dan diajar. Amin.

Tindakan

Saya akan mengevaluasi diri setiap hari agar senantiasa hidup benar di hadapan Allah.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«