suplemenGKI.com

Kegalauan yang Membawa Kedamaian

Matius 3:7-12

 

Pengantar

Yohanes Pembaptis telah muncul secara fenomenal. Penampilannya yang memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, tentulah cukup atraktif sehingga menarik perhatian orang-orang sekitar. Dan bukan hanya penampilannya saja yang menarik perhatian, tetapi khotbahnya juga. Seruan pertobatan dalam rangka menyongsong kerajaan sorga adalah tema mesianik yang pasti menarik perhatian masyarakat yang tengah merindukan kedatangan sang Mesias itu. Kelanjutan kiprah pelayanan Yohanes Pembaptis ini akan menjadi bahan perenungan kita hari ini.

Pemahaman

Ay. 7       : gelar apakah yang diberikan Yohanes Pembaptis kepada para pemuka agama yang datang kepadanya?

Khotbah Yohanes Pembaptis adalah khotbah yang keras. Pemilihan kata yang dipakainya dapat membuat telinga memerah, termasuk telinga orang Farisi dan Saduki yang pada waktu itu turut hadir dalam “KKR” Yohanes Pembaptis. Betapa tidak, mereka yang biasa dihormati, kini disebut dengan gelar sindiran, “Hai kamu keturunan ular beludak”. Ular beludak adalah seekor ular yang memiliki penampilan menarik karena warna kulitnya. Tetapi ular ini sangatlah berbisa. Di mata Yohanes Pembaptis, penampilan orang Farisi dan Saduki memang indah dipandang, tetapi apa yang diajarkan mereka sangatlah mematikan. Sebab mereka tidak membawa orang semakin dekat dengan kerajaan Allah, tetapi sebaliknya malah menjauhkan orang dari kerajaan Sorga itu, sekalipun mereka seakan-akan menggembar-gemborkan Taurat Tuhan.

Yohanes Pembaptis mengingatkan para pemuka agama itu secara langsung, bahwa mereka berada di bawah bayang-bayang penghukuman Allah sekalipun mereka memiliki kehidupan keagamaan yang wah. Sebab keagamaan (religiositas) mereka tidak sejalan dengan kerohanian (spiritualitas) mereka. Itulah sebabnya Yohanes Pembaptis secara lugas berkata, “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” (ay. 8).

 

Refleksi

Siapapun kita, pasti akan merasa galau pada waktu ditegur karena dosa yang kita lakukan. Tapi sesungguhnya kegalauan semacam ini adalah kegalauan yang mendatangkan pemulihan serta kedamaian. Sayangnya kadang kita tergoda untuk menghubungkan kegalauan itu dengan kegoyahan harga diri kita. Akibatnya, kita lebih memilih untuk menyikapi teguran itu secara reaktif dan bukannya reflektif.

 

Tekad

Doa: Tuhan Yesus, tolonglah saya untuk belajar bersikap reflektif dan bukannya reaktif. Amin.

Tindakan

Saya akan belajar untuk lebih mengembangkan sikap reflektif, bukan reaktif.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«