suplemenGKI.com

Lukas 12:13-21

 

Hidup ini tidak bergantung pada harta tetapi kepada Tuhan.

 

Pengantar:
Suatu hari ada tiga orang bocah sederhana, mereka sangat mengagumi orang kaya, mungkin karena mereka ingin menjadi orang kaya. Seorang berkata “Kata orang menjadi orang kaya  itu enak, mau apa saja bisa terpenuhi” Kemudian disahut oleh seorang yang lain, “Oh iya orang kaya itu ke mana-mana dihargai, dihormati orang” Bocah ketiga pun menyampaikan pendapatnya “Benar teman, tapi ada tidak enaknya, kata orang menjadi orang kaya itu tidak bisa tenang, siang malam mikirin kekayaan terus, takut kalau dirampok, dicuri, diambil orang dan yang lebih cilaka lagi ya pikirannya penuh dengan kekayaannya melulu sehingga tidak sempat memikirkan tentang Tuhan” He he he, cerita di atas hanya fiktif  belaka tidak perlu ditanggapi serius amat! 

Pemahaman:

  1. Kita perlu acung jempol terhadap prestasi orang kaya di perumpamaan itu tetapi mengapa Yesus mengatakannya sebagai orang kaya yang bodoh?
  2. Mengapa orang kaya yang berprestasi itu tidak mempersiapkan pewaris kekayaannya?

Perumpamaan Tuhan Yesus itu diawali dari permintaan seorang kepada Yesus agar mengingatkan saudaranya untuk berbagi warisan dengannya (v. 13) Yesus tidak tertarik dengan permintaan itu. Rupanya Yesus menganggap, dibalik permintaan itu tersimpan ketamakan orang tersebut akan kekayaan. Sikap ketamakan itu Yesus pertegas melalui perumpaman orang kaya yang bodoh itu.

            Secara umum tidak dijumpai hal-hal yang tidak wajar dari orang kaya itu. Dia pasti pintar, rajin, disiplin, tidak menipu dan cerdik maka dia menjadi sangat kaya. Tetapi Yesus melihat ada hal yang salah dari orang kaya tersebut, sehingga Ia disebut orang kaya yang bodoh: Pertama, ia terlalu menggantungkan hidupnya pada kekayaannya dan tidak menyadari bahwa jiwanya setiap saat dapat diambil oleh Tuhan. Kedua, ia tidak berpikir  untuk mewariskan/berbagi dengan orang lain, dia tamak. Kekayaannya hanya ingin dinikmati sendiri. Ke tiga, ia ternyata sangat miskin di dalam kasih kepada Tuhan dan sesama, dia hanya berfokus kepada  dirinya sendiri. Ke tiga hal itu menunjukan betapa orang kaya itu sangat bergantung pada kekayaannya dan bukan kepada Tuhan. Dia lupa jika kekayaan sama sekali tidak mampu menolongnya dari maut/mati. Sungguh hidup ini tidak bisa digantungkan pada kekayaan, satu-satunya tempat kita bergantung adalah Tuhan yang empunya kekayaan dan hidup kita.   

Refleksi:
Janganlah mengantungkan hidup hanya pada harta, karena semuanya akan hilang, tetapi gantungkanlah hidup hanya kepada Tuhan yang empunya kekayaan dan hidup.

Tekad:
Tuhan, terima kasih untuk kekayaan yang telah Engkau berikan, tetapi berikanlah juga padaku hati yang terus belajar bergantung pada-Mu.

Tindakan:
Mulai saat ini aku mau berbagi apa yang aku dapatkan dari Tuhan kepada orang lain yang membutuhkan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«