suplemenGKI.com
badai kehidupan

badai kehidupan

Ketika Murka Allah nyata

Matius 23:13-37 

Kadang kita mengalami kesulitan untuk menghubungkan kasih dengan kemarahan. Kita sulit untuk menampungnya menjadi satu dalam satu wadah. Hari ini kita merenungkan ucapan-ucapan yang keras dari Tuhan Yesus. Kiranya melalui perenungan hari ini kita tetap dapat melihat kasih Allah dalam kemurkaan-Nya.

-  Berapa kalikah Tuhan Yesus mengucapkan “celakalah kamu” dalam bacaa ini ?

-   Selain ucapan-ucapan “Celakalah kamu” adakah hal yang dapat menjadi tanda bahwa dalam bacaan kita hari ini, Tuhan Yesus sangat marah?

-  Apakah Saudara pernah merasakan murka Allah? Bagaimana Saudara merespon terhadap murka Allah tersebut. 

Renungan:

Tak dapat dipungkiri bahwa ucapan Tuhan Yesus di dalam nas perenungan kita hari ini adalah ucapan yang tegas dan keras. Ada sekitar delapan ucapan dengan format, “Celakalah kamu” yang diucapkan Tuhan Yesus dan yang dikumpulkan oleh Penulis Injil Matius di dalam 20 ayat ini. Betapa keras dan tegasnya ucapan Tuhan Yesus ini juga dapat dilihat dari istilah-istilah yang dipakai, seperti “orang munafik” (Mat 23:15), “orang neraka” (Mat 23:15), “pemimpin-pemimpin buta” (Mat 23:16), “orang bodoh” (Mat 23:17), “penuh rampasan dan kerakusan” (Mat 23:25), “kuburan yang dilabur putih … yang sebelah dalamnya penuh … pelbagai jenis kotoran” (Mat 23:27), “penuh … kedurjanaan” (Mat 23:28), “ular-ular,” “keturunan ular beludak” (Mat 23:33) dan “pembunuh” (Mat 23:34).

Siapapun yang mendengar semuanya itu akan merah telinganya, bahkan mungkin juga matanya karena menangis. Tapi mari kita bertanya, “Apakah Kristus mengucapkan semuanya itu dengan kemarahan yang membara dan bertujuan untuk menghancurkan?” Menurut hemat saya, jawabannya adalah tidak. Tuhan Yesus mengucapkan semuanya itu dengan hati yang hancur. Di dalam ayat berikutnya dicatat bahwa Tuhan Yesus meratapi Yerusalem (Mat. 23:37-39). Ratapan itu lebih merupakan semacam kasih yang bertepuk sebelah tangan, atau seperti orang tua yang meratapi anaknya yang sedang koma dan terbaring di ICU sebuah rumah sakit karena tenggelam di sungai. Padahal berulang kali dan berulang kali orang tuanya sudah menasihati, agar ia tidak bermain di sungai tersebut. Kalau muncul kemarahan dalam diri orang tua tersebut, pastilah itu berangkat dari hati yang hancur. Begitu pula dengan hati Allah, yang tidak pernah menghendaki kehancuran anak-anak-Nya. Dia selalu memiliki rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan hari depan yang penuh harapan (Yer. 29:11). Dia bahkan tidak menghendaki kematian orang fasik, sebab yang dikehendaki-Nya adalah pertobatan orang fasik (Yeh. 33:11). Satu hal lagi yang harus kita ingat bahwa tidak lama setelah mengucapkan delapan ucapan “Celakalah kamu” ini, Tuhan Yesus memasuki kota Yerusalem, untuk disalibkan dan mati bagi mereka yang telah dikecam-Nya habis-habisan itu.

Dengan memahami secara keseluruhan konteks delapan ucapan “Celakalah kamu” ini, kita dapat lebih mengenal kasih Allah. Ketika Dia menyatakan murka-Nya, itu adalah sisi lain dari kasih-Nya. Semua itu karena Dia tidak ingin hidup manusia menjadi lebih porak poranda

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«