suplemenGKI.com

Nas Yohanes 9:8-23

 

Menyadari Kehadiran Tuhan: Mengusir Kegelapan Pikiran

 

Pengantar
Kisah yang terjadi di dalam nas bacaan kita hari ini tidak dapat dipisahkan dari kisah yang ada di dalam dua pasal sebelumnya, yaitu pasal 7 (tujuh) dan pasal 8 (delapan). Sebab ketiga pasal ini terjadi di dalam sebuah rangkaian hari raya Pondok Daun, salah satu dari tiga perayaan besar tahunan bangsa Yahudi. Dalam ketiga pasal tersebut yang menjadi pusat pembicaraan adalah siapa diri Yesus sebenarnya. Jati diri Yesus ini pula yang diperkenalkan melalui kisah orang buta ini. Dengan kata lain, kisah orang buta ini menjadi media di mana identitas diri Yesus yang sesungguhnya dinyatakan.

Pemahaman
- Menurut Saudara, siapakah Yesus di mata para ahli Taurat dan Orang Farisi? Mengapa Saudara berpendapat demikian?

- Menurut Saudara, siapakah Yesus di mata orang buta yang disembuhkan? Mengapa Saudara berpendapat demikian?

- Menurut Saudara sendiri, siapakah Yesus? Mengapa Saudara berpendapat demikian?

Nampaknya ini adalah hari raya Pondok Daun yang terakhir bagi Yesus ketika Ia berinkarnasi menjadi manusia. Itu berarti sudah sekitar 3 (tiga) tahun Kristus melayani. Selama 3 (tiga) tahun itu pula Kristus terus diamati oleh para ahli Taurat dan para Farisi. Secara progresif, data pelanggaran Kristus terhadap tradisi dan pengajaran para pemuka agama itu makin banyak pula. Berdasarkan data tersebut maka para ahli Taurat dan para Farisi menyimpulkan bahwa Yesus adalah orang berdosa yang memberikan pengajaran sesat. Akan tetapi kesimpulan itu juga bukanlah kesimpulan mutlak yang diterima semua orang Farisi. Sebab sebagian mereka berpendapat tidak mungkin orang berdosa (baca: tidak berasal dari Allah) dapat melakukan berbagai mujizat. Perpecahan itu nampak jelas dalam ayat 16.

Kristus sendiri yang dalam pasal 8 telah menyatakan diri sebagai terang dunia, kembali menegaskan hal itu dengan menyatakan, “Akulah terang dunia” (ay. 5). Dalam konteks kisah orang buta ini, Sang Terang itu menunjukkan siapa yang sesungguhnya buta. Apakah mereka yang mata jasmaninya tidak dapat melihat ataukah mereka yang tidak menyadari kehadiran Allah. Ketika berada dalam kegelapan, orang buta dan orang celik sama-sama tidak dapat melihat. Namun ketika berada dalam terang, maka yang buta tetap tidak dapat melihat, sedang yang celik dapat melihat. Demikianlah ketika Terang itu datang, Ia memperjelas perbedaan siapa yang sesungguhnya buta.

Refleksi
Kadang apa yang kita miliki – termasuk apa yang kita ketahui – membuat kita merasa lebih dari sesama, serta membuat kita memandang yang lain lebih rendah karena tidak memiliki apa yang kita miliki. Namun bila kita berjalan bersama Sang Terang, maka kita tidak akan jatuh dalam sikap menghakimi, sebagaimana sikap orang Farisi yang menghakimi sesamanya (orang yang dilahirkan buta), bahkan menghakimi Allah (Kristus)

Tekad
Doa: Tuhan, tolonglah saya untuk peka terhadap kehadiran-Mu serta berjalan bersama-Mu, sehingga saya terus hidup dalam terang. Amin.

Tindakan
Salah satu tindakan untuk mengasah kepekaan terhadap kehadiran Allah adalah dengan merenungkan kembali khotbah hari ini.

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«