suplemenGKI.com

Lukas 16:19-31.

 

“Nikmat Di Dunia, Menderita Di Akhirat”

Pengantar:
            Pernahkah saudara mendengar slogan yang berkata “uang bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya butuh uang” Di satu sisi slogan itu adalah suatu realita bahwa hidup ini memang membutuhkan uang. Tetapi di sisi lain, slogan itu mengingatkan kita bahwa uang bukanlah segala-galanya, karena kenyataannya uang sama sekali tidak bisa membeli hal yang paling prinsip dalam hidup kita, yaitu keselamatan. Maka benarlah ungkapan yang berbunyi “Uang bisa membeli agama, tetapi uang tidak bisa membeli keselamatan” atau “uang bisa membeli segala sesuatu, tetapi tidak bisa membeli kebahagiaan” Karena ternyata banyak uang belum tentu hidupnya bahagia. Yang terpenting untuk dihayati adalah, jangan sampai kenikmatan uang di dunia ini justru mengantar kita pada penderitaan kekal di akhirat.

Pemahaman:

  1. Bagaimanakah orang kaya mempergunakan kekayaannya? (v. 19-21)
  2. Apakah pelajaran yang hendak disampaikan melalui ayat 22-30?
  3. Apakah makna dari pernyataan di ayat 31?

Perikop Lukas 16:19-31, mengisahkan ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus. Pada zaman itu, jubah warna ungu adalah warna yang identik dengan kebesaran, kemewahan dan kemegahan. Kaum bangsawan, raja-raja dan pembesar-pembesar kerajaan pada zaman itu selalu mengenakan pakaian atau jubah berwarna ungu. Jadi jubah ungu memang hanya bisa dipakai oleh kalangan orang-orang yang berjabatan tinggi, orang-orang yang kaya. Demikian juga dengan kain halus, hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang berduit. Selanjutnya ayat. 19, mengtakan “setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan” Berarti ia senang pesta, dan pasti pestanya juga besar dan meriah. Dapat dibayangkan, betapa kayanya orang tersebut. Tetapi ironisnya, dia sama sekali tidak mempunyai rasa peduli, rasa belaskasihan dan rasa ingin berbagi kepada orang lemah (v. 20-21) Mungkin ia hanya pandai mempedulikan sesama yang kaya-raya tetapi tidak pada yang miskin. Ketika dia hanya peduli pada sesama yang kaya saja dan meutup rapat hatinya bagi yang lemah, berarti ia sedang melakukan hal yang sia-sia, karena sesama kaya tidak membutuhkannya. Dan ketika ia menutup rapat kekayaannya untuk orang-orang miskin seperti Lazarus, ia juga sedang membuang kekayaannya dengan sia-sia. Maka ketika ia mati semua kekayaan duniawinya tidak mampu menolong dia, karena semua telah terbuang sia-sia. Apapun strateginya agar mendapat pertolongan tidak ada gunanya, karena sudah terlambat (v. 27-30)

Refleksi:
Renungkan sejenak. Pernahkah anda berjumpa dengan orang yang sangat membutuhkan uluran tangan anda? Jangan abaikan mereka, pedulikan mereka seberapa yang anda bisa.

Tekadku:
Tuhan, terimakasih untuk setiap berkat yang telah Engkau anugerahkan bagi saya, ajarlah saya untuk rela berbagi kepada mereka yang membutuhkannya.

Tindakkanku:
Pada hari minggu ini, saya akan membagikan berkat Tuhan yang saya miliki kepada seseorang yang saya tahu betul bahwa ia sangat kekurangan dan membutuhkannya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*