suplemenGKI.com

MENGIKUT TUHAN

Matius 4:18-22

 

Pengantar
Sudah berapa lamakah kita menjadi orang Kristen? Bagaimana pertumbuhan iman kita ketika kita mengikut Tuhan? Apakah kita sudah bisa menjadi murid yang setia mengikuti segala perintah-Nya? Apakah kita sungguh-sungguh mengikuti Dia atau sekedar melibatkan Dia dalam urusan kita? Apakah kita sungguh-sungguh menjadi murid atau sekedar penggemar saja? Mari kita merenungkannya.

Pemahaman

  • Ayat 18-19, 21      : Apakah yang dilakukan oleh Yesus ketika sedang berjalan menyusur danau Galilea? Siapa sajakah murid-murid yang pertama dipanggil oleh Yesus?
  • Ayat 20, 22            : Bagaimanakah respon orang-orang tersebut ketika dipanggil untuk mengikut Tuhan?

Ketika sedang berjalan menyusuri danau Galilea, Yesus melihat dua orang bersaudara yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya, yang sedang menebarkan jala mereka ke danau (Ay. 18). Yesus memanggil mereka untuk menjadi murid-Nya: Katanya: “Mari ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Tujuan dari kalimat ini adalah Yesus memanggil mereka untuk menjadi murid dan mengikut Yesus dan menjalankan misi-Nya. Setelah itu, Yesus juga bertemu dengan dua orang bersaudara, yaitu: Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya. Mereka sedang sibuk membereskan jala mereka (Ay. 21). Keempat orang itu dipanggil Tuhan ketika mereka sedang sibuk melakukan pekerjaan mereka.

Meskipun mereka sibuk, mereka memberikan respon yang sangat positif ketika dipanggil. Mereka bukan hanya berkata ‘iya’ tetapi mereka ‘segera’ meninggalkan jala mereka dan mengikut Yesus. Bahkan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes juga meninggalkan perahu serta ayahnya (Ay. 22). Sekilas respon ini tidak terlalu sulit untuk dilakukan, tetapi itu adalah respon yang sangat radikal. Mengikut Yesus berarti meninggalkan hal-hal yang berharga, seperti: pekerjaan dan keluarga. Poin yang ingin ditegaskan di sini adalah keutamaan Kristus atas keluarga. Dalam konteks pemuridan sekarang, kita tentu saja tidak boleh meninggalkan keluarga. Namun kita tetap harus mengutamakan Kristus di atas keluarga ataupun kesibukan kita. Jangan sampai keluarga ataupun pekerjaan menjadi penghalang pertumbuhan rohani kita.

Refleksi
Renungkanlah: Maukah kita mengikut Tuhan dengan sungguh? Siapkah kita meninggalkan segala sesuatu yang bisa menghambat proses pertumbuhan iman kita (seperti: dosa, relasi, pekerjaan, kebiasaan, dsb)? Kiranya anugerah Allah yang memampukan kita untuk mengambil dan melakukan keputusan yang benar.

Tekadku
Ya Tuhan, mampukanlah saya untuk bisa mengikut-Mu dengan sepenuh hati. Bisa mengutamakan Engkau diantara hal-hal duniawi yang membuat saya terlena.

Tindakanku
Mulai hari ini saya akan terus belajar untuk bisa fokus kepada Tuhan baik itu dalam pelayanan maupun dalam pertumbuhan iman saya kepada Tuhan. Mengganti waktuku yang banyak dipakai untuk main gadget/ game, nonton TV atau yang lain dengan membaca Alkitab, persiapan pelayanan dll.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«