suplemenGKI.com

IMAN YANG TEGUH BUKAN RAPUH

Yohanes 6:60-69

 

PENGANTAR
Pertobatan merupakan awal dari perjalanan kehidupan bersama Kristus.  Seiring dengan berjalannya waktu pengenalan akan Dia seharusnya semakin bertumbuh.  Pengalaman demi pengalaman akan kasih dan pertolongan-Nya maupun pengalaman kesulitan hidup yang seolah tidak ada jalan keluar dari-Nya, semuanya itu semakin menumbuhkan iman.  Yang pasti adalah pengalaman hidup bersama-Nya seharusnya menumbuhkan iman yang teguh bukan iman yang rapuh.  Bagaimana dengan pengikut dan para murid dalam perikop ini?  Mari kita pelajari!

PEMAHAMAN

  • Bagaimana situasi para murid? Apa yang menjadi penyebab? (ayat 66)
  • Bagaimana respon Petrus? (ayat 67-69)
  • Bagaimana kondisi iman kita hari ini?  Rapuh atau teguh?

Setelah Tuhan Yesus mengadakan banyak mujizat, Dia juga menegaskan tentang penderitaan dan kematian-Nya (ay.56-58).  Ketika orang mencari Dia untuk mengalami kuasa-Nya, Yesus justru menunjukkan kerapuhan-Nya sebab Dia mengambil jalan penderitaan demi keselamatan umat yang dikasihi-Nya.  Pernyataan Yesus itu mengundang sungut-sungut di antara pengikut dan murid-murid Yesus.  Istilah “murid-murid” dalam ayat 60 ini jelas tidak hanya terbatas pada 12 orang murid tetapi semua pengikut-Nya.  Para pengikut-Nya, termasuk para murid, sulit menerima bahwa Yesus adalah Allah dan jalan penderitaan serta kematian-Nya berdampak bagi keselamatan dunia.  Banyak murid-murid-Nya pergi meninggalkan-Nya dan tidak lagi mengikut Dia (ay.66).  Namun demikian, ada murid-murid yang tetap percaya kepada-Nya. Malah iman mereka diperdalam melalui peristiwa ini. Murid-murid yang diwakili oleh Petrus menyatakan iman-Nya kepada Yesus.

Dalam masa kritis, ketika sebagian dari murid-murid meninggalkan Yesus, Petrus dengan tegas dan terbuka menegaskan iman-Nya (ay.67-69).  Petrus menyatakan imannya dalam kaitan dengan janji Sang Kekal yang dia imani, yakni memiliki hidup kekal.  Barangsiapa yang percaya kepada Yesus memperoleh hidup kekal, bukan hanya karena lihat mujizat-Nya, itulah iman Petrus.  Dengan demikian, pernyataan Petrus membuktikan bahwa dia telah berproses memiliki iman yang teguh bukan iman yang rapuh.  Pernyataan Petrus dalam peristiwa ini bukanlah momen lahirnya iman, melainkan merupakan momen pendalaman iman (ay.69).  Petrus semakin mengenal Yesus lebih dalam lagi.  Pernyataan Petrus yang mengungkapkan bahwa imannya semakin dalam terlihat dari pernyataannya “Engkau adalah Yang Kudus dari Allah” yang ditujukan Petrus kepada Yesus.  Berbagai kesaksian Yesus melalui perkataan dan perbuatan telah membawa Petrus sampai ke satu titik puncak iman bahwa Yesus adalah Allah.

REFLEKSI
Mari merenungkan: Perkataan dan perbuatan Tuhan Yesus dalam hidup seharusnya membuat iman kita semakin teguh.  Lalu, bagaimana kondisi iman saudara saat ini?  Rapuh atau teguh?  Apakah kesulitan ekonomi, persoalan keluarga, lamanya menunggu jawaban doa, dll membuat iman kita rapuh?  Jika kita diminta mengatakan dengan kalimat pendek, siapakah Yesus bagi hidup saudara? 

TEKADKU
Tuhan Yesus mampukan aku memiliki iman yang teguh bukan iman yang rapuh, yg mudah tergoncang oleh kesulitan ekonomi, persoalan keluarga atau lamanya menunggu jawaban doa.

TINDAKANKU
Aku mau membangun iman yang teguh: dengan cara memiliki waktu untuk merenungkan dan meyakini perkataan-Nya (firman-Nya) serta menanti jawaban doa sesuai kehendak-Nya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«