Tangan Tuhan yang Pegang

Tak ku tahu ‘kan hari esok, namun langkahku tegap.

Bukan surya kuharapkan, kar’na surya ‘kan lenyap.

O tiada ‘ku gelisah akan masa menjelang;

‘ku berjalan serta Yesus maka hatiku tenang.

Adakah di antara Bapak/Ibu/Saudara yang dapat mengetahui dengan pasti apa saja yang akan terjadi di hari esok? Merencanakan segala sesuatu untuk terjadi atau untuk dilakukan di hari esok, itulah yang dapat kita lakukan. Menjalani hari-hari menurut perencanaan kita tetap saja memberikan tempat bagi kegelisahan, kekhawatiran, keragu-raguan. Apakah wajar jika kita alami? Tentu. Namun, apakah hal-hal tersebut yang terus-menerus kita pelihara dalam hidup? Tidak dapatkah kita (tetap) mengucap syukur untuk setiap perkara yang terjadi dalam hidup kita?

Renungan

Mazmur ini dijiwai oleh rasa syukur yang sangat mendalam atas kasih setia Tuhan. Pemazmur mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, di hadapan para allah dan mendambakan agar semua yang berkuasa di bumi ikut serta memuji Tuhan atas karunia yang telah dia peroleh. Pengalaman diperhatikan oleh Tuhan membuat pemazmur kagum melihat kemuliaan Tuhan. Sungguh agung Tuhan itu sebab meskipun Dia itu tinggi, namun masih memperhatikan orang yang hina. Pengalaman ini juga membuat dia menatap masa depan dengan penuh kepercayaan karena dia yakin bahwa Tuhan pasti akan menyelamatkannya dari kesesakan oleh tanganNya yang penuh kuat kuasa. Kekuatan baru yang diperoleh membangkitkan keyakinan iman pemazmur akan pertolongan Tuhan pada masa yang akan datang. Dia yakin bahwa Tuhan pasti akan menolongnya apabila menghadapi kesulitan baru dari musuh-musuhnya (ay. 7) dan menyelesaikan segala sesuatu baginya (ay. 8a). Apakah kita telah memiliki keyakinan sekuat keyakinan yang dimiliki oleh pemazmur? Apakah kita telah memiliki optimisme dalam menjalani hidup yang juga tak lepas dari persoalan hidup seperti yang dimiliki oleh pemazmur? Apakah pengalaman-pengalaman diperhatikan/ditolong Tuhan di masa lalu tidak kita perhitungkan? Di sini pemazmur sungguh menginspirasi kita dalam menjalani hidup dengan penuh ucapan syukur.

Pemazmur tidak hanya percaya, tetapi juga memohon. Iman melahirkan doa dan mungkin rahasia dari ucapan syukurnya yang penuh semangat ini ialah doanya yang terus-menerus. Kasih setia Tuhan itu abadi. Dengan keyakinan iman ini pemazmur menutup ucapan syukurnya sambil memohon agar Tuhan tidak meninggalkan dia yang adalah perbuatan tanganNya. Tuhan tidak pernah melarang kita untuk meminta/memohon. Oleh karena itu, memohonlah pada Tuhan untuk tidak meninggalkan kita.

Reff: Banyak hal tak kufahami dalam masa menjelang.

Tapi t’rang bagiku ini: Tangan Tuhan yang pegang.

Selamat berpegang pada Tangan yang tepat!

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

1 Comment for this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*