suplemenGKI.com

Bacaan hari ini mengajak kita memperbandingkan antara kehidupan orang benar dan orang fasik. Dengan perbandingan yang ada, kita diajak untuk mengambil keputusan dan hidup dalam pilihan yang tepat sebagai orang-orang yang benar.

  1. Seringkali orang benar iri dengan kehidupan orang fasik. Pikirkan dan renungkanlah, apa yang seringkali tampak menarik dari kehidupan orang fasik? Mengapa menjadi orang benar sering tampak tidak menarik bagi sebagian orang?
  2. Ayat 3-4: Bagaimana pemazmur memperbandingkan kebahagiaan hidup orang fasik dan orang benar? (’sekam yang ditiup angin’ dan ’pohon yang ditanam di tepi aliran air’)
  3. Ayat 5-6: Bagaimana akhir dari kehidupan orang fasik dan orang yang benar?
  4. Ayat 1-2: Apa yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan agar kita dapat menjaga hidup kita tetap benar?

 

Renungan

Kehidupan orang fasik secara kasat mata mungkin seringkali nampak lebih menarik untuk dijalani/dimiliki daripada kehidupan seorang yang menjaga dirinya dengan kebenaran. Orang fasik biasa melakukan kecurangan dan seringkali menang, menipu tetapi justru meraih keberuntungan, melakukan yang jahat justru mendapat harta melimpah. Sedangkan orang benar berjuang mempertahankan kejujurannya tetapi justru mendapat fitnahan, orang benar bekerja dengan keras dan rajin tetapi hasil yang di dapat jauh lebih sedikit dari orang fasik yang melakukan kecurangan. Hal-hal seperti ini tidak jarang membuat orang benar tergoda untuk ikut-ikutan menempuh jalan orang fasik, merasa iri dan marah (baca juga Mazmur 37:1).

Tetapi firman Tuhan yang kita baca hari ini meyakinkan kita kembali bahwa kebahagiaan orang fasik memang tampaknya mudah didapatkan, tetapi kebahagiaan itu seperti sekam, yang akan hilang tertiup angin, dan di Mazmur 37:2 juga diceritakan bahwa mereka akan lisut seperti rumput dan layu. Sedangkan kebahagiaan orang benar akan seperti pohon yang di tepi aliran air dan akan selalu menghasilkan kebenaran, kebaikan, dan keberhasilan. Pemazmur meyakini bahwa kebahagiaan orang benar akan bersifat lebih langgeng. Bahkan ujung perjalanan hidup pun dikatakan dengan jelas oleh pemazmur bahwa orang benar akan hidup, sedangkan orang fasik tidak tahan menghadapi penghakiman dan menuai kebinasaan.

Perbandingan kualitas hidup dan kebahagiaan ini menjadi ajakan bagi kita untuk tidak terkecoh dan tergoda mencoba hidup mengikuti jalan orang fasik, melainkan tetap percaya dan bertahan dalam kebenaran. Usaha untuk membentengi diri juga harus terus dilakukan, yaitu dengan menggumulkan firman Tuhan dan tidak bermain-main dengan tawaran-tawaran kefasikan.

 

”Lebih baik yang sedikit pada orang benar daripada yang berlimpah-limpah pada orang fasik.” – Mzm.37: 16

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*