suplemenGKI.com

Minggu, 24 Juni 2018

23/06/2018

DIAM! TENANGLAH

Markus 4:35-41

 

PENGANTAR
Apa yang saudara pikirkan ketika membaca judul di atas, khususnya ketika dihubungkan dengan persoalan yang terjadi?  Biasa saja atau malah memunculkan pertanyaan, “apa mungkin bisa tenang ketika menghadapi persoalan?”, Tapi itulah perkataan Yesus kepada para murid.  Apa makna ajakan itu buat kita?  Mari kita baca dan pelajari. 

PEMAHAMAN

  • Apa yang sedang dialami para murid dan Yesus ketika menyeberang danau? (ayat 37)
  • Bagaimana situasi para murid ketika peristiwa itu terjadi? (ayat 38, 40)
  • Apa yang dilakukan dan dikatakan Yesus di tengah situasi seperti itu? (ayat 38-40)
  • Apakah pernah saudara mengalami kecemasan yang amat sangat?

Alkitab tidak menceritakan apa saja yang dilakukan para murid untuk mengatasi “taufan yang sangat dahsyat dan ombak” (ayat 37).  Naluri sebagai nelayan, mungkin mendorong mereka  melakukan beberapa hal:  menurunkan layar, memegang kendali, membuang pemberat, mengurangi air yang masuk, mengatur keseimbangan perahu supaya tidak terbalik, mengatur posisi duduk dan mungkin saja menjaga Yesus yang tidur  di buritan;  sampai kemudian mereka berkata, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” (ayat 38).  Apa yang sesungguhnya dialami para murid, sehingga mereka berani menuduh Yesus?  Para murid mengalami kepanikan, kebingungan, dan kekuatiran yang amat sangat.   Sebab reputasi mereka dipertaruhkan di depan banyak orang yang juga berperahu (ayat 36),  gara-gara tidak mampu mengatasi taufan.  Apalagi momennya setelah pembicaraan “perumpamaan biji sesawi” (ayat 30-34).   Tampak para murid tidak beriman.  Ketidakpercayaan inilah (ayat 40) yang membuat mereka tidak bisa diam/tenang.  Sibuk mencari jalan keluar menurut kekuatan diri sendiri.  Akibatnya, mereka kehilangan rasionalitas iman bahwa Allah dan kuasa-Nya sanggup mengatasi keadaan.  Wajar bila kemudian mereka menuduh Yesus “tidak peduli”. Semua berawal dari ketidakpercayaan kepada Allah.

Perintah “diam! Tenanglah” bisa jadi ditujukan juga sebagai teguran kepada para murid;  termasuk kepada umat Tuhan di jaman kini.  Di tengah tuntutan kompetensi dan kompetisi, harus diakui tantangan dan pergumulan terkadang datangnya seperti kebutuhan itu sendiri.  Sifatnya cepat dan perlu direspons dengan segera.  Ritme kehidupan yang sudah sibuk karena tuntutan kerja dan keluarga, menjadi lebih sibuk lagi dengan hadirnya persoalan.  Demi pencapaian hidup, manusia berusaha menyelesaikan persoalan secepat mungkin dengan beragam cara dan daya.   Gaya hidup instan menjadi pilihan dalam menyelesaikan persoalan.  Yang penting hasilnya, bukan prosesnya. Alhasil,  manusia sibuk menyapa urusan di luar dirinya dan makin jarang menyapa kebutuhan hati.  Wajar ketika ada persoalan manusia tidak bisa tenang dan mudah kehilangan kontrol diri.  Manusia sulit berdiam sejenak merenungkan ulang perjalanan hidupnya.  Ketenangan bukan identik dengan sikap hidup yang jauh dari realitas.  Tapi lebih kepada sikap hati yang percaya, berserah dan tetap mengutamakan Dia di atas segala kesibukan.

REFLEKSI
Mari merenungkan: Ketenangan adalah bentuk pengendalian hati dan diri yang tetap mempercayai Allah di atas segala persoalan hidup. 

TEKADKU
Tuhan Yesus mampukan aku mempercayai-Mu sehingga aku tidak mudah kuatir, panik dan cemas.  Tolonglah aku agar bisa lebih tenang sebagai wujud imanku kepada-Mu. 

TINDAKANKU
Aku mau menjaga relasi dengan Tuhan dalam diam dan tenangku, meski ada banyak persoalan yang harus aku selesaikan.  Menyediakan waktu diam dan tenang bersama-Nya sehingga tidak mudah kuatir, panik dan cemas saat menghadapi persoalan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«