suplemenGKI.com

SETIALAH!

Lukas 16:10-13

 

Pengantar
Seorang pria diterima bekerja di sebuah kantor dan dengan tekun ia mengerjakan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Hingga tibalah saatnya ia menerima upah dari pekerjaannya. Di tahun-tahun pertama ia bekerja, upah yang diterima dapat dikatakan cukup untuk membiayai kebutuhan hidupnya sehari-hari. Pria ini tidak mengeluh, ia menerima dengan penuh syukur. Namun di tahun-tahun berikutnya, melihat kesetiaan dan ketekunannya dalam bekerja, sang atasan pun memberikan kepercayaan kepada pria tersebut untuk mengerjakan tanggung jawab yang lebih besar lagi. Tentunya dengan upah yang lebih dari tahun-tahun sebelumnya. Saudara, ilustrasi ini menggambarkan kesetiaan di dalam mengelola kepercayaan yang diberikan. Hari ini kita akan merenungkannya.

Pemahaman

  • Ayat 10-12    : Bagaimanakah hubungan antara mamon dan ketidaksetiaan manusia?
  • Ayat 13          : Mengapa Yesus berpesan bahwa seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan, yakni Allah dan mamon

Jika seseorang dengan setia melakukan perkara kecil yang diberikan kepadanya, itu artinya ia merupakan pribadi yang bertanggung jawab, benar, dan jujur. Sebaliknya, jika ia tidak setia dalam mengerjakan tanggungjawabnya dalam perkara kecil, maka ia adalah pribadi yang tidak jujur. Sebab baik perkara kecil maupun perkara besar, menyangkut kesetiaan dan tanggung jawab yang diembannya (ayat 10). Demikian pula dengan harta, uang yang dimiliki oleh seseorang. Oleh karena itu, di ayat 10-12, Yesus hendak mengingatkan kepada kita bahwa dengan uang, harta yang kita miliki menunjukkan apakah kita termasuk orang yang setia dan bertanggung jawab di dalam mengelolanya.

Namun di sisi lain, Yesus berpesan bahwa seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan, yakni Allah dan mamon (ayat 13). Pesan ini mengingatkan kepada kita bahwa harta, uang yang dimiliki hendaknya jangan mengikat kita, sebab semua yang ada di dunia ini adalah sementara. Jika kita diikat oleh harta atau uang yang dimiliki, kemudian kita menghamburkannya demi kepuasan diri sendiri, itu artinya kita bukanlah orang yang setia dan bertanggung jawab dalam mengelola apa yang dipercayakan pada kita. Oleh karena itu, kita diminta untuk menentukan sikap mengabdi kepada mamon ataukah mengabdi kepada Allah? Jika kita memilih untuk mengabdi kepada mamon, itu artinya kita menyerahkan hidup untuk diikat dengan harta, uang yang dimiliki. Dengan demikian, mamon turut menjadikan kita berpaling dari kesetiaan kepada Allah. Tetapi jika kita memilih mengabdi kepada Allah, maka Dia-lah yang terutama dalam hidup, jauh melebihi harta yang kita miliki.

Refleksi
Bagaimanakah relasi saudara dengan Tuhan di tengah kesibukan dan kesuksesan pekerjaan maupun pendidikan yang sedang saudara jalani? Apakah hal itu membuat saudara makin menyadari membutuhkan pertolongan Allah dan terus menjalin relasi dengan-Nya, atau justru relasi dengan Tuhan mengalami kemunduran? 

Tekad
Ya Tuhan, ampuni bila selama ini aku terlalu mengikat diriku dengan harta, uang yang kumiliki. Mampukanku untuk tetap setia kepada-Mu dalam segala keadaan.

Tindakan
Aku akan belajar untuk mengutamakan Tuhan dengan membiasakan diri setia bersaat teduh sebelum mengawali aktivitasku di pagi hari.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*