suplemenGKI.com

MENJADI AGEN KASIH ALLAH
YUNUS 4:1-11

 

PERTANYAAN PENUNTUN PEMAHAMAN ALKITAB

  1. Ayat 1-4:  Apa yang membuat Yunus marah?  Seberapa besarkah kekesalan dan dan kemarahan Yunus?  Bagaimana tanggapan Tuhan terhadap kemarahan Yunus?
  2. Ayat  5-11:  Selain menegur secara verbal (lisan), Tuhan juga memberikan pelajaran kepada Yunus melalui sebuah pengalaman dengan pohon jarak, ulat, panas terik matahari.  Pelajaran apakah yang hendak Tuhan berikan kepada Yunus? (ay.10-11).
  3. Kapan dan kepada siapakah Anda pernah bersikap seperti Yunus?  Apa yang seharusnya Anda lakukan untuk memperbaiki sikap yang keliru itu?

 

RENUNGAN

Tidak salah jika Tuhan mengutus Yunus ke Niniwe.  Yunus berkhotbah dengan baik sehingga seluruh Niniwe, mulai dari raja hingga semua ternak di kota itu, bertobat setelah Yunus berkhotbah.  Sebagai seorang nabi, seharusnya Yunus bersukacita melihat orang-orang yang bertobat setelah mendengarkan khotbahnya.  Namun Yunus justru merasa kesal dan marah melihat pertobatan orang-orang Niniwe.

Yunus sudah tahu bahwa penduduk Niniwe akan bertobat dan Tuhan akan mengampuni mereka.  Yunus tahu bahwa Tuhan juga mengasihi penduduk Niniwe.  Padahal, Yunus sangat membenci Niniwe dan berharap Tuhan akan menghancurkan kota itu.  Karena itulah Yunus kesal dan marah.  Kekesalan dan kemarahan Yunus sedemikian besar hingga dia merasa lebih baik mati daripada hidup.  Kebencian telah menguasai hati Yunus dan mengalahkan akalnya yang sehat.

Kekesalan dan kemarahan Yunus tidak pada tempatnya.  Karena itulah Tuhan menegurnya.  Tuhan menggunakan pohon jarak.  Yunus marah sewaktu pohon jarak itu mati mendadak dimakan ulat.  Yunus “sayang” kepada pohon jarak itu karena pohon itu telah memberinya naungan dari panas terik matahari.

Tuhan mengajak Yunus membandingkan rasa sayang Yunus terhadap pohon jarak itu dengan kasih Tuhan kepada orang-orang Niniwe.  Yunus bukanlah pencipta pohon jarak itu, sedangkan Tuhan adalah Pencipta semua manusia termasuk orang-orang Niniwe.  Yunus sayang kepada sebatang pohon jarak yang fana dan hidupnya sangat sementara, sedangkan Tuhan sayang kepada kota Niniwe yang di dalamnya terdapat seratus dua puluh ribu jiwa manusia.  Rasa sayang Yunus kepada pohon jarak itu bersifat egois (karena pohon itu memberi naungan kepadanya), sedangkan Tuhan tetap mengasihi orang-orang Niniwe meskipun mereka sesat (tidak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri) dan bahkan memberontak di hadapan Tuhan.

Betapa sering kita bersikap seperti Yunus.  Kita berharap Tuhan juga membenci orang-orang yang kita benci.  Kita meminta Tuhan menghukum orang-orang menjahati kita. Kita merasa kesal dan marah bila orang-orang yang kita benci justru mendapat kasih dan anugerah dari Tuhan.  Mari belajar dari Yunus, kita harus terus memiliki hati seperti hati Allah, yang lebih mengutamakan kasih daripada kebinasaan. Mengasihi mereka yang sepertinya tidak layak untuk dikasihi. Doakan mereka dan tunjukkan kasih Kristus kepadanya melalui diri Anda. 

Allah memanggil kita untuk menjadi penyalur kasih Allah kepada sesama, bukan koruptor kasih.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«