suplemenGKI.com

Matius 1:18-25

 

Penyertaan Allah dalam Sikap Berserah

 

Pengantar
Banyak orang berdoa memohon penyertaan Allah. Hal ini menandakan betapa pentingnya penyertaan Allah dalam kehidupan orang yang percaya kepada-Nya. Hari ini kita akan merenungkan bersama-sama tentang bagaimana kehadiran penyertaan Allah dalam kehidupan manusia, melalui proses kehadiran Sang Imanuel.

Pemahaman
-          Dapatkah Saudara memberikan gambaran tentang kehidupan sosial Kristus ketika berinkarnasi di dunia?

-          Gambaran seperti apa pula yang dapat Saudara berikan bila memikirkan tentang keterbatasan Allah yang tak terbatas itu tatkala menjelma menjadi manusia?

Kehadiran Kristus ke dalam dunia ini melalui kelahiran yang jauh dari kemuliaan. Sekalipun Dia lahir melalui keturunan Daud, namun kehidupan lahiriah Yusuf dan Maria sangatlah tidak mencerminkan kehidupan kerajaan. Yusuf dan Maria menetap di Nazaret, yang lokasinya berjarak tempuh tiga hari perjalanan kaki dari Yerusalem, pusat kerajaan Israel. Pekerjaan Yusuf juga tidak mencerminkan kebangsawanannya. Yusuf dikenal sebagai tukang kayu. Hal ini tentu saja berdampak terhadap perekonomiannya.  Yusuf dan Maria bukanlah orang kaya. Bahkan dalam bimbingan Roh Kudus, rasul Paulus berkata bahwa Kristus dilahirkan dalam kemiskinan (2Kor. 8:9).

Di dalam segala keterbatasan sosial tersebut, Kristus juga masih memiliki keterbatasan lainnya. Betapa tidak, Kristus yang adalah Allah yang tak terbatas itu kini harus menjadi manusia yang serba terbatas. Kristus harus menjadi seorang bayi yang tak berdaya. Ketika membutuhkan sesuatu harus meminta dengan cara menangis. Tentu saja masih terlalu banyak hal yang dapat disebutkan sebagai gambaran betapa terbatasnya Allah yang tak terbatas itu ketika menjadi manusia.

Semua keterbatasan itu, yang dengan rendah hati diterima oleh Kristus, merupakan bukti bahwa Kristus menjalani kehidupan yang berserah sepenuhnya kepada kehendak dan rencana Allah Bapa. Di dalam Filipi 2:7-8 dikatakan bahwa Kristus telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Karena semuanya itulah maka kita dapat memiliki pengalaman Imanuel, Allah beserta dengan kita.

Refleksi
Kalau kehadiran Sang Imanuel itu harus melalui proses penyerahan diri yang begitu total, bagaimanakah mungkin kita dapat mengharapkan penyertaan Allah terjadi dalam hidup kita tanpa adanya sikap yang mau berserah kepada Allah secara total? Seringkali kita gagal untuk dapat merasakan penyertaan Allah itu karena kurangnya, atau bahkan tidak adanya, sikap berserah secara total kepada Allah.

Tekad
Doa: Ya Kristus, tolonglah saya untuk belajar hidup berserah sepenuhnya kepada Allah, agar dapat merasakan penyertaan-Mu dalam hidup saya. Amin.

Tindakan
Langkah konkrit yang dapat kita ambil untuk belajar berserah adalah dengan merelakan hilangnya apa yang kita anggap menjadi hak kita.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*