suplemenGKI.com

GEMBALA BAGI SESAMA

Yohanes 10:11-18

 

PENGANTAR
“Cara yang baik menjadikan seseorang baik adalah terus mendampinginya”.  Perkataan ini benar dan bisa dipertanggungjawabkan.  Namun tetap saja bukan upaya yang mudah dilakukan, harus sabar dan tekun untuk melakukannya.  Mari kita baca dan renungkan, bagaimana Yesus memberikan teladan dalam hal ini.  

PEMAHAMAN

  • Ayat 11, 14-16            : Apa yang Yesus katakan tentang diriNya?
  • Ayat 12-13                  : Bagaimana orang upahan digambarkan dalam bacaan ini?
  • Apakah yang saudara pahami tentang peran gembala dalam hidup kita?

Gambaran Yesus sebagai gembala mudah dipahami dan dihayati para pendengar-Nya yang tinggal di area Yudea atau Israel pada umumnya; dimana banyak dataran luas yang berumput atau savana, termasuk di lereng pegunungan.  Gembala harus menggiring domba-domba ke sana kemari untuk mendapatkan rumput hijau.  Dengan daerah jelajah yang luas, domba dan gembalanya harus sering bermalam di padang.  Gembala juga harus bersiap menuntun domba-domba ke air dan membawanya kembali ke padang.  Pada saat seperti ini, gembala dituntut lebih jeli mengawasi domba-dombanya supaya tidak hilang, dimangsa hewan buas atau tertukar dengan kawanan domba lainnya.  Untuk mencegahnya gembala selalu bersuara khas sehingga domba-dombanya mengenalinya.  Gembala juga tidak lupa membawa gada atau tongkat untuk mengusir hewan buas yang mengganggu kawanan domba.  Sikap ini hanya ada pada diri gembala yang asli; bukan upahan.  Gembala yang asli berani melindungi, bahkan rela “memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” (ay.11, 15).

Perikop yang kita baca menegaskan jati diri Yesus sebagai gembala agung, “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku”, wajar bila kemudian “domba-dombaKu mengenal Aku” (ay.15).  Penegasan Yesus juga sekaligus menjadi cerminan dan teladan bagi orang percaya dalam membangun relasi positif dengan sesama.  Relasi yang dimaksud bukan sekadar tahu dan kenal.  Tidak juga sekadar menjadi bagian dari komunitas;  tapi tidak berbuat apa-apa bagi dan melalui komunitas.  Bagaimana orang lain bisa menjadi baik?  Siapakah  yang akan menuntun mereka ke jalan yang benar?  Bagaimana mereka bisa dilindungi dari para perampas kehidupan?  Itu sebabnya, menjadi gembala bagi sesama mengandung makna “saling” memperhatikan,  mendukung,  membagi, mengarahkan,  melindungi, dan menjaga sebagai sesama.  Dengan demikian peran sebagai gembala bagi sesama mengharuskan kita mengembangkan melakukan tindakan konkrit yaitu menolong.

REFLEKSI
Mari merenungkan: Tuhan Yesus, Sang Gembala yang baik itu menginginkan kita sebagai gembala bagi sesama.  Mari wujudkan panggilan menjadi gembala bagi sesama melalui kebaikan sekecil apapun.  Bila kita melakukannya dengan tulus maka akan berdampak besar dalam kehidupan sesama.

TEKADKU
Tuhan Yesus, Sang Gembala yang baik, tolonglah mampukan diriku berperan sebagai gembala bagi sesama: bagi suami/istri, anak-anak, teman di kantor yang membutuhkan pendampingan, teman dalam pelayanan yang membutuhkan dukungan dan tetangga yang membutuhkan penghiburan.  Jaga hatiku agar bisa melakukannya dengan tulus.

TINDAKANKU
Hari ini aku akan menjadi gembala bagi ………. (mintalah petunjuk dari Tuhan agar bisa menemukan satu atau dua orang di sekitar saudara yang membutuhkan pertolongan).

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«