suplemenGKI.com

Mazmur 62:1-13

TETAP TENANG DI TENGAH GELOMBANG

PENGANTAR
Selama masih hidup di dunia, kita masih harus berhadapan dengan berbagai bentuk tantangan dan kesulitan. Bahkan, pada waktu-waktu tertentu, kita harus menghadapi gelombang kehidupan yang besar. Apalagi jika orang-orang yang seharusnya menjadi sahabat kita justru memusuhi dan mengkhianati kita. Harta benda dan kedudukan yang tinggi pun tidak dapat kita andalkan untuk menolong kita. Kalau demikian, masih adakah harapan bagi kita? Apa yang harus kita lakukan? Kita akan belajar dari pemazmur yang juga pernah mengalami gelombang besar dalam kehidupannya.

PEMAHAMAN
Mazmur 62 terdiri dari tiga bait (ay. 2-5, ay. 6-9, dan ay. 10-13). Di setiap bait tersebut kita dapat menemukan pengakuan iman pemazmur. Di bait 1 dan bait 2 pengakuan iman itu ditempatkan di bagian awal (ay. 2-3 dan 6-9). Di bait 3, pengakuan iman itu ditempatkan di bagian akhir (ay. 12-13). Selain pengakuan, kita juga mendapati pengalaman hidup pemazmur di bait 1 (ay. 4-5) dan bait 3 (ay. 10-11). Di bait 2, pemazmur merangkum pengalaman hidupnya itu menjadi sebuah nasihat yang penting (ay. 9). Karena itu kita akan lebih dahulu membahas bait 1 (ay. 2-5), lalu bait 3 (ay. 10-13), dan menempatkan bait 2 (ay. 6-9) sebagai puncak dari Mazmur ini.

  • Ayat 2-5. Pemazmur adalah seorang yang berkedudukan tinggi (ay. 5, lihat juga ay. 12). Menurut Anda, pengalaman hidup apakah yang diceritakannya di sini (ay. 4-5).
  • Ayat 10-13. Pengalaman hidup apakah yang diceritakannya di sini? Siapakah yang diandalkannya pada waktu itu? (ay. 10-11). Apa hubungannya dengan nasihat yang diberikannya kepada kita (ay. 9).
  • Ayat 6-9. Perhatikanlah secara khusus nasihat yang diberikan oleh pemazmur (ay. 9). Apa artinya percaya kepada Tuhan ”setiap waktu”? Dan, bagaimana kita mencurahkan isi hati kita kepada-Nya?

Sebagai seorang yang berkedudukan tinggi (seorang raja), pemazmur harus berhadapan dengan banyak musuh yang berusaha menjatuhkannya, atau bahkan menghancurkan hidupnya. Serangan dari para musuh ini terjadi justru ketika ia sedang dalam keadaan lemah, seperti tembok yang miring dan hampir roboh (ay. 4b). Serangan ini juga datang dari orang-orang dekat yang mengkhianatinya (ay. 5b). Tentu saja, ini merupakan pengalaman yang sangat pahit.

Pemazmur juga berbagi pengalamannya yang mengecewakan karena mengandalkan orang-orang di sekitarnya (ay. 10) dan harta bendanya (ay. 11). Karena itulah pemazmur memberikan nasihat kita percaya kepada Tuhan setiap waktu (artinya, dalam segala keadaan) dan mencurahkan isi hati kita (dalam doa dan hubungan yang akrab) kepada Tuhan.

REFLEKSI
Gelombang hidup yang besar, pengkhianatan oleh teman, dan berbagai bentuk krisis kehidupan seringkali justru menyadarkan kita bahwa Tuhanlah satu-satunya sumber pertolongan kita.

TEKADKU
Ya, Tuhan, berikanlah ketenangan kepadaku.  Aku akan mempercayakan seluruh hidupku kepada-Mu. Aku akan datang kepada-Mu setiap hari untuk mengungkapkan segala pergumulan hidupku.

TINDAKANKU
Aku akan menuliskan semua hal yang merupakan “gelombang besar” dalam kehidupanku menyerahkannya kepada-Nya dalam doa setiap hari.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«