suplemenGKI.com

Yohanes 10:22-30

Domba Sejati

 

Pengantar
Bacaan kita hari ini memiliki setting suasana hara raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem, di mana banyak lilin dinyalakan baik di rumah rumah maupun Bait Allah. Benderangnya hari raya Pentahbisan Bait Allah – atau yang juga disebut sebagai hari raya Hanukah – ini menandakan betapa sukacitanya bangsa Israel atas hadirnya Bait Allah di tengah-tengah mereka.

Dengan latar belakang inilah keudian orang-orang Yahudi meminta ketegasan tentang identitas Kristus. Permintaan ini ditanggapi sebaliknya. Bukannya menegaskan identitas Kristus – karena Kristus sudah menegaskan baik melalui perkataan maupun perbuatan – sebaliknya, IA menegaskan identitas domba yang sejati.

Pemahaman
- Apakah ciri-ciri dari domba yang sejati dalam bacaan kita hari ini? mengapa hal itu menjadi ciri dari domba yang sejati?
-  Apakah ciri-ciri domba yang sejati itu ada dalam hidup Saudara?

Kalau kemarin kita sudah merenungkan tentang Gembala yang sejati, maka pada hari ini kita akan merenungkan tentang domba yang sejati. Berbicara tentang kesejatian selalu berbicara tentang ciri-ciri dari kesejatian tersebut. Demikian pula halnya dengan domba yang sejati. Kristus dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang Yahudi yang datang kepada-NYA untuk mempertanyakan identitas-NYA itu sebagai kelompok yang tidak termasuk domba sejati (ay. 26). Sebab domba yang sejati memiliki beberapa ciri berikut ini.

Pertama, domba yang sejati adalah domba yang mendengar suara Gembala sejati (ay. 27a). Domba termasuk binatang yang penglihatannya kurang bagus. Pendengaran mereka lebih tajam dibandingkan penglihatan mereka. Karena itu yang lebih berperan di dalam menentukan arah perjalanan si domba adalah ia mendengar suara gembalanya, bukan melihat gembalanya.

Kedua, domba yang sejati adalah domba yang dikenal – dan tentu saja juga mengenal – Sang Gembala sejati (ay. 27b). Kata “kenal” di sini merujuk pada adanya suatu hubungan yang baik. Kedekatan hubungan itu terjadi karena seringnya interaksi antara Gembala dengan domba. Karena itu domba sejati adalah juga domba yang sering berinteraksi dengan gembalanya. Pengenalan ini pulalah yang membuat si domba mendengar suara si gembala (ciri pertama).

Ketiga, domba yang sejati adalah domba yang mengikuti Sang Gembala sejati (ay. 27 c). pada dasarnya ciri ketiga ini merupakan perwujudan dari ciri pertama dan kedua. Karena domba itu bergaul dengan gembala (ciri kedua) sehingga mengenal dan mau mendengar suara sang gembala, maka domba itu mengikuti sang gembala. Sebagai hasil dari ketaatannya ini, maka domba sejati akan mendapatkan hidup yang kekal, sama seperti seekor domba yang dibimbing ke padang rumput yang hijau dan air yang tenang.

Refleksi
Merenungkan tentang ciri-ciri domba yang sejati, patutlah kita bertanya pada diri sendiri: apakah ciri-ciri itu ada pada diri kita atau tidak? Kalau ada, seberapa kuat ciri-ciri itu nyata dalam hidup kita?

Tekad
Doa: Tuhan, tolonglah saya untuk mau mendengar suara-MU, membangun kedekatan dengan-MU, serta mau mengikut-MU. Amin.

Tindakan
Salah satu tindakan yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan tekad hari ini adalah dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk datang beribadah kepada Tuhan pada esok hari.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«