suplemenGKI.com

Markus 9:30-37.

 

Pikiran Yesus VS Pikiran Murid-Murid.

Pengantar:
Kisah seorang bapak berusia sekitar 60 tahun, dengan kondisi kurang sehat berjalan kaki menempuh perjalanan sekitar 10 mil menuju ke kota bersama dua anak bujangnya. Mereka pergi ke kota untuk mengantar bapaknya berobat ke dokter. Di sepanjang perjalanan bapaknya berpikir mungkin dia tidak akan pulang lagi, karena dia merasa penyakitnya semakin parah. Dia kemudian berkata kepada ke dua anaknya “Anak-anakku, kalau ayah tidak bisa pulang lagi, kalian harus menjaga dan perhatikan ibu dan adik-adik kalian, jangan lalaikan mereka” Namun ke dua anaknya itu justru berpikir bahwa jika memang ayahnya benar-benar tidak akan kembali bersama mereka, maka seluruh kekayaan mereka dan posisi tanggungjawab sebagai kepala keluarga akan menjadi milik mereka. Pikiran mereka sama seperti pikiran murid-murid Yesus ketika Yesus memberitahukan bahwa Dia akan menderita dan dibunuh (v.30-32)

Pemahaman:

  1. Apa yang menjadi fokus pikiran murid-murid yang bertentangan dengan pikiran Yesus?
  2. Apakah makna “menjadi terdahulu dan menjadi terakhir” pada ay. 35?
  3. Apa yang Yesus hendak ajarkan kepada murid-2 dengan mengambil contoh anak kecil?

Dalam perjalanan Yesus dengan murid-2 menuju Kapernaum, murid-2 terlibat dalam perbincangan seru. Tidak dijelaskan apa yang diperbincangkan, tetapi melalui pernyataan Yesus di ayat 35, kemungkinan ada hubungannya dengan permintaan posisi terhormat kepada Yesus (band. Mark 10:37). Sungguh ironis, di saat Yesus memberitahukan penderitaan-Nya, para murid justru memikirkan posisi, kenyamanan, ketenaran dan pementingan diri.

Respon Yesus terhadap sikap pikiran mereka adalah sebuah pengajaran yang sangat dalam, bahwa “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semua dan menjadi pelayan dari semua” Hal ini menegaskan agar para murid bersedia hidup rendah hati, melayani dan berkorban untuk orang lain. Itulah hakekat posisi yang paling tinggi dan mulia. Sama seperti Yesus, Ia rela menjadi manusia untuk menjadi pelayan bagi manusia yang berdosa, agar manusia memperoleh keselamatan.

Anak kecil adalah pribadi yang masih lemah, namun perlu diperhatikan dan dilayani. Ketika seseorang ingin menjadi besar dan terkemuka terimalah dan layanilah seorang dengan yang lain seperti ketika memperhatikan dan melayani anak kecil. Tanpa ada motivasi untuk meninggikan diri, mencari popularitas atau keuntungan pribadi.

Refleksi:
Renungkanlah, apakah selama ini kita melayani sesama dengan: ketulusan, kerendahan hati seperti Yesus telah merendahkan diri menjadi manusia bahkan sampai mati di kayu salib?

Tekad:
Mari kita berdoa supaya Tuhan Yesus menganugerahkan kepada kita pikiran seperti pikiran Kristus yang rela berkorban demi keselamatan orang lain.

Tindakan:
Saya mau belajar merendahkan hati dalam ketulusan seperti Tuhan Yesus agar dapat melayani sesama dengan rela, ketulusan dan pengorbanan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*