suplemenGKI.com

DAMPAK SALIB

Lukas 23:26-32

 

PENGANTAR
Minggu ini kita bersama-sama memasuki Minggu Palma (Minggu Palem).  Banyak orang menaruh harapan bahwa Yesus akan menjadi Mesias, Pembebas dari belenggu penjajahan Romawi.  Namun tidak lama kemudian Dia ditolak.  Bagaimana orang banyak memperlakukan Dia?  Bagaimana perjalanan salib itu berdampak bagi kehidupan?

PEMAHAMAN

Ayat 26 : Bagaimana pengalaman Simon dari Kirene dalam perjalanan penyaliban itu?

Ayat 32 : Bagaimana sikap orang-orang Yahudi dalam menyambut Sang Mesias, setelah mengelu-elukan-Nya?

Masihkah salib itu berdampak nyata dalam perubahan hidup kita?

Perikop ini memperlihatkan pemandangan yang sangat berbeda dengan peristiwa sebelumnya, saat memasuki Yerusalem banyak orang menyambut-Nya dengan pujian atas kehadiran Sang Mesias.  Namun situasi dan kondisi itu berubah.  Kali ini pemandangan berubah menjadi ratap tangis, walaupun hanya sebagian saja yang meratapi-Nya sebab sebagian besar bahkan menghujat dan memukuli-Nya.  Sang Mesias yang tadinya diakui sebagai Pembebas, sekarang dinyatakan sebagai seorang yang pantas dihukum mati.  Di saat Pilatus menetapkan pilihan: Barabas atau Yesus yang dibebaskan pada tradisi Paskah Yahudi itu, maka rakyat yang sudah dihasut oleh kemarahan sekaligus rasa takut kepada penguasa dan tawaran materi, mereka larut dalam satu terikan “Salibkan Dia”.  Hanya itu satu-satunya yang mereka kehendaki.  Bahkan ay.32 menyatakan “… ada juga digiring dua orang lain, yaitu dua penjahat untuk dihukum mati bersama-sama dengan Dia”.  Yesus disamakan dengan dua penjahat dan pantas dihukum mati.

Dalam perjalanan menuju Golgota, tempat penyaliban, Yesus terjatuh berulang kali.  Para prajurit kemudian memaksa Simon dari Kirene menggantikan memanggul salib Yesus (ay.26).  Siapakah Simon?  Seperti peziarah-peziarah lain, pada saat Paskah Yahudi itu, Simon adalah salah satu orang yang ingin melakukan ibadah di Bait Allah.  Menurut pemandangan saat itu, apa yang diperintahkan kepada Simon memang hal yang biasa.  Sebab setiap orang bisa saja diminta dengan paksa melakukan sesuatu demi kepentingan pemerintah Romawi.  Namun bagi Simon tidak biasa.  Markus 15:21 mencatat Simon adalah bapa dari Alexander dan Rufus.  Rufus kemudian di kenal di dalam perkembangan gereja di Roma sebagai seorang yang baik.  Roma 16:13 Rasul Paulus mengungkapkan rasa hormatnya kepada ibu dari Rufus, yang berarti dia adalah istri Simon dari Kirene ini.  Keluarga Simon kemudian menjadi bagian penting dari jemaat Tuhan di kota Roma.  Dalam peziarahan spiritualnya, Simon berjumpa dengan Sang Mesias justru dengan cara memikul salib.  Hal itu menjadikan keluarga Simon menjadi orang-orang yang sangat mengasihi Tuhan dan berperan penting dalam pekerjaan Tuhan di Roma.

REFLEKSI 
Mari merenungkan: sudah berulang kali kita merayakan Paskah.  Adakah salib itu berdampak bagi perubahan hidup kita untuk menjadi pribadi yang lebih mengasihi dan melayani-Nya?

TEKADKU
Tuhan tolong aku untuk lebih mengasihi dan melayani-Mu dengan tindakan yang nyata, sebagai respon dari penghayatanku akan salib-Mu yang mulia itu.

TINDAKANKU
Aku mau lebih mengasihi dan melayani-Mu dengan tindakan yang nyata melalui …… (materi, talenta, waktuku, dll) sebagai respon dari penghayatanku akan salib-Mu yang mulia itu.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«