suplemenGKI.com

Yohanes 2:5-11

 

Menantikan Tuhan Melakukan Kehendak-Nya Dengan Iman.

 

Pengantar:
            Biasanya ketika seseorang yang telah diperingatkan dengan perkataan yang cukup keras atau menusuk hati oleh pihak yang lebih berpengaruh atau lebih disegani, ia akan enggan atau takut untuk melanjutkan apa yang dikehendakinya. Contoh, seorang anak ketika ia meminta kepada ayahnya untuk melakukan apa yang dikehendakinya, namun sang ayah kemudian tidak bersedia melakukan permintaannya dengan alasan yang tepat, maka si anak tidak akan berani melanjutkan atau menunggu sang ayah melakukan apa yang dimintainya. Tetapi bagaimana dengan sikap Maria setelah permohonannya tidak segera dikabulkan oleh Yesus? 

Pemahaman:
            Sebuah kebiasaan di Israel, bahwa pesta pernikahan adalah merupakan acara besar yang bisa memakan waktu sampai tujuh hari. Tentu harus menyediakan persiapan, persediaan dan biaya yang tinggi bukan? Maka tidak semua kalangan dapat melakukannya. Hanya orang-orang kaya saja yang sanggup melakukan kebiasaan semacam itu.

Anggur adalah merupakan lambang sukacita yg menjadi unsur penting dalam pesta pernikahan dan harus disediakan dalam jumlah banyak. Namun dalam peristiwa pernikahan di Kana, pihak tuan rumah boleh jadi telah salah memprediksi tamu yang akan datang sehingga di pertengahan pesta anggurnya kehabisan. Maria yang kemungkinan ada hubungan kerabat dengan pihak penyelenggara pesta merasa bertanggungjawab terhadap kondiri tersebut. Itulah yang  membuat Maria tetap ingin berpartisipasi untuk mencari solusi dengan memerintahkan kepada para pelayan untuk menuruti apa yang akan dikatakan Yesus kepada mereka. Sikap Maria ini adalah sebuah pengharapan sekalipun sebelumnya dia baru saja diperingatkan oleh Yesus (Lih ay. 4) Maria pasti belum mengetahui apa yang akan dilakukan Yesus terkait dengan krisis yang terjadi dalam pesta itu. Maria hanya berkata “apa yang dikatakan kepadamu, bautlah itu” Menunjukan bahwa dia belum tahu mujizat apa, dalam bentuk apa yang akan dilakukan oleh Yesus. Tetapi dia hanya menanti dengan harapan bahwa Yesus pasti akan melakukan sesuatu, Maria tidak menjadi putus asa atau merasa tidak ada guna menanti apa yang akan Yesus lakukan, toh Yesus telah mengeluarkan pernyataan yang jelas bahwa waktunya belum tiba. Entah kapan waktunya tiba juga tidak bisa diprediksi. Tetapi Maria tetap memberi instruksi kepada para pelayan untuk menuruti apa saja yang akan dikatakan Yesus. Itulah sikap menanti Tuhan Yesus melakukan kehendak-Nya dengan Iman.   

Refleksi:
            Seberapa jauh kita telah sabar, gigih dan setia menantikan Tuhan melakukan kehendak-Nya dalam hidp kita? Seberapa yakin kita menanti Tuhan melakukan kehendak-Nya untuk memberi solusi dalam hidup kita? Ataukah kita menjadi mudah putus asa dan merasa percuma menanti sesuatu yang belum jelas jawabannya dari Tuhan bagi persoalan kita? Maukah kita mengambil tekad yang menunjukan bahwa kita sedang menanti Tuhan melakukan kehendak-Nya dengan iman? 

Tekadku:
            Saya mau belajar menantikan Tuhan melakukan kehendak-Nya dalam menjawab pergumulan, kerinduan dan menjamin masa depan saya dengan Iman yang tidak mudah menyerah, tidak mudah  merasa percuma, karena saya yakin Tuhan pasti sedang melakukan kehendak-Nya dalam hidup saya. 

Tindakanku:
Saya harus segera mengambil sikap untuk menanti Tuhan melakukan kehendak-Nya dengan iman dalam hidup saya sekarang dengan keyakinan bahwa saat Tuhan pasti akan tiba.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«