suplemenGKI.com

TELADAN MARIA

Lukas 1:46-56

 

PENGANTAR
Siapapun diri kita bisa saja mengalami badai kehidupan yang tiba-tiba datang tidak sesuai dengan kehendak dan harapan yang sebelumnya sudah kita rencana.  Keadaan seperti itu bisa membuat pikiran dan hati kita kalut, tertekan dan takut dalam menjalani kehidupan.  Maria pernah mengalaminya.  Namun bagaimana Maria meresponi dan menjalani pengalaman tersebut?  Mari kita renungkan!

PEMAHAMAN

  • Apa yang menjadi respons Maria melalui peristiwa yang dialaminya? (ayat 46)
  • Bagaimana Maria memahami peristiwa yang terjadi melalui dirinya? (ayat 48-49)
  • Kebenaran penting apa yang saudara pelajari dari sikap Maria yang dapat diterapkan?

Pada umumnya tidak ada seorang pun serta merta bisa menerima dan menjalani kehidupan yang berbeda dengan rancangan yang sebelumnya ia pikirkan.  Maria pun mengalami perasaan yang demikian ketika malaikat menyampaikan “kasih karunia Allah” bagi dirinya (ayat 30).  Maria “terkejut”, gentar dan takut menanggapi sapaan malaikat (ayat 29).  Bahkan terkesan ada  ketidakpercayaan, “bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (ayat 34).  Tanggapan Maria menunjukkan pergumulan tentang bagaimana ia harus menjelaskan kepada Yusuf dan masyarakat sehubungan kondisi dirinya.  Keadaan yang sama sekali di luar rancangan kehidupannya.  Apalagi Maria tahu konsekuensi dari semua keadaan itu di tengah-tengah masyarakat Yahudi.  Lalu apa yang bisa kita teladani dari sikap Maria melalui pujian yang ia lantunkan?

Pertama, sesulit apapun keadaan yang harus dijalani, Maria belajar mempercayai kebaikan Tuhan dan rancangan-Nya melalui hidupnya.  Tidak mudah memang tapi Maria belajar percaya bahwa Allah baik dengan segala perbuatan-Nya, seperti yang diungkapkan melalui pujian pengangungan kepada Allah (ayat 51-55).  Percaya juga berarti menyerahkan segala harapan dan masa depan kepada Tuhan.  Kedua, Maria belajar menjalani ‘misteri’ rancangan Tuhan sebagai bentuk kepercayaan dan ketaatannya pada Allah.  Sikap ini justru Maria lakukan ketika belum sepenuhnya memahami seperti apa masa depan yang akan ia lalui.  Maria memilih percaya dan menjalani karena Maria tahu Siapa yang ia percayai (ayat 48, 56).   Maria belajar taat bahwa kehidupan bukanlah sekadar apa yang ia mau, tetapi lebih dari pada itu adalah apa yang Allah mau untuk ia lakukan (ayat 50).

Bagaimana dengan keadaan kita hari ini?  Adakah keadaan sulit yang sedang kita hadapi? Atau adakah harapan yang seolah tertunda karena saudara gagal mencapainya?  Sesekali berhenti dan menata hati itu penting.  Sehingga kita bisa menerima dan menjalani realita hari ini di dalam keyakinan akan penyertaan Tuhan.  Belajar untuk mempercayai bukan dengan kekuatan diri, melainkan di dalam pertolongan Roh Kudus yang memampukan.  Sebab hidup bukan hanya soal rencana kita, tetapi bagaimana rencana Allah dalam diri kita.  Mari meneladani sikap Maria. 

REFLEKSI
Mari merenungkan: kehidupan bukan hanya soal rencana kita, tetapi juga tentang rencana Allah atas diri kita.  Di dalam kasih karunia-Nya, dalam keadaan apapun mari belajar percaya dan menjalani kehidupan sebab rencana Allah selalu baik dalam hidup kita. 

TEKADKU
Ya Tuhan tolonglah agar apapun yang menjadi tantangan dalam kehidupan saat ini dan nanti, aku mau tetap belajar percaya dan menjalani kehidupan sebagai bentuk ketaatanku kepada-Mu.    

TINDAKANKU
Aku mau belajar menerima realita hari ini dengan cara kembali semangat melanjutkan kehidupan bersama Tuhan.  Aku mau semangat melakukan yang bisa aku lakukan bersama Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«