suplemenGKI.com

Sikap dalam Menyongsong Rahmat Allah

Bacaan: Lukas 1:39-45

 

Pengantar

Hari ini kita memasuki Minggu Adven yang keempat. Itu berarti hari Natal, di mana kita memperingati kedatangan Kristus ke dunia, semakin dekat. Sikap hati seperti apakah yang sudah dan akan kita tunjukkan? Hari ini kita akan belajar sikap orang yang mendapatkan kunjungan Allah.

 

Pemahaman

Ay. 39-43             : Siapakah Maria, dan siapa pula Elisabet? Hal-hal apa saja yang Saudara ketahui tentang Maria dan Elisabet?

Ay. 43-45             : Bagaimana hubungan di antara kedua perempuan itu?

 

Maria dan Elisabet sesungguhnya adalah dua perempuan yang memiliki banyak perbedaan. Secara geografis mereka berbeda. Maria tinggal di sebuah desa, di daerah pegunungan, jauh dari pusat pemerintahan. Sedangkan Elisabet, tinggal di sebuah kota, di dekat pusat pemerintahan. Secara status sosial, mereka juga berbeda. Maria bukanlah sosok public figure, sedangkan Elisabet adalah istri seorang imam di Bait Allah – bukan “imam pinggiran”. Hal ini tentu saja berdampak pada status ekonomi mereka. Dapat dikatakan bahwa Maria hidup dalam ekonomi yang pas-pasan, sedangkan Elisabet hidup dalam ekonomi yang berkecukupan meski tidak dapat dikatakan berlebih. Satu hal lagi perbedaan antara Maria dan Elisabet, yaitu usia. Sementara Maria masih baru memasuki usia akil balik, Elisabet sudah memasuki masa tuanya.

Menilik hasil perbandingan perbedaan-perbedaan di atas, dapat dikatakan posisi Elisabet lebih “superior” dibandingkan Maria. Namun demikian, respon Elisabet saat menyambut kedatangan Maria sungguh luar biasa. Elisabet “berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu…” (ay. 42). Sudah jamak orang berpendapat yang “lebih superior” lebih berhak untuk mendapatkan penghormatan atau sesuatu yang lebih. Elisabet menghargai kedaulatan Tuhan yang berkenan memakai Maria sebagai ibu inkarnasi Kristus, sedangkan dirinya sebagai ibu pembuka jalan bagi Kristus. Kelak, sekitar 30 tahun kemudian, ketika ada orang yang berkomentar pelayanan putra Maria – yang notabene lebih yunior dibanding putra Elisabet – lebih sukses daripada pelayanan dibandingkan putra Elisabet itu, komentar yang muncul dari mulut Yohanes Pembaptis (sang putra Elisabet) adalah, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3:33).

 

Refleksi

Dibutuhkan kerendahan hati, menanggalkan segala yang membuat diri merasa lebih “superior” dibanding yang lain, untuk dapat menikmati rahmat Tuhan. Marilah kita memasuki masa adven kali ini dengan kerendahan hati.

 

Tekad

Doa: Tuhan Yesus, tolonglah saya untuk tetap rendah hati. Amin.

 

Tindakan

Dalam seminggu ini saya akan memberikan apresiasi kepada 3 orang yang telah dipakai Tuhan untuk melayani.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*