suplemenGKI.com

Minggu, 2 Mei 2010

01/05/2010

Yohanes 13:34-35

Mengasihi Adalah Praktek Sebagai Murid Yang Sesungguhnya

Kemarin kita ingin melihat apa yang dipraktekan oleh murid-murid setelah Yesus menyatakan bahwa Dia akan segera meninggalkan mereka. Tetapi ternyata kita tidak mendapatkanya. Hari ini Yesus mempertegas lagi secara lebih konkrit apa yang seharusnya mereka lakukan ketika nanti Yesus tidak lagi bersama-sama secara pisik dengan mereka. Yesus bahkan mengulang dengan kata-kata, apa yang telah dicontohkan-Nya dalam pasal 13:1-20. Sesungguhnya itulah tugas dan kehidupan yang sangat penting sehingga Yesus harus menjadikanya sebagai perintah yang diberikan pada saat Dia akan meninggalkan murid-murid-Nya. Yaitu perintah saling mengasihi.

Pertanyan-Pertanyaan Penuntun:

  1. Perintah saling mengasihi menjadi sangat penting justru ketika Yesus tidak ada lagi secara pisik di hadapan murid-murid, mengapa demikian? (ay. 34)
  2. Mempraktekan saling mengasihi dalam kehidupan sebagai murid adalah agar dapat menunjukan kualitas murid yang sesungguhnya, bagaimana kita konkritkan perintah itu agar selalu menjadi perintah yang baru? (ay.35)

Renungan:

Yesus menekankan bahwa kemuliaan-Nya akan terjadi karena kesediaan dan kerelan dalam mematuhi kehendak Bapa menjalani penderitaan salib bagi keselamatan manusia. Kemuliaan terjadi karena Yesus bersedia mengosongkan diri demi kasih-Nya kepada umat manusia. Ketika Yesus taat kepada Bapa, Ia dimuliakan Bapa dan Bapa dimuliakan di dalam dia. Ini sebuah hukum kemutlakan, bahwa kasih itu baru nyata ketika ada pengorbanan yang didasari oleh kerelaan untuk menjadi taat.

Kadang kita bertanya, bagaimana kita atau murid-murid bisa mengasihi seperti Yesus mengasihi kita? Anda bisa sejenak berhenti di sini untuk merenungkan “saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu” ada beberapa hal penting yang hendak dijelaskan melalui pernyataan/perintah Yesus itu:

  1. Perintah itu harus dipahami dengan memaknai kasih itu sebagai kesediaan untuk saling mempedulikan dengan dasar kerendahan hati dan memandang sesama, orang lain dan seteru sekalipun adalah sebagai objek kepedulian kita.
  2. Perintah itu mengajar kita untuk menunjukan kasih yang lahir dari sikap empati artinya bukan karena kelebihan tetapi karena keprihatinan, sehingga sekalipun tidak berlebihan tetapi tetap bisa peduli. Dengan demikian kita jauh dari pertimbangan yang selalu diukur kalau saya bisa baru peduli,  kalau tidak bisa ya tidak mau peduli.
  3. Kasih yang dilandasi hati mau menerima dan mengampuni. Dunia selalu mendasari praktek mengasihi dengan “jikalau” tetapi Tuhan Yesus mengajarkan dasar kasih dengan “walaupun” artinya jika kita mengasihi karena saya merasa dikasihi, telah dikasihi dan karena dia pantas dikasihi maka itulah sebenarnya dasar kasih duniawi. Bagi Yesus itu tidak berlaku, karena Yesus mau mengajarkan dasar kasih “walaupun” Inilah perintah yang baru, karena hanya Yesus yang mengajarkanya.
  4. Kasih yang diajarkan Yesus adalah memperlihatkan solidaritas. Memprioritaskan mereka yang tersisihkan, terabaikan dan dianggap tidak pantas dikasihi. Di sekitar kita ada begitu banyak kelompok yang demikian, merekalah yang belum pernah melihat dan belum pernah tahu kalau kita adalah murid-murid Yesus yang sejati. Mari tunjukan kepada mereka supaya mereka tahu bahwa kita murid Yesus dengan cara saling mengasihi bardasarkan “walaupun”

Saling mengasihilah kamu supaya mereka tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»