suplemenGKI.com

Minggu, 2 Juli 2017

01/07/2017

Mazmur 89:39-53

DOA PERMOHONAN DI MASA SUKAR

PENGANTAR
Bagian akhir dari Mazmur 89, yaitu ayat 39-52, menampilkan suasana yang kontras dengan  bagian sebelumnya. Jika di bagian awal pemazmur memuji kesetiaan Tuhan, di bagian akhir ini pemazmur justru mengungkapkan keluhannya karena merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Meskipun demikian, tentu saja, ada hubungan yang erat di antara keduanya. Kesetiaan Tuhan yang telah dinyatakan-Nya kepada Daud dan keturunannya menjadi landasan iman bagi doa permohonannya. Rupanya pemazmur sedang menghadapi masa-masa sukar di dalam hidupnya, dan dia ingat akan kesetiaan Tuhan kepadanya di masa lampau.

PEMAHAMAN

  • Ayat 39-46. Kesukaran dan penderitaan apa sajakah yang dialami oleh pemazmur? (ay. 39-46).
  • Ayat 47-49. Mengapa pemazmur mengalami semua itu? Dan, apa yang diharapkan oleh pemazmur dari Tuhan.
  • Ayat 50-53. Apa yang disebutkan pemazmur sebagai dasar permohonannya?

Sebagian penafsir berpendapat bahwa mazmur ini dinyanyikan sebagai doa permohonan pada waktu mereka kalah dalam peperangan, dan harus hidup dalam pembuangan. Ada beberapa istilah dalam beberapa ayat yang menunjukkan hal ini dengan jelas:  “menolak dan membuang”(ay. 39), “menajiskan mahkotanya laksana debu” (ay. 40), dan “membuat kubu-kubunya menjadi reruntuhan” (ay. 41). Karena tidak berdaya dan selalu kalah dalam peperangan (ay. 43-44), sang raja harus menanggung malu dan kehilangan tahtanya (45-46).

Pemazmur menyadari bahwa semua itu terjadi karena Tuhan sangat murka kepada mereka (ay. 47, “berkobar-kobar murka-Mu laksana api”). Tentu mereka telah berbuat kesalahan yang besar kepada Tuhan. Kesalahan itu tidak dibahas di sini karena pemazmur memang tidak berusaha membela diri atau membenarkan dirinya di hadapan Tuhan. Pemazmur hanya berharap bahwa Tuhan menghentikan murka-Nya terhadap umat-Nya (ay. 47). Sambil mengakui keterbatasannya, yaitu usianya yang relatif pendek dan ketidakmampuannya menghindar dari kematian (ay. 48-49), pemazmur memohon belas kasihan Tuhan. Berdasarkan apakah pemazmur memohon belas kasihan-Nya? Berdasarkan kasih setia Tuhan sendiri yang dulu pernah dilihat dan dialaminya sendiri (ay. 50).

Meskipun dipanjatkan dalam kesesakan, doa permohonan ini dilandasi oleh iman yang teguh, oleh seseorang yang tahu benar bahwa kesetiaan Tuhan tidak akan berubah. Karena itulah, di ujung doanya, pemazmur berkata, “Terpujilah Tuhan untuk selama-lamanya! Amin, ya amin.” (ay. 53).

REFLEKSI
Pernahkah Anda mengalami masa-masa sukar? Pada waktu itu, apa yang Anda pikirkan tentang Tuhan? Dan, apa yang Tuhan lakukan bagi Anda?

TEKADKU
Ya, Tuhan, aku bersyukur atas kesetiaan-Mu kepadaku, terutama pada waktu aku mengalami masa-masa sukar dalam hidupku.

TINDAKANKU
Aku akan bersaksi kepada minimal satu orang mengenai kesetiaan Tuhan yang tidak berubah, yang aku alami dalam kehidupanku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»