suplemenGKI.com

Minggu, 19 Sept 2021

18/09/2021

THE POWER OF WISDOM

Yakobus 3:13-18

Pengantar
Adalah sebuah keluarga bahagia. Orang tua bersama kedua anaknya yang manis hidup bersama dengan rukun dan damai. Anak-anak sangat menghormati orang tuanya dan orang tua sangat mencintai anak-anaknya. Masalah muncul justru ketika orang tua berbagi warisan kepada anak-anak. Anak bungsu mewarisi usaha milik ayahnya. Anak sulung sudah memiliki pekerjaan, maka si ayah memberikan kepadanya rumah dan tanah. Sungguh tak disangka mereka tak puas dengan keputusan si ayah. Mereka saling iri hati dan merasa ayah telah berlaku tak adil. Si ayah pun tak berkenan merevisi keputusannya. Akibatnya keluarga ini pecah, relasi antar anggota keluarga menjadi renggang, anak-anak tak saling bertegur sapa.  Sungguh menyedihkan. Tentu kita tak ingin keluarga kita mengalami masalah seperti ini. Bagaimana agar kehidupan keluarga kita penuh damai sejahtera? Marilah kita merenungkan pesan bacaan Alkitab hari ini.

Pemahaman

  • Ayat 13                 : Apakah ciri-ciri orang yang bijak dan berbudi?
  • Ayat 14-16           : Apakah ciri-ciri  hikmat dari dunia?
  • Ayat 17-18           : Apakah ciri-ciri  hikmat yang dari atas ( dari TUHAN )

Yakobus menulis suratnya untuk orang-orang Kristen Yahudi yang tersebar di perantauan. Tampaknya jemaat sedang berkonflik untuk mencari kebenaran, entah itu berkaitan dengan iman ataupun posisi dalam jemaat.  Yakobus melihat sumber konflik adalah iri hati dan memegahkan diri. Maka Yakobus  mengatakan “sebab  di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” ( ayat 16 ). Dapat dibayangkan bagaimana gereja bisa bertumbuh bila kondisi persekutuan berada dalam kekacauan seperti itu. Oleh karenanya, Yakobus mengingatkan orang-orang Kristen yang mengaku diri sebagai orang beriman agar mewujudnyatakan imannya itu dengan hidup berhikmat. Namun jangan keliru memilih hikmat sebab ada dua macam hikmat, yaitu hikmat dari dunia atau hikmat duniawi  dan hikmat dari atas (TUHAN ) atau hikmat sorgawi.  Hikmat dari dunia adalah hikmat manusia yang bersifat duniawi, lebih berfokus pada  diri manusia (egosentris), berasal dari nafsu manusia dan setan. Sedangkan hikmat dari atas adalah hikmat TUHAN yang mengatasi pikiran manusia, bersifat  sorgawi, anugerah dari TUHAN dan mengandung kebenaran Ilahi.

Tentu orang beriman perlu mewujudkan imannya dengan sikap hidup yang diinspirasikan oleh hikmat yang dari atas agar melahirkan sikap hidup yang murni dengan menjadi pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik (ayat 17). Orang beriman dipanggil hidup dalam kebenaran yang melahirkan komunitas damai. Bagaimana mewujudkan panggilan itu? Setiap saat kita perlu menyetel pikiran dan hati agar tersambung dengan kebenaran Firman TUHAN. Firman TUHAN menuntun jalan pikiran kita hingga menghasilkan sikap yang penuh hikmat sorgawi.  Hikmat yang dari atas ini memberi kuasa atau kekuatan bagi orang beriman untuk menghargai kehidupan dan kepentingan orang lain serta membangun kehidupan bersama orang lain dengan penuh damai, bukannya mengedepankan kepentingan sendiri. Kuasa hikmat memandu sikap orang beriman untuk menghasilkan buah-buah kebaikan yang membangun damai sejahtera dalam kehidupan bersama.

 

Refleksi
Dalam keheningan, renungkanlah kembali,  manakah yang lebih banyak Saudara lakukan di tengah keluarga, gereja dan masyarakat: menonjolkan kepentingan diri sendiri ataukah memperhatikan kepentingan orang lain? Di bulan keluarga ini, marilah kita berrefleksi: apakah Saudara telah membangun kehidupan keluarga dengan hikmat TUHAN?

Tekadku
Ya TUHAN, tolonglah aku setiap hari  untuk belajar mengendalikan nafsu duniawi dan tunduk pada tuntunan hikmat-Mu hingga aku dan keluargaku makin membawa damai sejahtera dan kebaikan bagi sekitar.

Tindakanku:
Sebelum menentukan keputusan dan sikap hidup, aku akan sejenak diam dalam saat hening untuk menyambungkan pikiranku dengan pikiran Firman TUHAN agar aku bisa membedakan hikmat apa yang menginsirasi pikiranku : apakah hikmat duniawi atau hikmat sorgawi? Aku akan terus berlatih mengarahkan hati dan pikiran untuk tunduk kepada kebenaran Firman TUHAN  hingga hikmat dari atas terus memandu langkah-langkah hidupku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«