suplemenGKI.com

Matius 25:14-30

Menjalankan kepercayaan dengan baik

 

Pengantar
            Pernahkah saudara memberi suatu kepercayaan kepada seseorang atau sekelompok orang, apakah itu adalah anggota keluarga saudara, rekan kerja saudara atau mungkin bawahan saudara. Ketika orang yang saudara percayakan itu melakukan seperti apa yang saudara harapkan, pasti saudara senang dan berkata orang tersebut dapat dipercaya, namun bagaimana jika orang yang diberi kepercayaan itu ternyata tidak bisa melakukan seperti yang saudara harapkan? Tentu saudara kecewa dan berkata “anda tidak dapat dipercaya”. Hari ini kita akan berjumpa dengan orang yang dapat dipercaya dan orang yang tidak dapat dipercaya, dan melihat bagaimana perlakuan tuan terhadap orang yang dapat dipercaya dan yang tidak dapat dipercaya.

Pemahaman

  1. Apakah yang hendak ditekankan dari respons masing-masing hamba dalam konteks perumpamaan tentang talenta pada Mat 25:14-30 itu?
  2. Apakah perbedaan antara hamba yang pertama dan ke dua dengan hamba ke tiga?

Perumpamaan tentang talenta, intinya berbicara tentang orang yang dapat dipercaya dan orang yang tidak dapat dipercaya. Dalam perumpamaan tersebut ada pihak tuan dan  hamba. Berbicara tentang “tuan” dan “hamba” berarti menyangkut hubungan antara pihak yang lebih tinggi dengan pihak yang lebih rendah. Sang tuan memberikan kepercayaan atau tugas kepada para hambanya. Masing-masing hamba diberikan kepercayaan untuk menjalankan uang sesuai kemampuannya . Kepada hamba pertama diberikan lima talenta, hamba ke dua dua talenta dan hamba ke tiga satu talenta. Hamba pertama dan ke dua setelah menerima talenta-talenta mereka segera pergi dan menjalankan uang tersebut dan menghasilkan masing-masing dua kali lipat (lih. V. 16-17) sedangkan hamba ke tiga, setelah menerima satu talenta dia menggali tanah dan menyimpannya di sana, sehingga tidak menghasilkan apa-apa (v. 18). Penilaian tuannya jelas, hamba pertama dan ke dua dikatakan “hai hambaku yang baik dan setia….” (v. 20-23). Sedangkan hamba ke tiga dikatakan “hamba yang jahat dan malas…” (v. 26-28) artinya tidak dapat dipercaya.

Pesan yang hendak disampaikan melalui perumpamaan talenta itu adalah: Orang yang dapat dipercaya akan semakin dipercaya, sedangkan orang yang tidak bisa dipercaya akan semakin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan. Dalam hidup kerohanian kita, ketika kita setia dan taat kepada Tuhan, maka kita akan diberi kesempatan demi kesempatan untuk melayani Dia.

Refleksi
Mari kita merenung sejenak dan bertanya dalam hati, apakah kita adalah orang-orang yang dapat dipercaya ataukah orang-orang yang justru hanya bisa mengecewakan Tuhan!

Tekad
Tuhan Yesus, bimbinglah saya agar dapat menjadi orang yang dpaat dipercaya oleh-Mu.

Tindakkan
Belajar menjadi orang yang dapat dipercaya, dengan langkah awal belajar rendah hati dan hidup berkenan kepada Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«