suplemenGKI.com

Minggu, 19 Juli 2015

18/07/2015

Markus 6:35-44

KEHADIRAN KITA BAGI SESAMA

 

PENGANTAR
Kemarin kita merenungkan bahwa Yesus tidak menolak kedatangan orang banyak yang berusaha menjumpai-Nya, walau diri-Nya sendiri membutuhkan waktu untuk beristirahat.  Hati penuh kasih itulah yang mendasari kehadiran-Nya bagi orang banyak, sehingga kehadiran-Nya dinantikan dan banyak orang merasakan kasih.

PEMAHAMAN

Ayat 35-36      : Bagaimana kehadiran murid-murid bagi orang banyak?

Ayat 37-39      : Bagaimana Yesus mengajar para murid hadir secara nyata bagi sesama?

Bagaimana kehadiran kita secara nyata bagi sesama?

Ketika Yesus mengajar orang banyak yang datang menjumpai-Nya, persoalan mulai muncul sebab hari menjelang malam dan mereka dalam keadaan lapar (ay.35).  Orang banyak itu tidak memiliki bekal yang cukup untuk mengenyangkan perut mereka yang lapar.  Begitu juga dengan para murid.  Tidak heran para murid langsung datang kepada Yesus dan berkata “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam … Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini” (ay.35b-36).  Bahkan ay.37b menyatakan “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?”  Para murid ‘memasang tembok pemisah’ antara dirinya dengan orang banyak yang membutuhkan makanan.  Seolah-olah tidak mau repot atau tidak mungkin mampu mengatasi rasa lapar yang dialami lima ribu orang tersebut.  Tetapi Yesus berkata “Kamu harus memberi mereka makan!” (ay.37).  Sikap Yesus yang welas asih sangat nampak.  Tuhan Yesus mengajar para murid agar mengusahakan tindakan untuk hadir secara nyata bagi orang banyak.

Yesus bertanya kepada para murid-Nya “berapa banyak roti yang ada padamu?  Setelah itu para murid berkata “Lima roti dan dua ikan”.  Yoh.6:9 menyatakan bahwa lima roti dan dua ikan itu didapat dari seorang anak yang rela menyerahkan bekalnya, yang tentu saja juga terbatas.  Seorang anak yang mau memberikan makanannyakepada murid-murid Yesus, bukan karena dia tidak suka.  Bukan juga karena dia tidak membutuhkan.  Yesus kemudian menengadah ke langit untuk mengucapkan berkat kepada Bapa sambil memecah-mecah makanan/roti, seperti yang biasa dilakukan orang Yahudi pada saat mereka makan.  Orang banyak duduk di padang berkelompok, dalam suasana keakraban khas Yahudi.  Yang tidak biasa adalah dari mana makanan yang mereka santap itu datang.  Allah berkehendak bagi manusia untuk beristirahat dan makan,  kini dikonkretkan kembali oleh Yesus Kristus, Sang Mesias.  Kerajaan Allah yang diberitakan-Nya juga punya keprihatinan dan perhatian terhadap kebutuhan fisik manusia, selain pemberitaan kabar keselamatan.

REFLEKSI
Mari merenungkan: Kehadiran Yesus mengusahakan tindakan konkret bagi orang banyak.  Kehadiran seorang anak yang rela menyerahkan ‘lima roti dan dua ikan’ di tangan Yesus, mampu mengatasi persoalan ‘lapar’ yang dialami banyak orang.  Dia mengajarkan para murid untuk meruntuhkan tembok pemisah dengan orang banyak yang membutuhkan pertolongan.

TEKADKU
Tuhan tolonglah aku untuk rela bertindak nyata bagi sesama.  Meruntuhkan tembok pemisah ‘keegoisan’ antara diriku dengan sesama agar kehadiran-Mu dirasakan melalui diriku.

TINDAKANKU
Hari ini aku rela memberikan ……. (barang, kue, uang, dll) kepada …… yang membutuhkan pertolongan agar menjadi kesaksian tentang Kerajaan Allah bagi sesama.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«