suplemenGKI.com

Sejak dibangun kembali oleh Yulius Kaisar pada tahun 44 sM, kota Korintus dengan cepat berkembang menjadi kota pelabuhan yang ramai.  Sebagai kota pelabuhan, Korintus menyimpan berbagai bentuk penyakit masyarakat.  Salah satunya adalah pelacuran.  Paulus menerima kabar bahwa imoralitas semakin merajalela di Korintus (5:1-5) dan rupanya sejumlah laki-laki Kristen tetap mengunjungi tempat-tempat pelacuran.  Kabar ini membuat Paulus sangat prihatin.  Lebih parah lagi, beberapa bentuk ajaran sesat yang berkembang di Korintus justru merestui perilaku amoral tersebut.  Paulus menuliskan perikop ini untuk menanggapi kondisi moral yang parah itu.

1.    Ay. 12-14.  Apa yang salah dalam cara berpikir orang-orang Korintus mengenai kebebasan?  Bagaimana Paulus mengoreksi cara berpikir tersebut?

2.    Ay. 15-18. Apa yang dikatakan Paulus tentang tubuh kita?  Bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap percabulan?

3.    Ay. 19-20.  Apa hubungan antara keselamatan kita dengan kehidupan kita sehari-hari?  Apa yang seharusnya menjadi tujuan hidup orang percaya?

4.    Renungkanlah:  Masih adakah kebiasaan buruk yang membelenggu Anda? Sejauh manakah kebiasaan buruk itu merusak kehidupan Anda?  Apa yang akan Anda lakukan untuk mengatasinya?

                                                   

Renungan:

Sikap dan tindakan yang salah berasal dari cara berpikir yang salah.  Orang-orang Korintus mengikuti cara berpikir yang salah tentang kebebasan.  Mereka memegang pendapat bahwa segala sesuatu halal.  Artinya, mereka boleh melakukan segala sesuatu, termasuk dosa-dosa seksual.  Paulus mengingatkan mereka bahwa ukuran sesungguhnya bukanlah boleh atau tidak boleh.  Masih ada pertanyaan penting sebelum kita melakukan sesuatu, yaitu: Apakah hal itu berguna?  Jika ukuran yang kita pakai hanya boleh atau tidak, kita justru akan diperbudak oleh perilaku kita sendiri.

Paulus juga mengingatkan bahwa setiap orang Kristen adalah milik Kristus.  Tubuh orang-orang yang telah ditebus adalah anggota tubuh Kristus.  Dengan demikian, sangatlah tidak pantas bila orang-orang Kristen menyerahkan tubuhnya kepada percabulan.  Melibatkan diri ke dalam percabulan akan membuat kita terikat kepada percabulan.  Padahal, seperti penegasan Paulus, percabulan adalah dosa.  Namun, yang lebih penting dari menegur dan mengecam, Paulus juga mengajarkan jalan keluarnya.  Jalan keluar terbaik agar kita tidak terikat kepada percabulan adalah dengan cara mengikatkan diri kepada Tuhan.

Di akhir perikop ini Paulus mengingatkan tentang tujuan hidup orang-orang yang telah ditebus, yaitu memuliakan Tuhan.  Dapatkah kita memuliakan Dia dengan tubuh kita? Memang, kita bukan manusia yang sempurna.  Tubuh kita juga penuh degan kelemahan.  Namun, kita tidak harus berjuang dengan kekuatan kita sendiri.  Roh Kudus yang diam di dalam hati kita akan senantiasa menolong kita untuk berpikir, bersikap dan berperilaku sebagai murid-murid Kristus.  Bersediakah Anda dipimpin oleh Roh-Nya?

 

Keselamatan dalam Kristus bukan hanya memberi jaminan pada waktu kematian Anda, melainkan juga memberi jalan bagi perubahan hidup Anda.

 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

2 Comments for this entry

  • Sinar Harahap says:

    Syalom
    Bapak/Ibu, saya sangat senang untuk di foward renungan ini, karena saya hamba Tuhan, membutuhkan artikel ini untuk khotbah Minggu 18 Jan 15
    Terimakasih GBU

  • timotius lienardy says:

    salam

    saya sangat diberkati lewat renungan ini, bagaimana saya cara mendapatkannya karena saya membutuhkannya, saya hamba tuhan. semoga ada jalan keluar untuk kebutuhan saya di atas. tuhan memberkati

    salam

    timotius

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*